
“Dari mana?”
Hana yang tak mendapati Kelana berada di kamar setelah keluar dari kamar mandi pun menatap curiga. Wanita itu sudah duduk bersandar pada kepala ranjang sambil meluruskan kaki.
“Mengambil ponsel,” jawab Kelana. Ia menunjukkan benda pipih di tangannya dengan senyuman lebar.
Melihat Hana yang sangat cantik, dia pun merasa senang. Dengan kekuatan penuh, Kelana melompat ke atas ranjang dan tiba-tiba saja suara patahan kayu dan Hana yang menjerit menggema di dalam kamar itu. Kaki ranjang Hana patah dan wanita itu hampir terperosok.
Mendengar suara teriakan, Bagas pun bergegas keluar kamar. Ia meninggalkan Bunga yang hendak berbaring begitu saja. Merasa ada yang janggal, Bunga pun ikut keluar. Ia mendapati Arman dan Tantri juga berada di depan pintu kamar Hana.
Keempat orang itu saling pandang, mereka bingung dan canggung harus melakukan apa. Bagas bahkan sampai menggaruk bagian belakang kepala.
“Sepertinya mereka memang sedang sibuk mencetak generasi penerus bangsa,” ucap Bagas.
Arman yang baru saja berbincang dengan Kelana pun menngeryit, dia ingin berkata ‘tidak mungkin karena Kelana saja baru naik ke atas setelah berbincang denganku' tapi Arman tidak melakukannya. Ia membiarkan saja semua orang kecuali dirinya berpikir putri dan menantunya sedang indehoi di dalam sana.
“Ya sudah, ayo kembali ke kamar,” ucap Arman. Tantri yang tadi memang sudah terlelap pun menguap. Wanita itu bahkan menggerutu karena tidurnya terganggu.
__ADS_1
“Ah … ada-ada saja, dia pikir kamarnya kedap suara.”
Bunga dan Bagas saling tatap, setelahnya Bunga memilih memutar tumit untuk kembali ke kamar mereka. Namun, baru beberapa langkah berjalan, Bunga memalingkan badan lagi. Giginya bergemerutuk menyaksikan Bagas malah mendekat ke pintu kamar Hana dan membungkuk. Suaminya itu jelas ingin menguping.
Bunga pun berjalan cepat mengahampiri Bagas, dia tarik telinga suaminya itu. Bagas sampai meminta ampun, dia mau tidak mau berjalan mengikuti Bunga dari pada telinganya putus karena terus ditarik sang istri.
_
_
“Hunny, kamu tidak apa-apa ‘kan?”
“Kamu benar-benar!” Hana nampak sebal, tapi dia tahu bahwa ranjang kamarnya memang sudah usang. Ranjang itu adalah ranjang di kamar Arman dan Tantri dulu. Karena tidak ingin ranjang yang pernah dipakai oleh sang mama ditiduri wanita lain, Hana pun meminta ranjang itu diletakkan di kamarnya.
“Aku akan menggantinya, tenang saja!” Kelana mencoba membuat Hana tak emosi. Ia bahkan meraih tangan sang istri lalu menggoyangkannya ke kanan dan kiri. “Maaf ya Hunny, aku benar-benar tidak sengaja,” imbuh Kelana.
Hana mendesah panjang, dia pun melempar pertanyaan agar Kelana ikut berpikir. “Lalu kita tidur di mana?”
__ADS_1
“Di bawah, seperti orang camping.” Kelana nyengir, dia bahkan sengaja tersenyum manis agar Hana luluh.
“Dasar!” Hana membuang muka, dia benar-benar tak bisa memarahi Kelana.
Keduanya pun bahu membahu menurunkan kasur. Hana dengan telaten menata sprei. Ia pun merebah setelah semua selesai, disusul oleh Kelana yang langsung mencurukkan kepala ke dadanya.
“Wah … enak sekali tidur lesahan,” cicit putra Dinar itu. Kelana menjauhkan muka dan melempar senyuman manis.
Hana yang memang sangat mencintai Kelana pun dibuat terpesona, hingga hanya bisa membalas perkataan suaminya itu dengan senyuman manis juga.
“Perang lesehan, sepertinya enak juga Hunny.”
_
_
_
__ADS_1
bersambung