
Pagi itu semua staff perusahaan Kelana ribut, kegaduhan terjadi karena berita pernikahan CEO mereka yang sudah tersebar luas. Bahkan beberapa sudah menemukan informasi, bagaimana bentuk undangan mereka dan di mana acara resepsi pernikahan itu akan berlangsung.
Seperti biasa, hari itu setelah selesai rapat Hana mengekor Kelana berjalan kembali ke ruangannya. Namun, ada yang sedikit berbeda, yaitu tatapan orang-orang yang berpapasan dengannya, mereka mulai nampak aneh, ada yang tersenyum ramah, tapi ada juga yang seolah mencibir Hana.
Para staff wanita yang mengidolakan Kelana pun sampai kepo dan mencari-cari status Hana, mereka semakin kejang-kejang saat tahu Hana adalah janda.
Menutupi statusnya yang pernah menikah dengan Hana, Bagas ikut menelinga curahan hati staffnya yang masih single, mereka menyayangkan kenapa bisa suami Hana menceraikan wanita itu, sehingga kini CEO mereka menjadi jodohnya.
“Ya mungkin ada masalah yang membuat mereka harus bercerai, pikir saja bagaimana kalau suaminya itu Pak Bagas, apa kamu mau diselingkuhi?”
Bagas manyun mendengar ucapan staffnya, dia pura-pura tak mendengar dan fokus dengan apa yang dilakukan yaitu berpura-pura mencari dokumen di rak berkas.
Bagas tidak tersinggung dan bersikap masa bodoh, lagi pula dia dan Hana sedang menjalin hubungan. Pria itu malah tersenyum sendiri, mungkin berselingkuh adalah hobi, penyakit yang tidak bisa hilang dari diri Bagas.
***
“Kenapa mereka ada di sini lagi?” gerutu Hana.
Kelana seketika berhenti melangkah, dia tatap Nila dan dua pengawal yang berdiri tak jauh dari meja kerja Hana.
“Apa mereka masih ada urusan denganmu?” tanya Kelana tanpa menoleh.
“Seharusnya saya yang bertanya, bukankah mereka dikirim oleh Bu Dinar?” Hana cemberut, dia bahkan mendahului Kelana untuk mendekat dan bertanya ke Nila untuk apa dia berada di sana.
“Karena mustahil merubah perilaku Anda dalam waktu semalam, jadi Bu Dinar meminta saya untuk menjadi asisten Anda,” ucap Nila dengan sopan.
“Apa?” Hana melongo, dia membuang muka dan tertawa ironi. Apa ini berarti sekretaris memiliki sekretaris lagi, apa begitu maksudnya?
“Aneh,” ucap Hana masih terkekeh tak percaya.
Sementara itu Kelana memilih bersikap tak peduli, dia masuk ke ruangannya dan membuat Hana menaikkan ke dua alis mata.
“Apa dia tidak peduli dengan apa yang terjadi ke aku?” tanya Hana ke dirinya sendiri.
__ADS_1
Di dalam ruangannya Kelana duduk diam sejenak, sampai matanya menoleh ke samping kanan di mana dia menyimpan dokumen kesepakatannya dan Hana di sana. Tangannya perlahan mengulur untuk membuka. Sebuah amplop berwarna cokelat berukuran folio yang tertumpuk di bagian agak bawah menjadi perhatiannya. Kelana membuka amplop itu dan melihat halaman terakhir di mana tandatangannya dan Hana terbubuh.
“Untuk apa aku membuat ini, jika dia sampai kabur dan menyalahi perjanjian, apa yang bisa aku lakukan? Menuntutnya dengan ganti rugi sesuai nominal yang tertera di sini? bukankah itu akan membuat malu diriku sendiri? Ah … jika dia berani menyalahi kontrak, apa aku bunuh saja dan mengecor mayatnya di belakang lemari?”
Kelana berbicara sendiri, sebenarnya hanya ketakutan jika sampai Hana meninggalkannya di tengah jalan. Bukan kah wanita itu sudah menjalin hubungan dengan sang mantan lagi?
“Sial suami macam apa yang membiarkan istrinya berselingkuh dengan terang-terangan?” tanya Kelana.
“Suami sepertimu!”
