Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 114 : Arisan


__ADS_3

Sementara itu, Bunga yang sedang mengikuti tes terus saja tersenyum karena dia tidak perlu susah-susah berpikir dan membaca soal dengan teliti. Ia mendengarkan nasihat Bagas kemarin dan menghafalkan jawabannya. Wanita itu bisa menyelesaikan seratus soal hanya dalam beberapa menit, meski begitu dia tetap berpura-pura mengerjakan agar tidak ada yang merasa curiga.


Bunga mengingat ucapan Bagas yang memintanya untuk menyalahkan beberapa lembar soal. Ia pun menurut dengan bermian cap cip cup belalang kuncup di dalam hati untuk menentukan soal mana yang ingin dia buat salah.


"Ah... sebentar lagi aku akan menjadi wanita karier," gumam Bunga. Ia bahkan tertawa sampai teman sebelahnya merasa sedikit terganggu.


***


Hari itu, Dinar duduk dengan muka sedih. Tata dan Ayu yang berada satu meja dengannya pun sejak tadi dibuat heran dengan tingkah wanita itu - yang biasanya banyak bicara dan ceria. Sejak tadi, Dinar bahkan tidak mengeluarkan cibiran ke Tata. Jika dalam mode normal, Dinar pasti sudah bertanya dan menyindirnya dari Sabang sampai Merauke. Namun, kali ini kakak kandungnya itu diam seolah sedang memikul beban berat.


“Ayo kita kocok arisannya,” ucap Tata. Matanya bergerak-gerak menatap sang mama. Ayu hanya mengedikkan bahu, arisan bertiga di rumah nenek Kelana itu sudah menjadi rutinitas setiap minggu.


“Untuk apa dikocok? Bukankah ini putaran terakhir dan sudah jelas aku yang dapat.” Akhirnya Dinar mau buka suara. Ia mendesau sambil meraih gepokan uang di atas meja bernilai tiga ratus juta dan langsung memasukkannya ke dalam tas.


Beberapa detik kemudian, dia mengeluarkan sepuluh gepok uang pecahan seratus ribuan itu ke atas meja dan berucap lagi,” Ayo kita arisan lagi, tidak perlu menunggu minggu depan.”

__ADS_1


Tata dan Ayu semakin bingung, meski arisan itu memang hanya untuk pancingan agar mereka berkumpul tapi tidak begini juga caranya. Tata bahkan tidak membawa uang tunai lagi.


“Heh …. Minggu depan masih bisa,” tolak Tata. Entah kenapa dia berharap sang kakak marah atau berteriak kepadanya, tapi lagi-lagi dia harus garuk-garuk kepala karena Dinar hanya mengangguk sambil berkata.


“Ya sudah!”


Ayu pun merasa ada yang janggal, dia bertanya ke Dinar apa ada masalah yang sedang dia pikirkan sampai-sampai bermuram durja seperti itu. Bahkan menjadi pendiam dan tak secerewet biasanya.


“Tidak! aku tidak apa-apa, hanya memikirkan Kelana saja,” jawab Dinar.


Dinar hanya menggeleng, tidak mungkin juga dia bercerita ke adik sekaligus musuh bebuyutannya itu.


_


_

__ADS_1


“Tahu seperti ini aku akan meminta konsultasi pribadi dengan dokter,” ucap Kelana yang duduk bersisian dengan Hana. Pria itu meminta duduk di paling pojok karena merasa kurang nyaman. Ia bahkan menyesal, seharusnya dia memakai masker tadi.


“Bayangkan jika sampai ada yang melihat, mengambil gambar dan menyebarkannya ke luar. Kelana Pramudya pergi ke dokter andrologi. Pasti orang-orang berpikir aku ejakulasi dini.”


Hana tertawa, dia senggol lengan suaminya agar tidak berpikiran macam-macam seperti itu. “Tidak semua orang yang pergi ke sini bermasalah, mereka bisa saja melakukan hal yang sama seperti kita. Ingin segera memiliki anak,” jawab Hana.


Melihat sekeliling, Hana mendapati semua pasangan suami istri yang sedang menunggu giliran pemeriksaan seperti saling support satu sama lain. Mereke berbincang, hanya dia dan Kelana lah yang duduk menyendiri, suaminya itu bahkan menyembunyikan mukanya dengan terus menunduk.


“Yakin saja kalau kamu tidak memiliki masalah kesuburan, jika pun ada masalah pasti ada solusinya. Jika dokter tidak bisa menyembuhkan tenang saja sayang, masih ada mak perot,” ucap Hana dengan air muka serius.


_


_


_

__ADS_1


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2