
“Woi!”
Teriakan seorang wanita membuat Tantri, Bunga dan juga Hana menoleh. Hana melihat seorang pria paruh baya berlari ke arahnya dan langsung berusaha membantunya untuk berdiri.
“Mama!” panggil Hana. Dia masih bersimpuh duduk di lantai parkiran, sedangkan Kelana mengernyit heran saat melihat kaca spion kanan mobilnya. Sebuah sedan mewah berwarna putih berhenti dengan pintu penumpang yang terbuka lebar.
Mencari perkara. Itu lah kata yang pantas disematkan untuk Tantri. Wanita itu menelan ludahnya yang terasa kelat saat melihat Dinar mendekat dengan raut muka emosi. Ibunda Kelana itu jelas datang untuk berbelanja juga, tak disangka saat sang sopir pribadi baru mencari tempat parkiran yang kosong, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri sang menantu didorong tadi.
“Apa yang kamu lakukan ke mantuku yang sangat berharga ini?” bentak Dinar. Hana sudah bangun dibantu sang sopir.
“A-a-aku.”
“Iya kamu, siapa lagi? jadi gagu kamu, oka … aku … oka … aku. Ibu macam apa kamu? Ha?” Dinar mendorong dada Tantri, dia melotot seolah menantang wanita itu bertengkar. “Oh … emang ibu tiri!” sarkasnya.
Bunyi klakson mobil terdengar, sang sopir pribadi pun bergegas berlari dan masuk ke dalam mobil setelah menutup pintu penumpang. Mobil majikannya menghalangi mobil lain yang akan parkir. Kelana yang sejak tadi masih diam di dalam bergegas melepas sabuk pengaman, dia tahu pria itu adalah sopir pribadi sang mama.
“Ada apa ini?” gumam Kelana yang baru menyadari bahwa sang istri terlalu lama jika hanya sekadar mengembalikan kereta belanja.
__ADS_1
“Heh … menantuku ini sedang mengandung calon cucuku yang sangat berharga. Jika sampai terjadi apa-apa dengan janin di dalam kandungannya, nyawamu buat bayar juga masih kredit belum tentu lunas,” sembur Dinar.
Kelana yang samar mendengar ucapan Dinar pun semakin berjalan cepat mendekat, bahkan satpam sudah mulai gusar dan berkoordinasi satu sama lain.
“Cu-cu-cucu?” Bunga terbata-bata, jika semakin ketakutan saat melihat Kelana mendekat dan menyentuh pundak Hana.
“Apa yang terjadi?” tanya pria itu yang tak tahu apa-apa, dia melihat rok yang dikenakan Hana sedikit kotor dan bertanya lagi,”Hunny, apa yang terjadi?”
“Nih … dia mendorong Hana, Mama lihat pakai kepala mata Mama sendiri, Eh … maksud Mama, mata kepala Mama sendiri, Mama yakin dia ingin mencelakai Hana agar terjadi sesuatu yang buruk ke bayinya.”
"Iya bayi," jawab Dinar. Ia lupa bahwa Hana pernah berkata akan memberitahu Kelana nanti.
Hana menggigit bibir bawah, dia memang belum memberitahu Kelana karena ingin memberi kejutan kehamilan ala-ala novel yang pernah dia baca, tapi harapan itu sepertinya harus pupus begitu saja karena kejadian barusan. Perlahan Hana mengangsurkan tangan ke bagian perut, dia bingung harus berkata apa ke Kelana. Suaminya itu masih menatapnya dengan tatapan heran.
“Hunny!”
“Kelana, istrimu itu hamil dan mertuamu ini yang sebentar lagi jadi man-tan mer-tu-a mendorongnya sampai jatuh terjerembab, sudah polisikan saja dia dengan tuduhan mencelakakan orang dengan sengaja.” Dinar memasang muka masam, bibirnya sudah meliuk-liuk sedangkan matanya menatap sinis Tantri.
__ADS_1
“Bu-bu-bukan begitu, aku tidak mendorong Hana. Dia tersandung, iya kan Bung?” ucap Tantri sambil menyenggol tangan putrinya.
Kelana tak mersepon, pria itu masih saja memandangi Hana yang menunduk dengan rasa bersalah, Hana belum bercerita karena memang menunggu momen yang pas.
“Hunny, kenapa kamu tidak mengatakan ini padaku?” tanya Kelana lagi.
Hana menekuri ujung flat shoes-nya, dia akhirnya berani menatap wajah Kelana, dan dengan ekspresi yang dibuat seimut mungkin wanita itu berkata –
“Surprise!”
_
_
_
Scroll ke bawah 👇
__ADS_1