Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Extra Part 24 : Belanja Kebutuhan


__ADS_3

Kelana garuk-garuk kepala. Sore harinya Hana dan Dinar mengajak pergi ke sebuah toko perlengkapan ibu dan bayi. Ia sampai duduk karena kakinya terasa pegal, tapi Hana yang sedang mengadung anaknya masih lincah berjalan ke sana kemari. Kelana duduk ditemani tiga buah kereta belanja yang penuh dengan peralatan bayi pilihan istri dan mamanya.


“Astaga mau sampai berapa troli ini?” gerutu Kelana saat Hana datang dan meletakkan satu kereta belanja lagi di dekat sang suami.


“Sabar sayang, aku saja belum melihat baju tidur bayi,” ucap Hana, dia tertawa genit agar Kelana tak marah dan membiarkannya.


Hana kembali mendekat ke Dinar yang sibuk memilih baju tidur, dia sudah tahu jenis kelamin sang cucu, maka dari itu lebih mudah baginya menentukan baju dan motif apa yang pas untuk dikenakan nanti.


“Lucu yang gambar beruang Ma, aku mau yang gambar beruang saja,” ujar Hana sambil memegang sebuah jumper tutup kaki berwarna abu dengan gambar beruang putih di permukaannya. Ia membayangkan pasti sangat imut saat putranya nanti memakai baju itu.

__ADS_1


“Tapi ini juga lucu Hana, gambar zebra,” kata Dinar, dia langsung memasukkan jumper itu ke dalam keranjang. “Sudah kita beli saja dua-duanya, jadi nanti kalau ke rumah Mama, anak kamu tidak perlu bawa baju dari rumah, Mama juga akan membuat kamar tidur untuknya sendiri di rumah,” imbuhnya.


Hana hanya mengangguk, dia lantas menyentuh selembar selimut bayi dengan motif luar angkasa, bergambar roket dan juga tata surya. Wanita itu memperlihatkannya ke Dinar dan mertuanya itu pun mengacungkan jempol. Hana mencoba melihat label harga yang terpasang di baliknya, melihat nominal satu setengah juta dia mengedikkan bahu dan memasukkan selimut itu ke dalam kereta belanja. Bagi Hana sekarang uang bukan menjadi masalah baginya.


“Hana baju renang,” ucap Dinar kegirangan, calon nenek-nenek itu bahkan melebarkan baju yang dimaksud dan menggoyang-goyangkannya di depan sang menantu.


“Totalnya seratus tujuh belas juta delapan ratus dua puluh dua ribu rupiah, Pak,” ucap Kasir sesaat setelah memindai barang terakhir dari kereta belanja.


Kelana pun melongo, dia tak menyangka bahwa total belanjaan hari itu bisa dibuat DP mobil mewah incarannya. Ia menyerahkan kartu kredit ke kasir sambil menoleh Hana yang tersenyum lalu mengedip-ngedipkan mata ke arahnya. Wanita itu bahkan memberikan flying kiss bertubi-tubi pada Kelana.

__ADS_1


“Astaga, masih mau belanja?” Kelana heran saat Hana dan Dinar berbelok ke sebuah toko baju kekurangan bahan. “Mama mau cari apa? Hah?” tanyanya ke Dinar.


“Heh … meski Mama jandose tapi tetap saja kalau tidur Mama harus cantik, kamu itu.” Dinar memajukan bibirnya, sedangkan Hana hanya tertawa melihat tingkah suami dan mertuanya.


Hana sadar Kelana pasti sudah pusing karena belanjaannya tadi, bahkan dari pihak toko sampai memberikan layanan pengantaran gratis karena mereka pergi ke sana menggunakan sebuah sedan mewah, sedangkan barang-barang yang dibeli ada yang berukuran sangat besar seperti baby swing dan stroller.


“Terserah Mama,” ujar Kelana sambil memutar bola matanya malas, hingga Hana yang sadar memilih untuk mendekat ke suaminya yang duduk di depan toko. Hana menyenggol lengan Kelana dan pria itu pun hanya melirik sekilas.


“Aku boleh beli juga tidak? butuh baju perang baru,” ucap Hana.

__ADS_1


__ADS_2