
Pembantu Dinar langsung berlutut dan menyatukan tangan, dia meminta ampun karena takut jarinya akan benar-benar membusuk setelah sopir majikannya tadi menceritakan hal-hal yang menyeramkan. Pria yang sudah sepuluh tahun menjadi sopir pribadi Dinar itu berbohong dengan tujuan agar ada yang mau mengaku.
“Orang pintar yang didatangi nyonya benar-benar sakti mandraguna, bahkan pernah ada pria yang tidak mau mengaku berselingkuh dan dibawa oleh istrinya ke sana, lalu disembur lah beonya dengan air seperti yang kalian celup tadi , alhasil beonya tidak bisa ngoceh lagi.”
Menunduk dan memohon maaf, pembantu itu membuat Dinar menyeringai. Ia bersedekap lalu berdehem agar bisa mengeluarkan suara galak. Dengan tatapan tajam meski pembantunya itu tidak melihat ke arahnya, Dinar memberi perintah. Dia menunjukkan siapa yang berkuasa di sana dan tak ada yang boleh meremehkan dirinya, apa lagi menusuk keluarganya dari belakang.
“Katakan! Apa kamu yang mengambil surat perjanjian itu?” tanya Dinar.
“Sa-sa-saya tidak mengambilnya, saya hanya memungutnya dari sampah,” jawab pembantu itu.
“Memungutnya? Ah … apa kamu pikir karena itu sudah dibuang dan menjadi sampah? Tapi kenapa kamu malah membuatnya menjadi berita di akun lambe lumer? Apa kebaikanku selama ini menjadi majikan tidak membuatmu mempertimbangkan hal itu?” tanya Dinar, dinginnya AC ruangan itu serasa membuat suasana semakin mencekam. Pembantu itu terus saja menunduk ketakutan sambil memegangi ke tiga jari yang tadi dia celupkan ke air abal-abal.
“Bu-bu-bukan Nyoya, saya mana bisa mengirimnya ke akun gosip sebesar itu, sa-sa-saya …. “
“Kenapa bicaramu megap-megap seperti itu? apa kamu baru nelen biji Nangka?” sindir Dinar, dia kembali memulas senyum mengerikan di sudut bibir. “Katakan! kamu apakan surat itu sebelum tiba-tiba muncul bertambal sana sini di akun lambe lumer!”
“Itu – itu saya berikan ke Bu Tata.”
__ADS_1
Jawaban pembantu itu sama sekali tidak membuat Dinar terkejut, tapi tetap saja dia harus berlagak kaget agar lebih membuat pembantunya semakin merasa bersalah.
“Apa kamu bilang? Tata?” Dinar mengeram dan ini betulan. “Ikut aku ke rumah Tata! katakan di depan semua orang bahwa kamu yang melakukan itu, jika kamu tidak berkata jujur aku pastikan tiga jari tanganmu itu besok tinggal kenangan,” ketusnya.
Pembantu itu mengangguk dan pasrah. Ia diminta menunggu Dinar berganti baju, setelahnya mereka pergi ke rumah Tata meski jam sudah hampir menunjukkan pukul sembilan malam.
_
_
Kelana dan Hana tidak jadi makan malam romantis, mereka memilih kembali ke apartemen setelah menemui Ayu. Kini keduanya sedang duduk berdua di sofa ruang keluarga. Kelana diam, agak tak enak hati dan merasa bersalah ke istrinya. Matanya terus saja memandangi kue tart yang sudah Hana potong beberapa menit yang lalu. Sebuket bunga, beberapa kotak dan tas kertas berisi hadiah yang dia belikan juga tak luput dari pantauannya.
“Buka mulutmu … A…. “
Hana meraih kue yang baru saja dia potong lagi. Rasa manis dari kue itu dia rasa bisa mengobati suasana hati Kelana, meski sudah beberapa kali berkata tidak apa-apa, tapi suaminya tetap saja merasa bersalah karena berpikir sudah mengacaukan hari bahagianya.
Kelana tersenyum kecil lalu membuka mulut, dia menggigit kue yang disodorkan Hana dan mengangguk - mengiyakan omongan Hana yang sempat berkata kue itu sangat enak. Dengan penuh perhatian Hana mengusap sudut bibir suaminya yang belepotan krim, dia bahkan menjilaat jarinya dan tersenyum tak kalah manis dari krim kue itu, Hana berharap Kelana mau semakin melebarkan tawa.
__ADS_1
“Sayang, hari ini aku sungguh bahagia. Viralnya perjanjian kita tak sedikit pun mengurangi rasa bahagiaku. Aku senang sekali hari ini kamu memberiku kado - yang aku yakin sangat diidamkan oleh semua wanita di dunia ini, hari ini kita melihat calon anak kita bersama, dan …. “
Hana menggigit bibir bawah, pipinya bersemu mengingat apa yang dia lakukan dan Kelana sebelum menyadari huru-hara siang tadi.
“Dan apa?”
“Dan …. “
Hana berpura-pura berpikir, dia hampir saja mengatakan apa yang menggantung di lisannya tapi dering ponsel Kelana membuat kaget. Kelana mengambil benda pipih itu dari atas meja, melihat nama Rafli dia pun menggeser tombol hijau pada layar.
“Apa kamu bisa ke rumahku? Aku tidak bisa menghentikan kegilaan mamamu!” ucap Rafli dengan nada suara ketakutan.
_
_
_
__ADS_1
Scroll ke bawah 👇