
Kelana hanya bisa menatap heran ke istri dan mamanya yang berjalan bersisian meninggalkan dirinya, Ia tertegun bahkan heran, bagaimana bisa dua mahkluk itu mengabaikannya.
“Wah … kenapa aku jadi baper begini,” gumam Kelana. Pria itu menggelengkan kepala lantas memilih menyambar salah satu kue di meja yang dihidangkan untuk Hana tadi. “Kasihan dia, takut dengan makanan seenak ini,” gumamnya.
Sementara itu Hana antusias, dia berpikir Dinar akan mengajari cara dan trik agar bisa tetap langsing meski banyak makan. Namun, Hana sadar dugaannya keliru saat mertuanya itu mengajak masuk ke ruang kerja. Awalnya Keningnya mengernyit karena Dinar mengambil satu buku dari sela raknya.
“Oh … mungkin trik dan tips nya tertulis di buku,” gumam Hana. Ia masih berpikir bahwa akan mendapat tips kurus tanpa perlu lagi diet ketat. “Rezeki,” pikirnya. “Berkah, tidak perlu sedot lemak.”
Buku itu diletakkan oleh Dinar ke atas meja, Hana semakin bersemangat, ternyata itu bukan buku melainkan sebuah kotak yang berbentuk seperti buku. Bahkan untuk membukanya dibutuhkan kode sandi.
“Wah … mungkin memang ampuh sampai disimpan secara rahasia, seperti resep krebi peti milik tuan kepiting.” Hana masih bermonolog, dia bahkan membayangkan serial kartun kesukaannya berjudul Bob si sepon. Hati Hana pun bahagia. Sudah terhitung di kalkulator otaknya bahwa dia akan menghemat banyak uang tak perlu membeli catering diet dan susu-susu pengganti makan.
Dada Hana bertalu-talu saat Dinar mulai membuka kotak itu secara perlahan. Istri Kelana itu sampai melongok saking ingin tahu, matanya seketika berbinar melihat sebuah buku dikeluarkan oleh sang mertua, tapi tak lama dia melongo melihat sampul bergambar mahkluk berjenis kelamin pria dan wanita sedang tunggang-tunggangan.
“Ma!” kelu bibir Hana. Ia tatap Dinar dengan ekspresi aneh.
“Ini, gunakan ramuan Mak War dan parktikkan apa yang tertulis di buku ini. Aku jamin kamu akan kelojotan, jika kamu senang putraku juga senang ‘kan?” Dinar berlagak seperti suhu yang sedang memberikan kitab ke muridnya yang cupu.
“Aku memang harus mewariskan ini padamu, ini milik mamaku dan aku yang mendapatkannya. Tata bahkan tidak tahu soal ini,” imbuh Dinar dengan nada suara jemawa.
“Bahkan untuk urusan ranjang dia tidak mau kalah dari adiknya.”
Hana mengerjab. Ia yang merasa hubungannya dan Dinar mulai membaik tak ingin melewatkan kesempatan emas itu. Meski kecewa dan tak sesuai pikirannya tapi dia tersenyum dan menerima buku bersampul merah merona itu.
“Kenapa? kok mukamu jadi begitu?” Hardik Dinar.
__ADS_1
Hana memang tidak bisa menyembunyikan wajah cengonya, hingga dia dengan cepat menggeleng dan berkata hanya terkejut saja karena Dinar memberikan pusaka keluarga kepadanya. Meski begitu Hana tetap saja ingin tahu rahasia sang mertua kenapa bisa terus langsing meski banyak memakan makanan tinggi kalori.
“Itu … tidak ada trik dan tipsnya,” jawab Dinar dengan santai. Ia masih tidak sadar bahwa sejak awal dirinya dan Hana salah persepsi satu sama lain. “Keluarga kami memang seperti itu, tidak mudah gemuk, mungkin usus kami dilapisi dengan sesuatu yang anti lemak, jadi lemak langsung bablas tidak tertimbun di tubuh.”
Hana mengangguk, bingung dia harus merespon seperti apa. Lagi-lagi dia hanya bisa berbicara sendiri di dalam hati. “Dimana beli pelapis usus agar bisa anti lemak?”
_
_
Karena hari itu Dinar ternyata ada acara, maka dia pun pamit pergi dan meminta Kelana dan Hana tetap berada di rumah. Wanita itu berpesan mereka harus berada di sana sampai dia pulang karena ingin makan malam bersama.
Saat berduaan di teras belakang dekat kolam renang, Hana menyodorkan buku yang dia dapat dari Dinar ke dada Kelana dengan muka masam. Bibirnya mengerucut sambil menggerutu.
“Kenapa? buku apa ini?” tanya Kelana sambil meraih dan melihat sampulnya. Mata pria itu membeliak lebar karena gambar vulgar yang terpampang.
Hana menjeda kata, dia seketika bungkam karena muka Kelana sekarang benar-benar menjengkelkan. Pria itu tersenyum menggoda ke arah Hana, seolah meminta wanita itu mengingat sesi perkembangbiakan yang sudah beberapa kali mereka lakukan.
“Yuk!”
Tiga huruf itu membuat Hana mundur satu langkah ke belakang. Rangkaian tiga huruf keramat yang membuatnya akan habis diterkam oleh Kelana – mantan perjaka yang sedang panas-panasnya. Dengan gesture mempertahankan diri, Hana menggeleng.
“Kamu pikir hohohehe itu minum obat, harus dilakukan tiga kali sehari. Ha?” tanya Hana, bergetar lisannya karena grogi. Tatapan Kelana bukannya kesal tapi malah semakin nakal.
“Hei … Kelana, tidak boleh terus-terusan! nanti bisa overdosis,” ucapnya lagi dan kini dia mundur satu langkah lagi karena Kelana sudah berdiri dari kursi.
__ADS_1
Pria itu nampak membuka salah satu halaman di buku itu secara random dan menunjukkannya ke depan muka Hana. “Ini, bagaimana kalau mencoba yang ini?”
Hana menelan saliva, dia mau tak mau akhirnya melihat halaman yang terbuka itu. Keningnya mengernyit sampai membuat alis matanya bergelombang.
“Tunggu, kamu mau bercinta atau sirkus, Ha?”
Hana membalik buku itu agar Kelana melihatnya, mukanya berubah kesal. Ingin rasanya dia cubit pinggang suaminya yang seksi.
“Memang ada gaya begini?” Kelana malah melongo, dia pun menurunkan buku itu dan menatap Hana dengan wajah tanpa dosa.
“Tanya aja sana sama mama Dinar,” ketus Hana.
_
_
_
BERSAMBUNG...
Sorry Na 2 hari absen karena flu plus akhir bulan mengurusi hajat hidup orang banyak dulu di RL. Kalian bisa Fav 2 novel on going Na di sini ya. Cek aja profil Na.
Mungkin masih ada yang belum tahu, gimana sistem NT. Nggak semua penulis bisa gajian tiap bulan ya geng, so nulis di sini emang pure buat hiburan Na aja. Jadi kalau Hana lagi buntu aku nulis Marsha begitu juga sebaliknya, tapi kalau dua-duanya buntu ya aku nggak nulis.
Kenapa yang di berbayar UP terus Na?
__ADS_1
Jawabannya jelas karena dari sana Na dapat bayaran ya
Semoga kalian maklum, semoga di mana pun Na nulis bisa menjadi hiburan kalian.