
Hana menoleh suaminya, Kelana menekuk lengan ke depan dada dan tersenyum miring ke arah Bunga seolah sengaja membuat kedok adik tiri istrinya itu terbongkar.
“A-a-apa? omegot … omegot.”
Dewi sampai tak bisa berkata-kata, dia seketika sungkan dan bungkam. Bukan ke Bunga, tapi ke Hana dan Kelana. Fakta mencengangkan ini benar-benar merupakan fakta yang lebih menggemparkan melebihi skandal artis papan penggilesan.
Bunga menatap Kelana dengan sorot tidak suka, dia merasa bahwa atasan sekaligus iparnya itu memang sengaja membeberkan tentang rumitnya jalinan cerita antara mereka.
“Bu Hana, hati-hati ya, sekali pelakor tetap pelakor,” sindir Afy. Kini gadis itu menjadi sasaran tatapan Bunga.
“Waduh … jangan sampai donk Fy, masa suamiku direbut dua kali oleh orang yang sama.” Hana malah menimpali lalu tertawa.
Bunga makin tak berkutik, dia merasa dijadikan bulan-bulanan tapi Bagas malah dengan santainya bermain ponsel, padahal Bunga yakin suaminya itu mendengar tentang perbincangan itu.
Ini lah yang harus dipertimbangkan para mahkluk bernama wanita jika memiliki niat mendekati suami orang. Semua kesalahan pasti akan ditujukan pada mereka terlebih dulu, meski sebenarnya keberhasilan pelakor ditentukan juga oleh tingkat kesetian suami, dan Bagas jelas bukan tipe suami setia.
_
_
__ADS_1
“Lihat akhirnya kita bisa sampai juga meski kamu tadi berprasangka buruk bus ini akan melorot,” cibir Dewi lagi. Meski kini sudah tahu kalau Bunga adalah istri atasannya, tapi tetap saja bagi Dewi wanita itu pelakor dan Bagas juga sama, sifat mereka pasti kurang lebih juga sama.
Bunga membiarkan saja, dia memasukkan ocehan Dewi ke telinga kiri dan langsung keluar dari telinga kanan. Kali ini, masih sama seperti saat di Prambanan tadi, Bunga juga enggan untuk berjalan-jalan, dia memilih ‘ngadem’. Duduk di sebuah kedai kecil lagi dan memesan segelas es dawet.
“Apa? pergi sana!”
Sembur Bunga saat Bagas mendekati dan duduk di bangku tepat di sampingnya. “Puas kamu aku disebut …. “
Bunga tak meneruskan kata-kata, tempat itu ramai dan dia tidak ingin identitasnya sebagai adik tiri yang mencuri suami kakak tirinya terbongkar, lalu menjadi cerita orang-orang yang mendengar setelah pulang dari Tebing Breksi.
“Astaga galak banget, sudah biarkan saja ‘kan itu memang fakta,” ucap Bagas dengan enteng. Bunga yang sedang menyendok gumpalan kenyal berbahan tepung beras itu pun hampir tersedak.
Perumpamaan Bunga itu pun dibalas suaminya dengan ucapan yang mencengangkan. Bagas berkata, “Jika aku tahu kamu ikan, aku jelas tidak akan mau karena amis.”
***
“Kamu tidak tersinggung ‘kan dengan ucapan tadi?” tanya Kelana. Ia dan Hana duduk bersisian melihat pemandangan hijau dan siluet gunung Merapi dari atas tebing.
“Soal yang aku mantan istri Bagas dan dia direbut Bunga?” Hana perlahan menolehkan kepala, dia memulas senyum dan mencubit hidung Kelana mendapati sang suami yang menatapnya lekat dari samping.
__ADS_1
“Tidak, mau sampai kapan disembunyikan? Jika pun orang-orang tahu aku diceraikan karena gendut, aku tidak akan tersinggung. Karena memang begitu adanya. Ia meninggalkanku karena ada wanita yang berpenampilan jauh lebih menarik dariku.”
Kelana terdiam, dia masih memindai wajah Hana dari samping. Wanitanya itu sudah kembali memusatkan pandangan ke depan, rambutnya tertiup angin dan Kelana memilih untuk menyatukannya ke arah samping.
“Dan mungkin kehilangan bayiku juga satu bentuk cara takdir menyelamatkanku dari suami yang tidak setia seperti dia, bayangkan jika saat itu aku hamil dan dia tetap berselingkuh dengan Bunga, Wah … tidak bisa aku bayangkan jatuhnya mentalku dan juga kesehatan bayi yang sedang tumbuh di rahimku.”
Meski terdengar sudah tak menyesal dan tegar, tapi Kelana tahu kalau Hana tetap menyimpan lara. Bagaimana pun situasinya, jelas tidak ada calon ibu yang rela kehilangan calon anaknya.
“Jadi apa mau masih ingin membalas mereka karena menghilangkan nyawa anakmu?”
_
_
_
Scroll ke bawah 👇
__ADS_1