Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 41 : Pingsan


__ADS_3

Bak adegan film laga, Pria arang itu bangun dengan memegangi bagian perutnya yang terkena tendangan Kelana. Ia marah, bahkan menepis tangan sang selingkuhan yang berniat membantunya bangkit.


“Kurang ajar, kenapa kamu main kasar Ha?” pekik pria itu.


“Kamu sudah mendorong dua wanita di depan mataku, bukankah pria sejati tidak akan tinggal diam melihat wanita dilukai?”


Kelana melirik ke arah dua pengawal yang hanya diam saja melihat kejadian itu. Hingga Kelana akhirnya menoleh dan menghardik. “Hei! Kerjaan kalian itu apa? untuk apa kalian membuntuti Hana sepanjang waktu jika membiarkan dia dianiaya seperti ini? aku pastikan kalian akan dipecat besok.”


Tepat setelah mengancam, sebuah tonjokan mendarat di bagian kiri pipi Kelana dari si pria arang. Hana kaget sampai mulutnya menganga, dia yang tak rela sang atasan terkena bogem mentah pun langsung menggigit tangan pria itu dalam-dalam.


Budiman dan rekan yang melihat bergegas untuk membantu, mereka menarik pria arang itu meski Hana terus menancapkan giginya bak ikan piranha.


“Apa kamu drakula?” pekik si pria peselingkuh itu.


Hana tak peduli, dia dekati Kelana dan menyentuh pipi sang atasan. Kelana menekan pipinya dengan lidah dari dalam, pria itu menyentuh sudut bibirnya yang terasa perih.


“Pak Kelana,” ucap Hana, dia merasa berdosa karena wajah tampan dan rupawan sang atasan menjadi memar karena dia.


“Kamu memang pembawa melapetaka Hana,” kata Kelana murka.


***


“Pak! apa Anda marah?”


Hana terus membuntuti Kelana yang kesal, Pria itu bahkan masuk ke ruangannya dan membanting pintu. Sebenarnya Kelana hanya resah, kenapa dia tiba-tiba merasa tak terima saat melihat Hana dilukai seperti tadi.


“Berisik!” bentak Kelana.


Seketika Hana kicep. Ia bahkan langsung lesu karena melihat Kelana seperti itu, padahal dia seharusnya sudah kebal dengan bentakan dari sang atasan.

__ADS_1


“Ambilkan aku kompres dingin, dan mintakan aku salep di klinik.”


Mendapati wajah lesu Hana, Kelana baru sadar terlalu kasar. Ia pun menurunkan nada dan memilih duduk di kursi setelah memerintah wanita itu.


Hana menelan saliva, dia tidak menyangka harinya akan seburuk ini. Ia pun memutar tumit dan pergi keluar, di koridor Hana berpapasan dengan tiga agen yang terus mengikuti, seperti ingin melampiaskan rasa kesal, Hana pun membentak ketiganya.


“Pergi kalian! Aku tidak peduli kalian memberiku kartu merah atau kartu kredit sekalipun, karena aku akan sangat bahagia jika tidak jadi menikah dengan pria galak itu,” omel Hana.


Suaranya yang lantang pun terdengar oleh Kelana, pria itu hanya bisa mengumpat dalam hati karena dikatai galak oleh sekretarisnya sendiri.


***


“Apa? wanita itu berkata bahagia jika tidak jadi menikah dengan putraku yang berharga?”


Dinar megap-megap, dia bahkan langsung mengipasi mukanya dengan telapak tangan karena ucapan Tria. Wanita dari sekolah kepribadian yang Dinar tunjuk itu baru saja menjelaskan hasil pengamatan yang dilakukan oleh Nila kemarin.


“Hah … rasa peduli yang tinggi? Untuk apa jika kelakuannya nol besar.” Dinar memalingkan muka.


“Dan apa Anda sudah tahu kalau putra Anda membela Nona Hana sampai terkena pukulan di mukanya?”


“Apa? Kelana? Terkena pukul?”


Dinar berdiri dan menggebrak meja, dia tidak bisa tinggal diam. Bergegas wanita itu menuju perusahaan untuk melihat keadaan sang putra, karena kemarin Kelana tidak pulang ke rumah dan memilih menginap di apartemen Dinar tidak tahu Kelana terluka.


***


Sementara itu, Hana sedang menjalani perang dingin dengan sang atasan. Ia mendiamkan Kelana dan tidak berbicara selain hal yang penting saja. Wanita itu memberikan berkas ke sang atasan sambil melirik bekas keunguan yang masih kentara di pipi Kelana.


Hana menerima berkas yang disodorkan sang atasan setelah dibubuhi tanda tangan, dia pun memutar badan untuk pergi, tapi di saat yang bersamaan pintu ruang kerja Kelana terbuka lebar.

__ADS_1


Hana kaget melihat Dinar yang berjalan cepat ke arahnya. Tahu kalau kemulusan pipinya terancam, Hana pun berlari dan berdiri tepat di belakang kursi Kelana.


“Sayang selamatkan aku!” ucap Hana. Ia membuat Kelana mendongak menatap heran.


“Kalau begini saja kamu baik padaku,” gumam Kelana di dalam hati.


“Hana! Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan putraku,” pekik Dinar.


Hana pun bingung harus menjawab apa, hingga entah dari mana pikiran itu bisa muncul di otak Kelana. Pria itu pun berkata,” Aku harus menikah dengan Hana, karena dia sudah hamil anakku Ma.”


“Ha-ha-hamil?”


Dinar dan Hana kompak bertanya, dan sepersekian detik kemudian Dinar terkulai dan jatuh pingsan.


"Mama!"


_


_


_


_


😜


like komen vote poin


mamacih zeyeng

__ADS_1


__ADS_2