Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 209 : Ingin Menghajar


__ADS_3

Dinar memegangi bagian dadanya, dia yakin bahwa sosok yang melakukan perjanjian yang tersebar di akun gosip itu adalah Kelana dan Hana. Untung wanita itu tak memiliki Riwayat penyakit jantung.


Sementara itu, Tata tersenyum sendiri, bahagia dia melihat sang kakak gelisah. Setelah beberapa menit menyandar seolah lemah tak bertenaga, Dinar kembali duduk tegap. Ia menoleh Ayu, takut ibunya itu dijemput malaikat maut karena berita ini.


“Mama!” Dinar menelan saliva, tak pernah dia takut pada Ayu seperti ini. Wanita tua itu melepas kacamata dan berdiri, membuat Dinar dan Tata saling berbalas pandang.


“Mama mau apa?” tanya Tata yang baru sadar bahwa mamanya memiliki penyakit jantung, karena ingin membalas Dinar, dia sampai tak berpikir bagaimana syoknya Ayu, dia bersyukur juga untung wanita itu tidak terkena serangan jantung.


Tak diduga, Ayu ternyata mengambil sebuah tongkat dari belakang lemari pajangan. Ia bahkan sengaja mengayunkannya seolah tongkat itu adalah stick golf. Ayu bahkan meletakkan batangan panjang itu ke pundak lalu berucap-


“Di mana anakmu itu sekarang, aku akan menghajarnya sampai babak belur.”

__ADS_1


Dinar menelan ludah lagi, tak bisa dia membayangkan sang putra kesayangan dipukuli oleh Ayu. Naluri keibuan Dinar mulai bereaksi. Ia tahan tangan sang mama sambil berkata-


“Kenapa Mama sangat yakin itu Kelana? Mama pikir pemilik nama Pramudya di negara ini hanya anakku?”


“Ya jelas bukan, tapi jelas satu-satunya sultan bernama belakang Pramudya di negara ini adalah anakmu," jawab Ayu.


"Mama! apa Mama pikir hanya orang kaya saja yang bisa melakukan perjanjian nikah seperti itu?"


"Apa kamu pikir aku buta? Aku bisa tahu dengan jelas hanya melihat tanda tangannya,” amuk Ayu. ”Bocah itu …,“ geramnya merespon sangkalan sang putri pertama.


“Heh … Tatang siantang kutang,” bentak Dinar sekata-kata. “Kenapa kamu malah mengompori Mama, apa kamu punya bukti bahwa itu Kelana dan Hana?”

__ADS_1


“Heh … Dinar kudinar bonar-bonar, tanda tangan anakmu itu semua orang juga tahu, ruwet seperti kaligrafi, siapa yang bisa memalsu?” Tata tak mau diam saja, kali ini dia berhasil membuat kakaknya kalah telak, Dinar kicep dan hanya bisa meremas udara di depan mukanya.


“Suruh sopir siapkan mobil! Aku akan datang ke kantornya,” ucap Ayu, meski sudah tua bangka tetap saja dia semangat empat lima ingin menghajar cucunya.


_


_


Siapa yang bisa menahan gejolak asmara di dalam dada? Hana dan Kelana jelas tidak akan pernah bisa, terbukti mereka tak sabar menunggu siang berganti sore lalu malam. Dua mahkluk itu kini sibuk bercumbu di ranjang kamar pribadi mereka di rumah baru itu.


Tepat seperti yang Hana bayangkan, kamar itu benar-benar mesumable. Sebuah sofa yang memang dibuat khusus untuk bercinta dengan warna marun menggoda, berada di pojok sebelah kanan ruang itu. Kamar mandi dengan sekat kaca dan bath tub besar sudah pasti akan membuat keduanya betah lama-lama bercinta.

__ADS_1


Kelana menyesap dada Hana. Ia duduk selonjoran di atas kasur dengan punggung sedikit merebah pada headboard ranjang, sedangkan istrinya itu berada di pangkuannya dan menikmati sentuhan bibir seksinya yang menyapu dada.  


"Hunny, aku janji akan hati-hati," ucap Kelana. Matanya sudah dilingkupi kabut nafsu.


__ADS_2