
Diam dan tak berkomentar apapun saat sarapan, tapi Dinar seketika menahan Hana yang hendak berangkat bersama Kelana pagi itu. Hana yang kaget pun menoleh suaminya untuk mencari pembelaan, tapi pria itu malah menggaruk bagian depan kepala dengan jari telunjuk.
“Mama tidak bisa meminta Hana berhenti dadakan, pekerjaanku masih banyak dan akan keteteran kalau sampai Hana berhenti di tengah jalan - nanggung,” ucap Kelana.
Hana tertawa di dalam hati, meski awalnya terlihat ragu tapi Kelana seperti tahu apa yang dia inginkan. Ia jelas tidak ingin berhenti bekerja karena masih tak rela kehilangan penghasilan, terlebih dia dan Kelana belum membicarakan kesepakatan perihal tunjangan istri betulan, bukan tunjangan istri abal-abal.
“Berhenti di tengah jalan dan nanggung itu kalau kalian lagi nungging,” ketus Dinar. “Kamu itu CEO, jentikan saja jarimu dan Mama yakin pasti bawahanmu bisa mencari pengganti Hana secepatnya.”
Kelana mencebik kesal, sedangkan Hana hanya bisa menunduk dan mengerucutkan bibir karena ucapan Dinar barusan, Harus bagaimana dia meminta izin ke mertuanya itu, dia benar-benar tidak ingin kembali seperti dulu, menjadi ibu rumah tangga, melupakan penampilan, berubah gendut dan diceraikan.
Hana tidak mau menjadi janda lagi karena alasan yang sama – diceraikan karena gendut.
“Intinya, Hana akan Mama minta mulai mengikuti hal-hal yang memang sudah menjadi tradisi para wanita di keluarga kita, Mama tidak ingin sampai istri Rafli menjadi direktur di yayasan milik nenekmu,” cerocos Dinar lantas melipat tangan di depan dada.
Lagi-lagi, perselisihan Dinar dengan Tata membuat Hana dan Kelana terkena imbasnya. Seketika Hana merasa iba, mungkinkah sejak kecil Kelana selalu dibanding-bandingkan dengan sepupunya? Jika benar, Hana bertekad harus membuat perubahan, dia tidak ingin anaknya dan Kelana yang belum diproses itu menjadi tumbal ambisi sang nenek kelak.
“Aku akan menuruti Mama,” kata Hana. Sontak saja Kelana menatapnya heran, ada angin apa istrinya itu tiba-tiba berkata akan menuruti ucapan Dinar.
__ADS_1
“Tapi biarkan hari ini aku menyelesaikan beberapa pekerjaan, aku juga harus membuat beberapa kriteria sekretaris yang akan menggantikanku, aku tidak ingin Kelana mendapat sekretaris yang tidak kompeten.”
Alasan Hana itu membuat Dinar diam sejenak. Mendapati keseriusan di mata Hana, wanita itu pun mengizinkan, meski setengah hati.
***
Tak banyak bicara sepanjang perjalanan ke kantor, Hana beberapa kali mendesau. Wanita itu memangku tablet di paha setelah mengetikkan sesuatu. Hana baru saja menulis beberapa kriteria sekretaris untuk suaminya.
Kelana yang melihat sikap sang istri pun tahu apa yang kini tengah dirasakan Hana. Saat mobilnya berhenti di lampu merah, Kelana meraih kepala Hana dan mencium kening wanita itu lalu mengusap pundaknya.
“Sudah jangan dipikirkan!”
“Kenapa harus laki-laki?” tanya Kelana sesaat setelah dia kembali melajukan mobil dan Hana membacakan tulisannya.
“Karena kalian tidak mungkin bermain anggar,” jawab Hana tanpa menoleh sang suami, kekehan kecil nampak jelas di bibir Kelana. Pria itu merasa Hana sangat jenaka.
“Baguslah kalau kamu sudah tidak menganggapku penyuka sesama jenis. Ya, meski kita belum melakukan itu,” jawab Kelana. “Kapan palangmu itu akan naik, rudalku sudah tidak sabar untuk melintas.”
__ADS_1
“Ha … ha … ha.” Hana membuat-buat tawanya. Ia memilih membuag muka lantas berucap lagi. “Kamu pikir palang perlintasan kereta api.”
Lagi dan Kelana semakin melebarkan senyuman. Tingkah Hana benar-benar menjadi hiburan tersendiri.
“Jika pun perempuan, dia harus sudah bersuami. Agar dia tidak memiliki niat untuk menggodamu,” ucap Hana. “Ia juga tidak boleh memiliki dada besar, apa lagi bokong seksi.”
“Kenapa?” tanya Kelana bingung.
“Hah … apa kamu pikir aku tidak tahu? kamu suka memandangi dada dan bokongku.”
“Apa?” Kelana megap-megap, dia bahkan sampai terbatuk-batuk karena tuduhan Hana barusan seratus persen memang benar.
“Ingat! kamu tidak boleh pilih kasih pada salah satunya, kamu tidak ingin kan? dada dan bokong istrimu besar sebelah."
UHUK
Kelana semakin terbatuk-batuk, otaknya yang memang belakangan berisi hal-hal berbau dua satu kini semakin menggila dan liar.
__ADS_1
“Berurusan dengan wanita berpengalaman sepertinya tidak mudah,” gumamnya dalam hati. “Aku harus bisa membuatnya K.O di ronde pertama.”