
Hana terburu-buru, langkahnya bahkan terseok. Ia hampir tersungkur karena tersandung saat mengejar mertuanya. Karena pembahasan tadi, Dinar langsung memilih untuk menemui Kelana di perusahaan. Hatinya sebagai ibu merasa sangat cemas, tak terbayang jika putranya benar-benar tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarganya.
“Hana, Kelana bisa ‘kan? Ke-ke-kelana bisa itu ‘kan?”
Pertanyaan Dinar tadi terngiang jelas di kepala Hana.
“Bukankah aku sudah bilang Ma kami sering melakukannya, itu tandanya dia bisa melakukannya. Kenapa Mama malah berpikir yang tidak-tidak?”
“Lalu apa mungkin benar dia mandul?”
Hana mengacak-acak rambutnya sendiri, Ia mencoba mengingat-ingat apa ada kalimatnya yang salah tadi sampai Dinar seperti ini. Wanita itu menganggap sang putra tidak subur, kini Hana sudah bisa membayangkan apa yang akan dilakukan mertuanya itu ke sang suami.
_
_
“Kelana!” pekik Dinar setelah membanting pintu. Putranya yang sedang duduk pun sampai berdiri melihat kedatangannya yang terburu-buru seperti itu. Entah ada angin apa, Dinar langsung memeluk tubuhnya dan bahkan terdengar sedikit terisak.
__ADS_1
Kelana terbengong, dia bertanya kepada Hana dengan gerakan dagu dan mata. Namun, istrinya itu hanya mengedikkan bahu sambil berucap tanpa bersuara.
“Dia sedang melow.”
Kelana mengangguk paham, perlahan dia angsurkan tangan untuk menepuk punggung wanita yang sudah melahirkannya itu lembut. “Mama, ada apa? apa ada masalah?”
“Kelana … ayo kita pergi ke dokter andrologi.”
“Apa?”
“Kamu harus periksa kesuburan, jadi jika memang ada yang perlu diobati belum terlambat penanganannya,” ucap Dinar setelah mengurai pelukan.
Kelana cengo, meski tahu ke mana arah pembicaraan sang mama tapi dia bingung kenapa tiba-tiba seperti ini. Apa yang terjadi? kenapa membahas andrologi, memang apa yang salah dengan dirinya yang gagah perkasa ini.
“Jika pasangan suami istri rutin melakukan hohohehe tapi si wanita tidak juga bisa tekdung tekdung tralala, jelas itu ada masalah. Hana sudah diperiksa dan dokter bilang kondisinya sehat, jadi mungkin saja kamu …. “ Dinar menjeda kata, tak tega juga dia mengucapkan kalimat yang sedikit menyakitkan itu ke sang putra.
“Mama pikir aku mandul?” tembak Kelana. Dan seketika Dinar meletakkan telunjuk ke bibir sang putra. Kelana mengedip, dia menatap Hana yang masih berusaha menahan tawa.
__ADS_1
“Jangan sebutkan kata itu! tidak boleh,” pinta Dinar. “Ayo! Kita temui androlog, Mama tidak akan bisa tenang jika belum memastikannya sendiri.” Dinar menarik tangan Kelana. Sontak pria yang beberapa menit yang lalu masih sibuk dengan pekerjaannya pun melebarkan manik mata.
Kelana menahan langkah dan membuat Dinar tertahan. Ibundanya itu menoleh dengan mimik muka tak percaya. Ia bahkan langsung memukul lengan sang putra.
“Kenapa? kamu harus melakukan ini Kelana, kita harus periksa. Jika kamu mau membuat Mama tenang,” amuknya.
“Ma, aku masih ada pekerjaan. Mama tidak bisa main tarik aku untuk pergi seperti ini,” jawab Kelana. Nada bicaranya sangat lembut. Hana sampai terkagum-kagum karena suaminya itu mau mendengar nasihatnya tentang menghormati dan menyayangi ibunya. Kelana bahkan menangkup pipi Dinar dan memberikan sebuah kecupan di kening ibundanya itu.
Dinar pun mengerjab tak percaya, dia tak menyangka mendapat perlakuan yang amat sangat manis dari sang putra. Namun, bukannya rasa bahagia yang menyeruak di dalam dada, tapi sebuah prasangka yang membuat Kelana dan Hana menganga.
“Ke-kenapa kamu bersikap seperti ini ke Mama? apa kamu merasa bersalah? Apa jangan-jangan kamu benar-benar mandul?”
_
_
Scroll ke bawah 👇
__ADS_1