Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 240 : Perjuanganku


__ADS_3

“Kamu ngelarang aku makan es krim? Kita baru saja melalui situasi panas, makan es krim bisa mendinginkan pikiran sayang.”


Hana merajuk, padahal niat Kelana baik, dia melihat seklebat sosok Amanda masuk ke toko gelato yang Hana inginkan tadi. Jelas Kelana memilih menghindar karena tidak ingin sampai terjadi perang dunia lagi.


“Kalau kita ke sana, bukannya dingin malah semakin panas Hunny,” ujar Kelana. Tak nampak niatan juga gelagat darinya untuk menghentikan, atau memutar mobil kembali ke toko gelato tadi.


Bibir Hana sudah monyong dua senti, dia kesal bahkan menghentakkan kaki. Hana merasa tak pernah merasa sekesal ini hanya karena keinginannya ditolak sang suami. Ia pun bersedekap dada kemudian berkata,”Aku marah!”


Kelana malah tertawa, istrinya itu memang tiada duanya. Mungkin hanya Hana saja wanita di dunia ini yang bisa jujur bahwa sedang marah ke suami.


Sesampainya di apartemen, Hana langsung menuju kamar. Ia melakukan atraksi ala master Sambad seorang pesulap yang sedang naik daun – tak mau bicara.


“Apa kamu tidak mau membersihkan badan dulu Hunny?”


Membisu, Kelana seperti berbicara pada manekin. Hana bahkan tak bergeser sedikit pun dari posisi. Melihat hal itu, ketar-ketir hati Kelana. Bisa-bisa dia akan kena skors tidak diberi jatah hohohehe tujuh hari tujuh malam. Kelana pun memutuskan untuk segera mandi, setelah itu pergi keluar tanpa berpamitan pada sang istri.

__ADS_1


Hana yang menyadari Kelana pergi malah semakin geram, dia menendang selimut hingga teronggok di lantai. Wanita itu duduk sambil memeluk bantal, dia benar-benar ingin es krim, air liurnya bahkan sudah beberapa kali dia telan.


“Awas saja jika besok anakmu terlahir cakep tapi ileran, aku akan berkoar-koar ke semua orang bahwa penyebabnya karena kamu tidak membelikan aku es krim seharga tiga puluh ribu.” Hana lagi-lagi menendang-nendang udara. Ia tak menyangka Kelana sangat tidak peka dengan keinginannya.


“Apa dia tidak tahu kalau aku ngidam? Ish … benar-benar.”


Namun, Hana seharusnya sadar kalau Kelana adalah suami idaman. Pria itu ternyata sengaja pergi ke supermarket untuk membeli es krim dengan ukuran literan.Tak hanya satu rasa, Kelana membeli lima rasa sekaligus karena tidak tahu mana yang Hana suka.


“Masnya jualan keliling di daerah mana?”


“Kalau tukang es krimnya ganteng dan keren seperti masnya pasti laris manis tanjung kimpul. Dagangan laris duitnya ngumpul,” imbuh ibu itu disusul tawa renyah, belum lagi setelahnya si ibu menaikkan tangan kanan sengaja memperlihatkan gelang emas seukuran rantai kapal.


“Sungguh terlalu kalau Hunny masih marah setelah ini. Dia harus tahu perjuanganku membeli es krim sampai diledek emak-emak,” gumam Kelana di dalam hati.


***

__ADS_1


Sementara Kelana pergi, Hana memilih untuk merapikan pantry. Ia menata beberapa belanjaan yang belum sempat dia rapikan pagi tadi. Sesekali matanya melirik ke arah ponsel yang dia letakkan tak jauh dari meja makan. Hana ingin menghubungi Keana untuk bertanya ke mana pria itu pergi, tapi urung karena dia masih jengkel. Hingga bel pintu apartemennya berbunyi, dada Hana tiba-tiba berdetak tak karuan, dia yakin pasti itu bukan sang suami, karena jika itu Kelana, pria itu pasti akan langsung masuk ke dalam.


“Siapa?” cicit Hana. Perlahan dia langkahkan kaki menuju depan pintu. Hana merasa aneh dan tak langsung membuka. Dia memilih mengintip dari lubang pintu.


“Bagas? Bunga? untuk apa mereka ke sini?” Hana takut, terlebih dia hanya seorang diri.


_


_


_


_


up tipis² dulu ya

__ADS_1


__ADS_2