
Meski sudah larut malam, Bunga dan Tantri masih duduk di ruang keluarga. Mereka menunggu Bagas yang belum pulang. Pria itu bahkan tidak mengabari pergi kemana. Sebagai istri, Bunga merasa cemas, matanya bahkan belum bisa terpejam meski raganya sudah terasa lelah.
Tantri memungut ponsel yang baru saja dia lempar. Terlintas dalam pikirannya untuk memakai cara licik agar tidak jadi diceraikan Arman.
"Bagaimana kalau Mama pelet saja dia?"
“Apa Mama bilang? Memakai pelet? Apa Mama sudah putus asa sampai melakukan itu?” cibir Bunga. Ia yang sempat dituduh menggunakan ilmu neko-neko untuk memikat Bagas pun melarang Tantri. Sebenarnya Bunga tidak pernah menggunakan cara mistis untuk memikat pria itu.
Bagas memang tipe pria yang tidak setia, jadi wajar saja jika tergoda dengan mudah. Ini lah yang membuat Bunga cemas saat suaminya itu tidak juga pulang ke rumah, padahal jam sudah hampir menunjukkan pergantian hari.
“Tidur Bunga, tidur!” titah Tantri sedikit ketus. Padahal dia sendiri juga masih memikirkan Arman.
Begitulah sifat manusia jika sudah kehilangan. Tantri menyepelekan kebaikan dan perasaan Arman saat pria itu masih mencintainya. Kini dia harus menerima akibat karena pria itu benar-benar sudah membulatkan tekad. Cerai adalah keputusan final yang tidak akan lagi bisa diganggu gugat.
__ADS_1
***
Hana dan Kelana bergandengan tangan menuju apartemen mereka. Keduanya benar-benar ingin segera mengistirahatkan raga. Hari ini benar-benar sangat melelahkan, meski begitu Hana tetap merasa bersyukur karena masalah perjanjian itu terselesaikan dan menemukan titik terang.
Baru saja selesai membersihkan diri dan berganti baju. Kelana harus terganggu dengan panggilan di ponselnya. Ia menyesal kenapa tidak mematikan saja benda itu. Hana yang sudah menarik selimut sampai bangun lagi karena terlalu penasaran dengan siapa yang masih menghubungi sang suami selarut itu.
“Benarkah? terima kasih karena sudah mengabariku langsung.” Kelana mematikan benda pipih miliknya dan tersenyum miring. Ekspresi wajahnya benar-benar membuat Hana merasa takut. Kelana meletakkan ponsel ke nakas dan naik ke atas tempat tidur.
Hana heran, dia memeluk erat selimut yang ada di depan tubuh. Membiarkan Kelana memainkan rambutnya yang menutupi kening. Pria itu tak mau bercerita siapa yang meneleponnya barusan sampai Hana bertanya.
“Hem … ini sudah hampir pagi Hunny, lebih baik tidur. Aku tidak ingin kamu lelah dan berakibat buruk ke baby bean kita.” Kelana mengecup lembut kening Hana, menyingkap selimut dan masuk ke dalamnya.
“Aku tidak akan bisa tidur kalau kamu tidak bercerita, aku penasaran.” Hana mengerucutkan bibir lalu menggeser badan saat Kelana melingkarkan tangan ke pinggangnya. “Katakan padakupadaku! ada apa? apa masalah pekerjaan?”
__ADS_1
Kelana masih diam, dia takut jika apa yang akan dia sampaikan malah hanya akan menjadikan beban pikiran sang istri. Namun, Hana itu wanita kerasa kepala. Ia tidak akan pernah berhenti sebelum mendapat apa yang dia inginkan.
“Panggilan tadi dari temanku, dia bilang nomor seri kamera yang kamu temukan di bawah meja kerja sudah terlacak, dia bahkan menemukan tokonya. Kamu tahu siapa orang yang membeli kamera itu?”
Hana memandangi mata Kelana, suaminya itu mengangguk dengan senyum di sudut bibir.
“Bagas."
"Lihatbsaja apa yang akan aku lakukan kepadanya besok pagi, aku akan membuat satu perusahaan tahu betapa brengseknya mantan suamimu itu.”
_
_
__ADS_1
_
see you tomorrow 🤗 buat ngacak² Bagas kamprett 🤣