
“Sayang!”
Hana yang tak sabar menunggu Kelana pulang - berdiri menatap penasaran sang suami yang bahkan belum melepaskan sepatu sepulang kerja.
“Hunny, mengagetkan saja!” Kelana memasang muka datar, dia belai pipi Hana sebelum melepas sepatu dan berjalan masuk menuju ruang tamu.
“Semua baik-baik saja, ‘kan?” Pertanyaan Hana terdengar sedikit konyol. Ia sebenarnya ingin menanyakan bagaimana nasip Bagas dan Bunga, tapi takut jika Kelana salah paham dan menganggap dirinya peduli dengan dua orang yang pernah merusak hidupnya itu.
“Mereka aku pecat, sekarang mereka pasti sedang bingung.” Kelana membalik badan, dia raih pinggang Hana agar wanitanya itu merapat. Penuh dengan perasaan cinta Kelana mengecup kening Hana. Istrinya itu pun hanya bisa memejamkan mata, merasakan aliran kasih sayang yang begitu tulus dari sang belahan jiwa.
“Tidak usah memikirkan hal yang macam-macam, aku sudah mengurus semuanya. Besok aku akan ke kantor polisi membawa preman yang dulu pernah membuatmu celaka. Aku tidak bisa membiarkan Bagas dan Bunga dengan leluasa bebas.”
Hana menganggukkan kepala, jika diminta bertanya ke hati kecilnya, dia jelas sekarang tidak tega. Namun, Hana kembali berpikir, karena kekejaman dua orang itulah takdirnya berubah seperti ini. Jika Bunga tidak merebut Bagas, dan jika Bagas setia kepadanya, jelas dia tidak akan menemukan Kelana. Namun, di sisi lain Hana juga mencoba berpikir realistis, membiarkan penjahat tak menirima hukuman jelas perbuatan keliru.
“Bagaimana harimu? Apa menyenangkan mengeksplor rumah baru?”
__ADS_1
Kelana mencoba mencari topik lain untuk dibahas, dan keputusannya sangat tepat. Hana langsung antusias menceritakan pertemuannya dengan penghuni komplek. Sambil mondar-mandir menyiapkan air mandi dan baju ganti sang suami, Hana menceritakan apa yang dilakukannya tadi.
“Anak SMA itu? akan menikah?” Kelana tak percaya dengan cerita Hana, sampai wanita itu menegaskan kembali dengan air muka serius.
“Hem … dan calon suaminya hampir seumuran denganmu, mereka selisih lima belas tahun kalau tidak salah.”
“Wah … kenapa bisa begitu?” Kelana geleng-geleng tak percaya, bahkan saat Hana mengalungkan handuk ke lehernya, mulut Kelana masih saja menganga.
“Pasti ada alasan, dia bukan dari keluarga sembarangan jadi aku yakin ada alasan yang membuat orangtuanya memilih menikahkannya dengan pria dewasa.”
_
_
“Kalian dipecat bersamaan?”
__ADS_1
Tantri melongo, mulutnya mengaga mendengar dengan ucapan Bagas dan Bunga. Pasangan suami istri itu duduk dengan lesu di sofa ruang keluarga. Berbeda dengan Bagas yang pasrah, Bunga masih saja menggebu dan merasa apa yang menimpanya ini tidak adil.
“Benar-benar!” Tantri mengepalkan tangan, dia menerka bahwa ini pasti karena Hana. “Apa kalian tidak ingin memberinya pelajaran, Ha? sekalian itu papanya.” Wanita itu mendaratkan pinggulnya ke sofa dengan amarah yang membuncah. Namun, baik anak dan menantunya sama sekali tidak ada yang merespon. Hingga setelah beberapa menit, Bunga buka suara.
“Dia bahkan mengancam akan memasukkan kami ke penjara Ma, Mama pikir mudah? Jika dulu Hana hanya sampah sekarang dia itu seperti berlian, dan dia dijaga oleh Kelana,” sewot Bunga. Ia mmbuang muka dan tanpa sadar malah menoleh ke arah Bagas.
“Lalu apa yang akan Mas Bagas lakukan sekarang? apa kita bunuh saja dia? sekalian mendekam di penjaranya, aku rela tapi dia harus mati. Aku akan lebih rela dari pada di penjara tapi Hana hidup bahagia.” Bunga berkata tanpa berpikir. Ucapannya itu tak disangkanya dianggap serius oleh Tantri.
_
_
_
_
__ADS_1
Scroll ke bawah 👇