
Bunga membuang muka, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Hana dengan segera. Mereka membisu sampai Kelana tiba-tiba saja keluar dari ruang kerjanya dan merasa heran. Ia melihat dua wanita itu duduk berhadapan dengan sorot mata seolah ingin saling membunuh. Untuk menghentikan dua wanita itu saling melotot, Kelana memutuskan memanggil nama sang istri.
“Hunny, bisa masuk ke ruanganku?” pinta Kelana.
Hana yang seolah tersadar pun mengalihkan tatapan dari Bunga ke Kelana, wanita itu tersenyum lebar dan berdiri. Sebelum mengekor Kelana masuk ke dalam, dia masih sempat memberi tatapan tajam ke sang adik tiri.
“Oh … ya Bunga, kalau sudah waktunya istirahat kamu pergi saja makan di kantin,” ucap Kelana sebelum menutup pintu.
“Apa?”
Bunga keheranan saat dua orang itu sudah menghilang dari pandangannya. “Apa dia mengusirku secara halus? Untuk apa mereka berdua-duaan di dalam ruangan?” gerutunya dengan rasa dongkol di dada.
_
__ADS_1
_
Waktu sudah bergulir lebih dari dua jam, Bunga heran apa yang dilakukan Hana dan Kelana di dalam sana. Dia ingin tahu tapi untuk sekadar mengetuk pintu saja tidak berani. Bunga berpikir haruskah dia berbasa-basi dengan bertanya apa Kelana butuh sesuatu? Ia menggeleng menolak pikirannya sendiri, lalu kembali mengerjakan apa yang seharusnya dia kerjakan. Tumpukan berkas yang diberikan Hana sepertinya tidak akan habis satu hari dia periksa.
Bunga agaknya lelah juga, sudah biasa hanya bermalas-malasan di rumah, kini harus duduk diam di kursi membuat pinggang dan punggungnya sakit. Wanita itu menatap pintu ruang kerja sang atasan. Sampai jam istirahat, Hana masih tidak keluar dari ruangan itu. Bunga pun memutuskan untuk turun saja ke bawah, dia berniat mengisi perut yang lapar.
Bunga duduk seorang diri, karena tidak ada seorang pun yang dikenal di perusahaan itu selain Bagas, Kelana dan Hana. Ia berusaha menyantap dan menikmati makan siang yang menunya sudah disediakan oleh pihak kantin.
Saat semua orang masih sibuk dengan kegiatan mereka sendiri sambil makan, Bagas pun masuk. Ia melihat Bunga sedang menyantap makanan seorang diri, tapi bukannya mendekat dan mengajak istrinya makan bersama, pria itu malah berpura-pura tidak tahu. Hatinya masih dongkol karena kejadian beberapa hari yang lalu. Ia ditolak melakukan hubungan badan dengan alasan yang dia tahu jelas itu bohong. Ya, Bagas hafal jadwal rutin tamu bulanan Bunga. dia tahu sang istri menipunya.
_
_
__ADS_1
Sementara itu, sejak tadi ternyata Hana tidur di sofa yang berada di ruang kerja Kelana. Wanita itu benar-benar terlelap. Pada awalnya Kelana hanya ingin membuat Bunga sebagai sekretaris barunya berpikir yang bukan-bukan, tapi pada akhirnya dia dan Hana malah benar-benar melakukan hal yang bukan-bukan, bedanya Hana tidak berani mengeluarkan desahaan karena takut didengar oleh Bunga. Ia hanya mengerang halus saat Kelana menggerayangi tubuhnya.
Hana perlahan mengerjabkan mata, bibirnya memulas senyum mendapati Kelana duduk lesehan di lantai tepat di sebelah sofa yang dia tiduri. Suaminya itu menatap dengan sorot mata memuja. Hana pun tak bisa menahan untuk tidak mencium bibir Kelana meski hanya sekilas. Ia miringkan badannya dan menutup netra kembali. Bibirnya tersenyum manis saat Kelana balas menciumnya lalu menghardik-
“Hei … Nyonya Kelana Pramudya, apa kamu pikir ini kamar hotel?”
_
_
_
Scroll ke bawah 👇
__ADS_1