Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 67 : Standar Operasional Prosedur


__ADS_3

Setelah sampai di perusahaan, Hana berjalan mengekor Kelana seperti sebelum-sebelumnya, tapi kali ini ada yang sedikit berbeda, pandangan karyawan yang berpapasan dengan mereka sedikit aneh, air muka mereka seolah heran kenapa Hana masih saja bekerja menjadi sekretaris Kelana, padahal sudah menjadi istrinya.


Keheranan yang dirasakan oleh para karyawan pun kini berpindah ke Hana dan Kelana. Baru saja keluar dari lift dan hendak melangkah menuju ruangan, mereka disambut oleh Bagas yang memang manager HRD di sana.


“Ada angin apa?” tanya Kelana sesaat setelah berdiri tepat di depan muka Bagas. Ia seolah pasang badan untuk melindungi Hana yang berdiri di belakangnya.


“Tidak ada angin Pak, hanya saja saya harus menyampaikan sesuatu yang penting,” jawab suami Bunga itu.


Kening Kelan pun menjadi terlipat, dia memandang curiga ke Bagas sebelum menoleh Hana yang diam-diam mencuri pandang ke arah mantan suaminya. Jelas bukan pandangan suka atau cinta, melainkan pandangan benci dan heran, kenapa pria itu tiba-tiba berada di depan ruangan Kelana. Hana bahkan menekuk bibir dan melotot seolah menghardik Bagas.


“Kamu kenapa?” tanya Kelana dan seketika Hana pun bersikap biasa.


“Tidak ini ada bulu mata,” jawab Hana sekenanya.


Respon yang diberikan Kelana pun tak terduga, dia menangkup sebelah pipi Hana dan mengecek mata wanita itu. Kelana bahkan meniup-niup seolah ingin membantu Hana mengeluarkan bulu mata itu.


“Sudah tidak apa-apa.” Hana mengedip-ngedipkan mata lantas tersenyum manis ke sang suami. Ia melihat ekspresi muka Bagas yang sedikit benci karena perhatian yang Kelana berikan.

__ADS_1


“Apa kamu bisa membuatkanku kopi?” pinta Kelana, dia menoleh Bagas kemudian kembali ke Hana lagi. “Jika bisa buatkan dua, karena Pak Bagas sepertinya ingin membicarakan sesuatu yang serius.” Kelana tersenyum dengan sudut bibir. Ia menepuk lembut lengan Hana sebelum memasukkan satu tangannya ke kantong celana dan berjalan masuk.


“Apa kamu mau terus berdiri di situ?” tanya Kelana tanpa menoleh. Pertanyaannya itu jelas ditujukan untuk Bagas.


“Apa yang akan kamu sampaikan ke Kelana?” Hana bertanya dengan nada rendah, takut-takut jika suaminya bisa mendengar.


“Aku akan bilang kamu dan aku adalah sepasang kekasih,” jawab Bagas dengan penuh percaya diri. Kini gilirannya yang heran karena Hana malah tertawa.


Ya, Bagas pikir Kelana tidak tahu bahwa wanita di depannya ini menjalin hubungan dengannya. Padahal Hana sudah jujur sejak awal dengan rencana balas dendamnya ke Bagas, bahkan menerima mantan suaminya itu sebagai kekasih pun Kelana sudah mengetahui.


Bagas melotot mendengar kalimat akhir yang diucapkan Hana sebelum wanita itu memutar tumit menuju pantry untuk membuatkan apa yang Kelana minta tadi.


Saat masuk ke dalam ruangan Kelana, Bagas melihat CEO-nya itu sudah duduk di sofa dengan tangan sibuk melepas kancing jas. Kelana meminta Bagas untuk duduk dan menjelaskan hal penting apa yang ingin dia bicarakan sampai bersusahpayah menunggunya datang.


“Anda harus mencari sekretaris baru,” ucap Bagas to the point. Keinginannya datang memang untuk menyampaikan hal ini, bukan itu membocorkan hubungannya dan Hana seperti yang dituduhkan wanita itu tadi. Bagas jelas tidak mungkin membocorkannya karena Hana berkata ingin mengeruk harta Kelana. Jika Hana kaya, dia juga akan kecipratan kekayaannya.


“Kenapa begitu?” Kelana tersenyum sinis, dia menduga Bagas pasti tidak ingin Hana berdekatan dengannya selama dua puluh empat jam penuh.

__ADS_1


“Karena ada standar operasional prosedur Pak. Anda tidak bisa memiliki sekretaris yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Anda, apa lagi ini istri sendiri. Lagi pula akan menjadi tanda tanya besar bagi seluruh karyawan nantinya. Sebagai manager HRD saya hanya ingin menyampaikan, meskipun Anda pucuk tertinggi pimpinan, tapi Anda tetap tidak diperbolehkan melanggar apa itu yang dinamakan SOP perusahaan,” ulas Bagas panjang lebar.


“Wah … kamu memang pantas menjadi manager HRD, kamu begitu jeli. Kalau begitu kenapa tidak segera kamu buka lowongan? Tanyakan pada Hana, dia memiliki kriteria sekretaris untukku,” jawab Kelana dengan santai dan berhasil membuat Bagas kaget.


Awalnya Bagas berpikir Kelana akan menolak mentah-mentah dan marah, tapi ternyata pemilik perusahaan tempatnya bekerja itu malah menyetujui ucapannya.


Kedua pria itu masih berbincang saat Hana masuk dengan membawa dua cangkir kopi di atas nampan. Hana menatap secara bergantian Kelana dan Bagas. Ia penasaran apa yang dibicarakan suami dan mantan suaminya itu, hingga Kelana mempersilahkan Bagas menyesap kopinya. Ia menjelaskan ke Hana kalau Bagas ingin mencarikan sekretaris baru untuk menggantikan posisi Hana sesegera mungkin.


“Berikan saja kriteria yang kamu tulis tadi padanya dan segera selesaikan pekerjaan yang masih menjadi tanggunganmu!”


Kelana menatap Hana yang masih berdiri, sebuah anggukan kepala Hana berikan. Ia memeluk nampan dan hendak undur diri dari ruangan, tapi Kelana tiba-tiba saja bertanya ke Bagas dan membuat pria itu mendelik dan hampir tersedak cairan hitam yang ada di dalam mulut.


“Bagas, apa kamu suka nonton video cucu kakek sugiono?”


Hana yang mendengar pun seketika menoleh, matanya melebar menatap Kelana yang malah cengegesan. Sedangkan Bagas nampak terbatuk-batuk dan menyambar tisu yang berada di meja.


“Dari mana dulu kamu belajar?” tanya Kelana lagi yang membuat mata Bagas membola. Pria itu benar-benar sedang mengerjai mantan suami Hana.

__ADS_1


__ADS_2