Kelana terjingkat kaget, dia bahkan mendorong meja hingga kursinya menjauh. Ia tiba-tiba merinding, siapa yang menjawab pertanyaannya barusan. Pria itu memutar kepala dan seketika takut untuk melihat lemari yang diceritakan Hana di mana ada mba Kunti di sana.
“Hana! Hana!” teriak Kelana dengan suara kencang.
Hana yang masih berbicara dengan Nila pun sampai kaget dan berlari masuk ke dalam ruangan Kelana.
“Iya Pak! ada masalah?”
Kelana nampak berdiri membelakangi lemari berada, sikapnya membuat Hana heran, terlebih pria itu lupa memasukkan lagi lembaran dokumen kontraknya.
“Tolong singkirkan lemari itu dari ruanganku sekarang juga!” titah Kelana.
“Lha … kenapa Pak? bukankah lemari itu …. “
“Singkirkan! Apa kamu akan tarus membantah perintahku?” bentak Kelana.
Hana pun membuang napas panjang dari mulut, dia meminta Kelana menyimpan amplop berisi kontrak mereka, sebelum keluar untuk meminta dua pengawal yang datang bersama Nila memindahkan lemari itu.
“Apa Anda baru saja melihat penampakan?” Hana menggoda.
Kelana tak menjawab, dia hanya memberikan tatapan sinis ke Hana yang malah meledeknya, dia tidak mungkin bilang bahwa mendengar ada suara yang menjawab pertanyaannya tadi. Padahal sebenarnya suara jawaban itu berasal dari pikiran Kelana sendiri. Pria itu terlalu stress, mungkinkah dia stress gara-gara Hana?
***
__ADS_1
Seharian Kelana tak bersikap seperti biasa, hal ini tiba-tiba saja membuat Hana kepikiran juga. Ia membayangkan saat acara pernikahannya nanti, Kelana tiba-tiba saja berubah pikiran dan kabur. Betapa malunya dia dan betapa bahagianya pasti Tantri dan Bunga.
Pundak Hana meluruh, dia berjalan lemah keluar dari lift sore itu, hingga saat berada di koridor sebuah tangan menariknya dan Hana pun kaget.
“Bagas!”
Pria yang Hana sebutkan namanya itu mengurung tubuhnya. Dengan dua tangan yang bertumpu pada sisi kepala Hana, Bagas menatap mantan istri yang kini menjadi selingkuhannya itu dalam-dalam.
Membuang pikiran tentang sikap Kelana tadi, Hana pun memilih untuk meraih dasi Bagas dan membenarkan letaknya.
“Kenapa kamu melakukan ini di kantor, bagaimana kalau ada orang yang melihat?” tanya Hana berpura-pura.
Padahal di dalam hati dia ketakutan. Hana sedang bermain api, hanya menunggu waktu untuk dirinya kelak akan terbakar. Namun, wanita itu lagi-lagi menguatkan hati. Demi balas dendam, terbakar sampai menjadi abu pun akan dia lalui, semua ini demi anaknya yang harus pergi sebelum sempat dia peluk, juga rasa sakit hati dan gangguan psikologis yang dia alami.
“Apa? apa yang mereka tahu? apa mereka mau mendengarkan bagaimana perjuanganku selama tiga tahun keluar dari depresi seorang diri?”
Ya, Hana selama ini memang menjadikan balas dendam sebagai alasannya bertahan hidup. Jika saja Kelana mau berterus terang dengan perasaan yang dia miliki ke wanita itu, mungkin saja dia bisa merubah alasan Hana, dari bertahan hidup karena ingin balas dendam, menjadi ingin hidup karena ada sesorang yang dengan tulus mencintainya.
“Mas, bagaimana kalau ada CCTV yang menangkap kita?” Hana mengulangi lagi pertanyaannya.
“Tidak ada, aku sudah menghafal semua tempat di gedung ini yang tak tertangkap kamera pengawas,” ucap Bagas.
Namun, siapa sangka ada satu CCTV berbentuk manusia yang melihat gerak-gerik mereka. Kelana membuang muka, berpura-pura tidak melihat Hana dan Bagas dan memilih berjalan keluar.
_
_
_
_
Tinggalkan Komen dan Like ya
__ADS_1
love you ❤