Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 169 : Menemui Pengacara


__ADS_3

“Aku mau pergi ke luar sebentar, saat aku kembali pastikan laporan yang tadi aku minta sudah ada di meja.”


“Semua Pak?” Bunga kaget, dia sampai melongo tak percaya. “Bapak keluarnya berapa jam? Kalau sebentar itu tidak masuk akal Pak, saya bukan siluman laba-laba yang punya delapan tangan.”


“Itu deritamu, semua sekretarisku dulu bisa melakukannya, jadi jangan banyak bicara dan mulai kerjakan!”


Kelana hampir berjalan pergi, tapi lagi-lagi Bunga mencegah dan bahkan sampai bangun dari kursi. Ia tidak mau lagi menunda membahas soal DP rumah sakit Arman yang dibayarkan oleh Bagas. Namun, Bunga seharusnya sudah bisa menduga kalau dia hanya akan mendapat malu. Kelana menjawab pertanyaannya dengan ketus dan bahkan membuat rasa irinya semakin besar ke Hana.


“Itu urusan pribadi di luar pekerjaan jadi sebaiknya jangan dibahas di kantor. Kamu bisa menghubungi Hana, minta saja uang yang kamu maksud itu pada istriku, karena uangku semuanya ada padanya, aku tidak punya apa-apa,” ujar Kelana setelah itu berjalan dengan sombongnya menuju lift.


“Hah … apa? semua uangnya ada pada Hana? Jadi selama ini dia memberikan semua uangnya pada wanita itu? Pantas saja Hana sangat sombong, pelet apa sih yang dipakainya sampai bisa mendapat pria seperti Kelana,” gerutu Bunga.


_


_

__ADS_1


Seperti rencananya, Kelana membawa mobilnya menuju ke sebuah firma hukum, dia sudah membuat janji bertemu pengacara keluarganya yang bernama Rudi Tabuti. Pengacara itu sangat terkenal karena menjadi pengacara para pengusaha-pengusaha dan orang-orang kelas atas, tak ayal bayarannya pun mahal, karena selain menjadi pengacara, secara tidak langsung Rudi juga memegang beberapa kartu AS para kliennya.


“Pak Kelana, lama sudah tidak berjumpa, apa Anda sudah tidak menjadi member di Garald Club?”


Rudi menyambut tamunya dengan senyuman lebar, dia bahkan sudah menyiapkan kedatangan Kelana dengan menyemprotkan wangi-wangian dan membuka jendela ruang kerjanya, Ia tahu Kelana sangat benci ruangan yang pengap dan bau rokok.


“Apa Anda masih suka minum-minum di sana Pak Rudi?” balas Kelana. Ia duduk setelah membuka seluruh kancing jasnya. “Aku sudah punya istri dan menghabiskan waktu dengan istriku di rumah lebih menyenangkan dari pada mabuk di sana.”


“Oh … jadi berubah karena seorang wanita?” Rudi sedikit menggoda. Ia tahu betul kehidupan pribadi kliennya, apa lagi klien yang bermasalah dan harus dia bela. “Tapi, tumben Anda meminta bertemu, apa ada masalah?”


“Di sana ada rekaman seorang pria yang mengakui telah melakukan tindakan kejahatan, aku ingin meminta saran Anda, bisakah dia jebloskan ke dalam penjara?”


Rudi meraih recorder itu dan manggut-manggut, meski wajahnya tidak meyakinkan tapi sepak terjangnya di dunia hukum tidak perlu diragukan lagi.


“Dia mantan suami istriku, pria bresngsek itu membuat istriku sampai masuk rumah sakit dengan menyewa preman. Preman-preman itu memukuli istriku sampai keguguran. Bukankah pria seperti itu adalah setan?” tanya Kelana dengan mimik muka geram, tangannya bahkan mengepal.

__ADS_1


“Apa dia sedang mabuk saat mengakui perbuatannya?”


Pertanyaan Rudi membuat Kelana tersentak kaget, dia menegakkan badan dan berubah cemas. “Apa ada yang salah dengan hal itu?”


“Pak Kelana, bukti yang diambil dalam kondisi orang yang mengakui sedang mabuk sebenarnya tidak kuat untuk menuntut, apa lagi jika Anda sendiri yang membuatnya mabuk, itu bisa dikategorikan penjebakan.” Rudi menyampaikan hal ini dengan mimik muka serius.


“Lalu apa yang harus aku lakukan, aku ingin pria kejam itu mendekam di penjara.”


_


_


_


Scroll ke bawah 👇

__ADS_1


__ADS_2