
Hana terpaksa harus melepaskan pagutan bibir dengan sengaja. Indikator kadar oksigen di dalam paru-parunya sudah menipis. Ia sampai terengah karena Kelana terus saja memagut tanpa memberikannya waktu untuk mengambil napas. Dan bukannya merasa bersalah, pria yang masih menjadi alasnya duduk itu malah tersenyum seolah bangga dengan apa yang baru saja dilakukan.
“Kenapa menahan napas? Kamu mau mati?” Tanya Kelana dengan seringai lebar. Ia menyambar bibir Hana lagi dan kali ini berbeda dari yang tadi. Pria itu melakukannya dengan lembut, bahkan Hana tersenyum karena inilah yang dia inginkan sejak tadi – sebuah kelembutan.
Hana mulai menikmati apa yang mereka lakukan. Ia bahkan kini berani melingkarkan lengannya ke leher Kelana. Mereka bercumbu lagi masih di kursi kerja yang sama. Namun, kali ini keduanya melakukan sesuatu yang lebih. Tangan Kelana mulai meremas dada Hana yang sintal, hingga wanitanya itu memejamkan mata.
“Apa kita bisa melakukannya di sini?” tanya Kelana yang netranya sudah dipenuhi kabut hasrat ingin bercinta.
“Kalau kamu mau,” jawab Hana dengan wajah penuh kepasrahan. Ia sadar mau sekarang atau nanti tetap saja Kelana akan meminta itu darinya. Rudal pria itu sudah terasa menusuk pahanya, jelas jika tidak dibebaskan segera bisa meledak dan Hana takut meluluhlantahkan suasana hati suami sekaligus atasannya itu.
“Bagaimana mungkin aku tidak mau? aku sudah bersabar sejak lama.”
Kelana membelai pipi Hana dengan lembut, hingga wanita itu meraih dan mencium punggung tangannya mesra. Tak pernah sekalipun terpikirkan oleh Hana dia akan bisa merasakan cinta lagi dan kali ini dengan pria yang begitu hebat menurutnya. Pria yang mau menerima masa lalunya yang seorang janda.
__ADS_1
Mendapat persetujuan, Kelana pun tak segan mulai membuka kancing kemeja Hana. Ia melakukannya dengan cepat tapi tak ada kesan terburu-buru, setelahnya dia melepas kain penutup dada Hana dan melihat dua bukit gundul yang menantang. Bak menemukan harta karun, mata Kelana seperti memancarkan bintang-bintang. Tanpa perlu meminta persetujuan lagi, dia melumaat sebelah dada Hana dan meremas salah satunya. Ia benar-benar senang, memainkan dua bukit itu secara bersamaan dan membuat Hana mendesis. Istrinya sampai mendongakkan kepala dan meremas bagian belakang kepalanya. Meski agak merasa sakit, tapi apa yang dilakukan Hana malah semakin membuatnya bersemangat untuk melakukan hal yang lebih.
Kelana melepas kulumaannya dan kini menyasar leher Hana yang nampak putih, dia bahkan menghisapnya dan membuat Hana meringis. Wanita itu lagi-lagi mendesis lantas menutup lehernya yang baru saja disesap sang suami.
“Ah … merah ‘kan? bagaimana aku menutupinya saat pulang nanti?”
“Kita pulang setelah semua orang pulang,” jawab Kelana dengan santai, dia meminta Hana turun dari atas pangkuannya hanya untuk membuka celana.
“Apa kamu tidak pegal?”
Senyum Hana muncul, dia bahkan menggeser badan agar Kelana memiliki cukup ruang di bawah kakinya. Ia menggigit bibir bawah saat melihat rudal Kelana yang sudah tegang keluar dari garasi. Hana bahkan memalingkan muka dan pikirannya mulai membandingkan ukuran rudal itu dengan teripang Bagas.
“Aku sudah gila,” gumam Hana dalam hati. Matanya tak bisa lepas dari senjata yang akan membuatnya merasakan kenikmatan surga dunia itu. Hana yakin, Kelana bukan amatiran, meski suaminya bilang belum pernah melakukan itu tapi dia yakin setiap pria pasti memiliki naluri membuahi.
__ADS_1
Dan benar saja, tanpa memberi aba-aba Kelana melesatkan rudalnya ke palung marihana. Hana hanya bisa memekik tanpa bersuara, dia merasakan sensasi yang aduhai setelah tiga tahun lebih palungnya tak terjamah.
Hana dengan jelas mendengar Kelana mendesah dan mulai menghentakkan pinganggnya. Ia membiarkan pria itu menikmati tubuhnya di atas sofa kerja yang mulai berderit saat hentakan yang diberikan semakin cepat.
Mereka sadar tengah melakukan itu di mana sehingga menahan suara yang hampir melesat keluar dari bibir. Hana bahkan merasakan dirinya akan meledak karena desakan rudal Kelana. Sungguh, benar-benar akan menjadi ledakan terdahsyat jika terus seperti ini.
Hana tak bisa berkata-kata, begitu juga dengan Kelana yang merasakan sensasi diremas-remas di bawah sana. Yang mereka pikirkan hanya menikmatinya sambil mendesah tipis. Hingga pada akhirnya kenikmatan yang mereka harapkan didapatkan.
Namun, Hana heran saat Kelana melepaskan rudalnya dan malah menyemburkan lahar dingin di antara dadanya yang sintal.
“Kenapa? kenapa tidak di dalam?” tanya Hana keheranan.
“Di video begitu.”
__ADS_1
“Astaga Kelana, aku tahu kamu tidak sepolos itu.” Hana menepuk jidat kemudian tertawa geli. “Kenapa kamu mempraktikkannya sama persis?”