Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 173 : Sembarangan


__ADS_3

Hana melongo tak percaya, begitu juga dengan Amanda yang ditemui oleh Bunga. Dokter itu heran karena Bunga bersikap sangat ramah. Wanita itu menjelaskan bahwa atasannya sedang tidak ada di tempat dan dia dipersilahkan mau menunggu atau meninggalkan pesan.


“Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padanya, apa mungkin kamu punya nomor rekening Kelana?”


Bunga yang tidak paham dengan ucapan Amanda pun mencoba untuk mengulik lebih dalam. Untuk apa mantan pacar meminta nomor rekening mantan pacarnya. Hal ini sungguh sangat mencurigakan.


“Nomor rekening? Maaf tapi hal seperti itu tidak bisa diberikan secara sembarangan, bagaimana kalau kamu menyalahgunakan? Bisa-bisa Pak Kelana akan kesusahan,” kata Bunga.


“Aku hanya ingin membayar hutang, aku sudah menghubungi Kelana tapi tidak dibalas, aku juga menghubungi istrinya tapi dia juga tidak membalas, awalnya dia membalas tapi entah kenapa saat aku mengirimkan pesan lagi, dia tidak mau membalas.” Amanda menceritakan semua, apa adanya ke Bunga.


“Ya dia takut kali suaminya akan kamu rebut, dia malas juga ngapain balas pesan mantan pacar suaminya. Ya kali gitu aja kamu nggak ngerti.” Bunga berbicara dengan bahasa yang tidak formal. Amanda yang memang bukan tipe orang yang reaksioner pun sampai dibuat mengerjab tak percaya.


“Begini saja, aku akan mengatur pertemuanmu dengan Pak Kelana, jadi tinggalkan saja nomor ponselmu.” Bunga menyodorkan benda pipih miliknya ke Amanda, dan tanpa berpikir macam-macam, dokter itu memberikan nomornya.

__ADS_1


Amanda pun pergi dengan tangan hampa, tapi tak disangka dia berselisih jalan dengan Kelana, saat mobilnya berbelok pergi dari gedung, Kelana baru saja masuk kembali setelah menemui Rudi Tabuti.


_


_


Kelana berjalan sambil melonggarkan dasi dan melepas kancing jas. Ia cukup kecewa dengan apa yang Rudi katakan. Namun, jika dipikir, apa yang disampaikan oleh Rudi ada benarnnya. Dia merekam pengakuan Bagas dengan cara curang, pria itu mabuk dan perkataan orang yang sedang mabuk memang tidak kuat jika dijadikan alat bukti.


Namun, beruntung. Rudi Tabuti tetap mau membantunya. Pengacara itu berkata akan mencoba mendengarkan rekaman yang dia berikan sebelum memutuskan langkah selanjutnya. Rudi pun memberikan recorder yang Kelana berikan tadi ke staffnya untuk dibuat transkripnya lebih dulu.


“Anda sudah kembali Pak, saya bahkan belum menyelesaikan satu berkas pun,” ucap Bunga saat Kelana hendak masuk ke dalam ruangan. Wanita itu sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. atau takut.


“Kamu memang tidak cekatan, lelet!” hina Kelana. “Ingat ya Bunga, kamu masih dalam masa percobaan, jika selama satu bulan ini kamu tidak bisa mengikuti ritme kerjaku maka siap-siap saja kehilangan pekerjaan ini,” ancamnya.

__ADS_1


Bunga mengangguk, dia tatap sinis pintu ruang kerja Kelana yang baru saja tertutup. Rasa benci di hatinya semakin membara karena sikap dingin pria itu. Ia pun semakin ingin membuat Kelana dan Hana berada di jurang kehancuran.


“Bagaimana kalau setelah papanya bercerai anaknnya menyusul? Bukankah itu akan membuat heboh jagat kekeluargaan?” gumam Bunga, dia tertawa sinis setelahnya kembali duduk ke kursi. Alisnya tiba-tiba bergelombang saat menyadari meja kerjanya ternyata bukan meja yang kemarin dia pakai.


“Kenapa mejaku ganti? Kenapa aku baru menyadari?” Bunga menggeser kursi, dia amati meja itu dengan seksama, sebelum menebak lagi, “Apa Hana menyimpan sesuatu di meja lama? Wah … kenapa aku tidak kepikiran? Kenapa mejaku diganti tiba-tiba? Aneh.” Bunga bertanya-tanya, dia duduk tegap lalu menunduk lagi untuk memastikan bahwa mejanya memang bukan meja yang sama.


_


_


_


Scroll ke Bawah 👇

__ADS_1


__ADS_2