Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 122 : Ekuador


__ADS_3

Dinar memberikan toples yang dia bawa ke Hana, dengan mengucapkan permisi Dinar membuka pintu kamar anak dan menantunya. Wanita itu langsung meletakkan tas dan menghambur duduk di samping Kelana yang terbaring dengan selimut menutup sampai leher.


Hana yang menyaksikan pun mencebikkan bibir, suaminya benar-benar total dalam bersandiwara. Hana sejenak lupa dengan permintaan segelas air dari Kelana, sampai pria itu terbatuk-batuk entah benar atau hanya bagian dari aktingnya.


“Hana ambilkan minum,” titah Dinar. Ia pikir Kelana terserang demam padahal anaknya itu baru saja memakan sepotong roti selai dan belum minum.


“Iya Ma.” Hana buru-buru kembali ke luar. Ia bahkan masih memegang toples di tangan. Bingung juga untuk apa Dinar membawa toples kosong ke sana.


“Nak, kenapa kamu bisa sampai sakit? astaga.” Dinar mengusap kening Kelana lantas berucap kembali,” Ah … kamu sudah tidak demam, syukurlah.”


Kelana mengerjab, tentu saja dia tidak demam karena semua ini hanya berpura-pura. Pria itu pun berusaha bangkit lalu duduk bersandar pada kepala ranjang. Bukan tanpa alasan Dinar sangat takut saat putranya demam, waktu kecil Kelana sempat terserang demam tinggi sampai masuk rumah sakit. Waktu itu dinar sangat takut nyawa sang putra tak terselamatkan.

__ADS_1


“Sayang minum dulu.” Hana membantu memegangi gelas Kelana, pria itu pun langsung minum dari tangannya.


Mereka terdiam, Dinar terus saja memindai wajah putranya dengan gurat kecemasan. Ia sedih, sungguh sangat sedih. Tak terbayangkan Kelana akan sampai demam karena gagal memasukkan benihnya ke dalam wadah untuk dianalisis. Wanita itu semakin meringsek mendekat ke sang putra dan menggenggam erat tangan Kelana.


Kelana dan Hana saling melempar pandang, entah apa yang akan dikatakan Dinar yang pasti keduanya berharap wanita itu menyerah soal cucu dan lebih memilih menyerahkan semuanya sesuai rezeki. Kalau kata anak gaul ‘indah pada waktunya’.


“Jangan cemas, jika memasukkannya ke dalam wadah kecil tidak bisa Mama sudah membawakan toples kosong untukmu, mana tadi?” Dinar menoleh ke kiri dan kanan, dia pun menatap tajam sang menantu. “Hana, mana tadi toplesnya?”


“A-a-apa? toples?” Hana terbata, mulutnya menganga, dia bingung dengan maksud sang mertua.


“Apa yang Mama maksud?” Kelana terheran-heran, dia semakin bingung karena Hana malah mematung. Istrinya itu diam-diam membayangkan pria Ekuador yang katanya memiliki ukuran rudal terbesar di dunia.

__ADS_1


“Hunny!” panggil Kelana lagi, tapi Hana masih termenung dan bergelut dengan pikirannya sendiri. Sampai Dinar kembali masuk dengan membawa toples yang dititipkan lalu ditinggal Hana dia pantry tadi.


“Nah … ini dia, kamu bisa memasukkannya ke dalam sini, Mama jamin muat dan kamu tidak perlu mengulanginya lagi dan lagi.” Dinar berseloroh seolah idenya paling benar. Ia bahkan tak peduli dengan air muka Kelana yang berubah merah karena menahan malu. Pria itu malu karena sang Mama begitu blak-blakan dan sedikit vulgar.


"Tapi Ma, kalau wadahnya terlalu besar nanti bibitku bisa terkontaminasi udara," kata Kelana. "I-i-iyakan Hunny?"


Seolah meminta dukungan ke Hana, Kelana menoleh. Namun, sayangnya istrinya itu masih termenung membayangkan pria Ekuador 17 koma 17 senti.


_


_

__ADS_1


_


Bersambung ❤


__ADS_2