Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Extra Part 27 : Ketinggalan


__ADS_3

Beberapa Bulan Kemudian


Hana sedang berbaring di kasur, usia kandungan yang sudah menginjak umur tiga puluh tujuh minggu, membuatnya kesusahan untuk bergerak. Dia akhirnya membatasi kegiatan, sekadar jalan-jalan di pagi hari dan selebihnya dihabiskan di rumah saja.


Hana berbaring miring sambil menatap ponsel, ditatapnya foto bayi Rita yang baru saja didapatnya. Bayi Rita kini berumur sekitar dua bulanan, tampak lucu dan menggemaskan dengan pipi chubby yang tampak kenyal jika disentuh.


“Apa bayiku nanti akan seperti bayinya Rita?” Hana bertanya-tanya sendiri.


“Mana mungkin sama!” Kelana yang baru saja keluar dari kamar mandi, langsung menjawab pertanyaan sang istri.


Hana terkejut mendengar suara Kelana, kemudian menggeser posisi berbaring dengan pelan agar bisa menatap sang suami yang dipunggunginya.


“Bayi kita pasti akan lebih menggemaskan,” ucap Kelana sambil naik ke ranjang. Dia dalam posisi setengah berbaring, kemudian mengusap perut sang istri yang begitu besar.


“Ya, bayi kita akan lebih menggemaskan dari siapapun. Bahkan Papanya pun akan kalah, Papanya saat bayi tidak semenggemaskan dia nanti,” balas Hana sambil membelai rambut Kelana yang setengah basah.


Dahi Kelana berkerut karena tidak tahu kalau Hana pernah melihat foto dirinya saat bayi.


“Memangnya kamu pernah lihat foto bayiku?” tanyanya.


“Pernah, bahkan aku lihat foto bayimu saat baru saja mandi dan dalam posisi tengkurap, aku ingin sekali memukul pantatmu,” seloroh Hana saat ingat betapa menggemaskan foto Kelana saat masih bayi.


Wajah Kelana memerah menahan malu, kenapa Hana bisa melihat foto dirinya saat bayi, hingga dia menebak siapa yang memperlihatkan foto-foto itu.


“Ternyata kamu mesum, ya. Suka lihat pantat!” Kelana begitu gemas dan mencubit hidung Hana untuk menyembunyikan rasa malu.


“Ahh... Sakit!” pekik Hana sambil mencoba menyingkirkan tangan Kelana.

__ADS_1


Kelana melepas tangan dari hidung Hana, kemudian mendaratkan sebuah ciuman di kening.


“Apa kamu akan baik-baik saja hari ini kalau aku berangkat ke kantor?” tanya Kelana. Semalam Hana mengalami kontraksi palsu, tentu saja hal itu membuatnya cemas.


“Aku pasti baik-baik saja, nanti kalau ada apa-apa aku akan segera menghubungimu,” jawab Hana.


“Baiklah, aku merasa tenang jika begini.”


Kelana sebenarnya enggan pergi ke kantor karena ingin menunggui Hana di rumah, dia merasa cemas jika sampai istrinya itu tiba-tiba melahirkan. Namun, Hana berkata jika hari perkiraan lahir masih satu minggu lagi, membuat Kelana akhirnya mau pergi ke perusahaan.


“Aduh!”


Saat Kelana akan turun dari ranjang, Hana tiba-tiba merintih kesakitan, membuat pria itu membalikkan badan.


“Ada apa?” tanya Kelana.


“Kamu yakin?” tanya Kelana cemas.


“Ya--” Hana ingin menjawab tapi rasa mulasnya semakin menjadi-jadi. “Akh … ini semakin sakit.”


Kelana panik, dia turun dari ranjang tapi bingung mau berbuat apa. Sampai dia melangkah ke kanan dan kiri tapi tidak jadi, seperti orang linglung yang lupa ingin berbuat apa.


“Akh ….” Hana kembali merintih sambil memegang perut. Dia kemudian mencoba menarik napas panjang dan mengembuskan melalui mulut untuk meredakan rasa mulas dan menekan di perutnya.


“Hunny, aku harus berbuat apa?” Kelana panik sendiri, kebingungan harus bagaimana.


Hana sedang mengatur napas, tidak sempat menjawab atau menanggapi kepanikan sang suami.

__ADS_1


Kelana mengambil ponsel, hingga kemudian mendial nomor Dinar.


“Halo, Ma.” Kelana menghubungi ibunya dengan panik.


“Ada apa? Kamu ini pagi-pagi sudah teriak-teriak!” protes Dinar dari seberang panggilan.


“Ma, Hana sepertinya mau melahirkan!” Kelana kebingungan, ditatapnya sang istri yang terus mengatur napas.


“Apa? Bawa ke rumah sakit, Kelana!” teriak Dinar dari seberang panggilan karena ikut panik.


Kelana baru tersadar, benar juga kata ibunya, lantas kenapa dia malah menghubungi wanita itu.


“Oh ya, Ma. Maaf panik. Aku akan membawa Hana ke rumah sakit sekarang.”


Kelana pun mengakhiri panggilan, lantas pergi mengambil tas perlengkapan bayi yang sudah disiapkan Hana sebelumnya untuk kondisi darurat.


Hana masih terus mengatur napas, kontraksinya semakin sering dan dia merasa ada yang merembes di pakaian dalamnya.


“Hunny, kita pergi ke rumah sakit!” ajak Kelana tanpa memperhatikan sang istri karena sibuk mempersiapkan bawaan dan cemas.


“Sayang, sepertinya ketubannya merembes,” ucap Hana di tengah terjangan kontraksinya yang semakin intens.


Namun, tidak ada jawaban dari Kelana, Hana yang sejak tadi memperhatikan perutnya, lantas mendongak dan melihat sang suami sudah tidak ada di kamar. Tampaknya Kelana lupa mengajak dirinya, pria itu pasti mengira dia berjalan mengikuti.


“Sayang! Kenapa aku ditinggal?”


Kelana yang benar-benar lupa mengajak Hana, berhenti melangkah dan langsung menoleh ke belakang begitu mendengar suara sang istri berteriak.

__ADS_1


“Ya Tuhan! Kenapa aku malah lupa membawa dia!” Kelana menepuk jidat, kemudian balik lagi menuju kamar.


__ADS_2