
“Berangkat lah kerja, aku tidak kenapa-napa.”
Hana meminta Kelana pergi, tapi pria itu tetap bersikeras untuk menemaninya di rumah. Mereka tidak kembali ke apartemen, karena hari itu ada beberapa barang yang akan di antar ke sana dari toko elektronik dan furniture.
“Tidak! aku mau di sini saja sambil menunggu orang yang mengantar barang.” Kelana duduk tegap, bahkan saat Hana mendorongnya Kelana tidak bergerak sama sekali seolah pantatnya terpaku di sofa.
“Ya sudah terserah!” ujar Hana. Ia membongkar belanjaan yang dibeli saat perjalanan pulang dari rumah sakit. Wanita itu membeli asinan mangga muda dari sebuah toko camilan tadi.
“Enak?”
Kelana menelan air liur, jakunnya naik turun. Hana yang sadar tanpa diminta menyodorkan satu sendok asinan ke depan mulut Kelana, tapi sayang tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi dan wanita itu mengurungkan niat. Hana malah berdiri dan bahkan membawa asinan itu tanpa memperdulikan Kelana yang sudah membuka mulut. Ia kaget melihat sosok Dinar dan Tata berada di depan rumahnya, bahkan sang sopir tertawa di belakang tepat di tengah-tengah kedua wanita itu sambil memperlihatkan kantong kresek bertuliskan ‘Roti Geboi’.
“Kenapa kamu makan makanan seperti ini Hana? Lihat cabainya! Mana Kelana? Bisa-bisanya membiarkan istrinya yang sedang hamil memakan makanan tak bergizi.”
Dinar merebut asinan itu dari tangan sang menantu, dia masuk ke dalam sambil bersungut-sungut, sedangkan Tata merasa sangat prihatin ke Hana, dia tepuk pundak menantu kakaknya itu sebelum ikut masuk.
__ADS_1
“Sabar ya Hana, coba kalau kamu jadi menantuku,” kata Tata.
“Memang tante punya anak laki-laki lagi? aku tidak mau dipoligami Rafli,” cicit Hana. Ia putar bola matanya malas sebelum menyambar kantong yang dibawa sang sopir. “Masuk aja ke dalam Pak! bikin minum sendiri ya, ada kopi kok,”imbuhnya mempersilahkan.
Dinar masih saja mengomel, dia pukul pundak Kelana yang dirasanya tak bisa menjaga Hana, tapi melihat kesempatan emas, Kelana tak mau melewatkan. Ia sambar asinan mangga yang rasanya pedas, manis, asam itu dari tangan Dinar lalu memakannya dengan lahap.
“Biar aku saja yang menghabiskan,” ucap Kelana girang.
Mereka duduk di ruang keluarga dan Dinar mendadak menjadi konsultan, wanita paruh baya itu menasehati Hana banyak hal seputar kehamilan. Hana hanya bisa menunduk dan sekali mengangguk. Ia tatap sinis Kelana yang sama sekali tidak membelanya dan malah menikmati asinan mangga miliknya.
“Emang Rita juga mengalami itu?” tanya Dinar ke sang adik. Tata bahagia akhirnya dirinya diajak berbicara, sejak tadi dia hanya diam sambil menikmati roti geboi rasa kopi pietnam.
Tata pun tak langsung menjawab, dia melirik Hana dulu, dan saat menantu Dinar itu menatapnya dengan sorot mengiba barulah Tata berkata, “Oh … jelas, masa gitu aja kamu tidak tahu?”
Hana mengatupkan bibir menahan tawa, dia mengangguk-angguk. Sedangkan Tata yang merasa sudah menyelamatkan Hana berencana meminta balasan untuk membujuk Kelana agar mau menerima maaf, dan pergi liburan seperti yang Rafli kehendaki.
__ADS_1
Dinar kicep, dia tidak bisa berkata apa-apa selain, “Pokoknya jaga kandunganmu, Hana! jaga cucu pertamaku yang berharga itu! kenapa? karena dia tidak akan aku anggap cucu tapi anak, aku yakin akan lebih sayang pada dia dari pada kamu dan Kelana.”
Hana mengangguk lagi, sebelum sopir Dinar menginterupsi karena ada beberapa truk datang bersamaan membawa barang.
“Ah … kamu beli televisi, bagus lah! suruh sekalian dipasang, aku mau nonton sinetron ‘Diceraikan Karena Gendut’, mirip ceritamu ‘kan?” ujar Dinar santai.
Wanita itu sebenarnya menyindir Hana karena kesal.
_
_
_
Huhuhuhu Mau Tamat ya 😃
__ADS_1