
“Bukan, ini ruang kerja suamiku,” jawab Hana. Senyumnya semakin lebar saat Kelana menyentuhkan ujung hidung mereka.
“Hunny … aku lapar, ayo kita makan udon.”
Hana membuka mata, mendengar nama makanan itu wajah ngantuknya berubah segar. Hana bangun dan mengangguk berulang.
“Aku mau!”
Dengan semangat enam sembilan Hana merapikan rambut bahkan memastikan tidak ada iler di sudut bibirnya. Ia meminta Kelana bergegas bangun karena dia sudah tidak sabar untuk menikmati makanan itu.
Tanpa berpamitan pada Bunga, keduanya pun meninggalkan kantor. Hana bahkan bersenandung riang dan beberapa kali mendapat pujian dari sang suami karena suaranya yang merdu.
“Aku penyanyi kamar mandi,” ucap Hana sambil menggunakan ponsel layaknya mikrofon. Ia menggoyangkan badannya ke kiri dan ke kanan sambil menyanyi.
Kelana yang gemas hanya bisa mengacak-acak bagian atas rambut Hana, dia sangat bahagia melihat wanita yang sangat dia cintai sebahagia itu, padahal dia hanya mengajaknya untuk menikmati semangkuk udon.
_
__ADS_1
_
“Aku baru tahu ada restoran udon di sini, sepertinya aku kurang piknik,” ujar Hana. Ia tertawa sesaat setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka pergi. “Apa kamu sudah sering ke sini?” tanyanya.
“Hem .. udon adalah makanan kesukaan Amanda.”
DEG
Hana terdiam seketika, senyumnya hilang saat Kelana menyebut nama wanita yang dulu sangat dicintainya. Namun, Hana tidak ingin menunjukkan kecemburuan. Ia sendiri sadar, Kelana bahkan setiap hari harus berhadapan dan mendengar nama Bagas yang sering dia sebut.
“Oh … begitu.” Hana menunduk, dia memaksakan senyum saat Kelana memegang tangannya yang ada di atas meja. Nyeri juga hatinya mendengar nama Amanda.
“Hem … tanya saja,” jawab Kelana. Pria itu masih belum sadar bahwa dia sudah membuat istrinya tak enak hati dan seketika kehilangan napsu memakan udon.
“Apa kamu begitu mencintai Amanda?”
“Tidak,” jawab Kelana cepat.
__ADS_1
“Dulu.” Hana menatap mata Kelana dan memindai wajah pria itu lekat. Ia ingin tahu apakah suaminya itu jujur atau tidak. “Aku menanyakan perasaanmu yang dulu.”
“Apa kamu ingin jawaban yang jujur?” Kelana balik bertanya, di dalam hatinya kini jelas hanya ada nama Hana. Kelana sudah berjanji pada dirinya sendiri dan sebagai pria dewasa dia tahu bahwa sepatutnya tidak perlu berbohong tentang masa lalu.
“Sebesar apa cintamu padanya dulu?” Hana memaksakan senyum, takut juga dia semakin sakit hati mendengar jawaban Kelana
“Tidak sebesar rasa cintaku padamu sekarang, Hana kamu harus tahu seperti apa aku. Saat menjalani hubungan aku tidak pernah setengah-setengah, dan saat mencintai wanita aku akan mencintainya dengan sangat dalam, aku tidak bisa bilang akan mencintai wanita sampai mati. Toh … kita harus realistis juga. Kamu dulu juga pasti sangat mencintai Bagas, dan kamu juga harus tahu, saat menjalin hubungan dengan Amanda aku juga sangat mencintainya, menganggap dia wanita yang akan menjadi ibu anak-anakku nanti. Namun, kita tidak tahu takdir apa yang akan kita hadapi ke depannya,” jawab Kelana panjang lebar.
“Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu.” Hana tersenyum bego, dia sedang berusaha mencerna setiap kata yang Kelana ucapkan barusan.
“Setiap orang punya masa lalu, masa kini dan masa depan. Bagas dan Amanda adalah masa lalu kita, Masa kini kita adalah momen saat ini, kita bersama. Dan untuk masa depan, aku hanya bisa menjanjikan kesetiaan padamu, pembuktiannya tidak bisa aku tunjukkan sekarang, tapi jika kamu ingin melihatnya, aku mohon satu hal, kamu juga harus berjanji setia padaku.”
_
_
_
__ADS_1
Scroll ke bawah 👇