Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 123 : Yang Penting Memuaskan


__ADS_3

Susah payah Hana dan Kelana meyakinkan Dinar bahwa mekanisme pengambilan sampel bibit itu tidak bisa dilakukan seenaknya. Pada akhirnya Hana meraih toples yang sang mertua bawa dan berkata akan dia jadikan wadah camilan saja.


Dinar pun cemberut, setengah hati dia berkata ‘iya’ tadi. Wanita itu bahkan langsung pulang setelah memastikan putranya baik-baik saja.


“Repot juga,” gerutu Kelana. Ia menoleh Hana yang sedang duduk memunggunginya di depan meja rias. Istrinya itu memegang sebuah meteran yang biasa digunakan untuk mengukur lingkar perut.


“Hunny apa yang kamu lakukan?” tanya Kelana, dia mendekat dan berdiri tepat di belakang Hana. Kelana sentuh pundak dan menekan ubun kepala sang istri dengan ujung dagu. “Apa yang kamu ukur?”


“Ukuran rudal,” jawab Hana tanpa basa-basi.


Kelana meringis, dia sambar meteran dari tangan Hana dan melemparnya jauh-jauh. “Sudah tidak perlu dibandingkan, kamu harus rela menerima bagianmu. Dan bagianmu itu ya aku,” ujar pria itu malu-malu.


Hana tertawa, dia berpikir yang diucapkan Kelana memang benar. Untuk apa juga memikirkan ukuran. Bukankah yang terpenting kepuasan? Hana pernah mendengar kalimat itu dari dokter pakar perkembangbiakan. Ya, intinya adalah memuaskan pasangan.


***

__ADS_1


“Sudah keluar hasilnya?”


Sore itu Bunga sengaja menunggu Bagas pulang kerja. Ia penasaran dengan hasil tes tertulis yang seharusnya sudah diumumkan sore tadi, tapi sepertinya diundur sampai malam.


“Hari ini Pak Kelana dan Hana tidak masuk kerja, jadi kami mengirimkan e-mail dulu untuk meminta persetujuan. Staff divisiku sudah mengontak Hana dan seharusnya tak perlu menunggu lama untuk mendapat persetujuannya,” jawab Bagas. Ia melepas sepatu dan melemparkan kaos kakinya sembarangan.


Dulu saat dia melakukan hal itu, Hana pasti akan langsung memungut dan menceramahinya. Mantan istrinya itu akan berkata ‘Mas, nanti kalau hilang sebelah. Kamu mau pakai kaos kaki belang kek Zebra satu hitam satu putih?’


Namun, tidak dengan Bunga. Ia akan membiarkan saja dan tak pernah mau memungut dan menyimpannya. Jika ada tukang bersih-bersih datang ke rumah, maka Bunga membiarkan saja tukang bersih-bersih itu membuang kaos kaki Bagas ke tempat sampah.


“Buang saja! biar suamiku beli yang baru,” jawabnya saat tukang bersih-bersih bertanya.


“Tapi aku pasti lolos ‘kan? pasti donk, nilaiku pasti nyaris sempurna,” ucap Bunga sambil membusungkan dada, dia menyombongkan diri.


“Apa kamu sudah memikirkan jawaban atas pertanyaan Pak Kelana yang ingin di sampaikan saat tes wawancara?” tanya Bagas, selain menyindir dia sejatinya juga sengaja mengingatkan Bunga. “Aku tidak bisa membantumu untuk itu, semua tergantung jawabanmu dan penilaian Hana.”

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu Bagas meninggalkan Bunga yang masih berdiri di ruang tamu. Wanita itu berpikir kemungkinan pertanyaan apa lagi yang akan ditanyakan oleh Hana padanya nanti. Jauh di lubuk hatinya, Bunga takut jika hanya akan dipermalukan oleh sang kakak tiri dalam wawancara itu.


“Bagaimana jika dia menyindir soal merebut suami wanita lain?” gumam Bunga. “Ah … mana mungkin, itu pertanyaan yang sangat bodoh dan tidak substansif.” Wanita itu menyangkal pikirannya sendiri.


"Akan aku minta mas Bagas mengajari."


Bunga mengangguk-angguk kemudian menutup pintu. Ia berjengket kaget saat Bagas berteriak dengan sangat kencang dari arah kamar mereka.


“Bunga, apa handukku belum kamu cuci?”


“Astaga aku ini istri bukan babunya, heran! kenapa Hana bisa bertahan menikah dengannya dulu.” Bunga memutar bola mata malas sebelum berjalan sambil menjawab teriakan sang suami tak kalah lantang, “Pakai saja bajumu sebagai handuk.”


_


_

__ADS_1


_


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2