
“Hari ini aku tidak ingin ke kantor, aku mau ke rumah mama.”
Kelana yang baru keluar dari kamar mandi bingung dengan permintaan izin Hana. Mungkinkah istrinya itu menghindari pertemuan dengan kandidat sekretarisnya?
“Kenapa? apa ada yang ingin kamu lakukan?” Kelana mendekat, dia menyerahkan handuk kecil di tangannya lalu duduk di tepian ranjang. Hana jelas tahu apa yang diinginkan suaminya itu. Kelana memintanya membantu mengeringkan rambut.
Dengan lembut Hana pun mulai mengusapkan handuk ke kepala Kelana dan menjawab pertanyaan pria itu, “Aku ingin menghibur Mama yang patah hati karena kalah dari adiknya.”
“Cih … perhatian sekali kamu jadi mantu.”
“Karena dia sudah merelakan putra tunggalnya menikah dengan wanita sepertiku, sudah seharusnya aku berbuat baik padanya,” jawab Hana. Ia menghentikan gerakan tangannya saat dirasa rambut Kelana sudah cukup kering.
“Kamu masih sama, selalu minder dengan statusmu. Padahal aku tidak pernah mempemasalahkan itu.” Kelana meraih tangan Hana. Ia melihat masih ada gurat ketidakpercayaan diri di mata wanitanya.
“Aku tahu, maka dari itu aku sangat mencintaimu, karena kamu sangat sempurna,” puji Hana. Ia mendaratkan sebuah kecupan di bibir Kelana yang terasa sedikit dingin lalu berlari menjauh, akan panjang urusannya jika pria itu berhasil mencekal tangannya.
__ADS_1
_
_
“Hem … mau apa ke sini?” ketus Dinar saat Hana duduk di depannya yang sibuk merangkai bunga.
Meski sedikit ketus tapi tidak ada rasa kesal di hati Hana, dia sudah terbiasa dengan gaya bicara sang mertua, bahkan sudah kebal rasanya sampai-sampai saat Dinar berbicara seperti itu, dia malah menyunggingkan senyum.
“Ma, kapan ada acara lelang lagi? aku mau ikut, aku mau beli ramuan itu, Mak War,” ucap Hana setelahnya tertawa.
Dinar yang hampir menggunting tangkai mawar merah di tangannya pun seketika urung. Ia melihat Hana yang cengegesan dan entah kenapa bibirnya tak bisa untuk tidak tersenyum karena tingkah sang menantu.
“Aku memakainya secolek kok Ma, tapi ‘kan pakainya hampir setiap hari. Bahkan aku memakainya saat berangkat kerja.” Keceplosan, Hana seketika merapatkan bibir. Ia berdoa semoga Dinar tidak mendengar kata-katanya yang paling akhir.
“Apa? kamu memakainya saat bekerja? Jangan-jangan kamu …. “
__ADS_1
“Maaf Ma, aku memang masih bekerja menjadi sekretaris suamiku, tapi tenang saja hari ini ada perekrutan sekretaris baru, ada tes tertulis di perusahaan hari ini,” jelas Hana. Ia tidak ingin kena semprot sang mertua.
“Bukan itu Hana, maksudku apa kamu dan Kelana jangan-jangan juga melakukan hohohehe di kantor?” tanya Dinar.
Hana tak langsung menjawab. Matanya hanya mengedip berharap Dinar bisa menemukan jawaban dari gesture yang dia perlihatkan. Namun, mertuanya itu tidak mau menerka dan menunggu sampai dia menjawab ‘iya’ atau ‘tidak’.
“Hana … “ panggil Dinar.
“Hem … sayangnya iya Ma, putra Mama sedang dalam masa perkembangbiakan jadi Mama sudah tahu lah apa yang terjadi,” jawab Hana.
“Lalu kenapa kamu tidak hamil-hamil juga? Kalau kamu tidak ada masalah dalam kesuburan, jangan-jangan Kelana?” Dinar terjebak dalam pikirannya sendiri. Ia bahkan sampai menjatuhkan gunting dari tangannya ke atas meja. “Kelanaku … di-di-di-dia tidak mungkin mandolin kan?” tanyanya terbata-bata
“Mandul maksud Mama?”
_
__ADS_1
_
Scroll ke bawah 👇