Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 238 : Disambangi Polisi


__ADS_3

Preman sewaan Tantri itu akhirnya dibekuk polisi. Hana yang sadar sang suami emosi memilih untuk tidak jadi makan, meski Dinar dan Tata mengajaknya. Hana memutuskan menemani Kelana ke kantor polisi, sementara dua wanita paruh baya itu mengisi perut.


“Kita makan saja dulu, nanti kita bawakan makanan ke sana, bukankah tadi pak polisi bilang kita juga harus memberikan keterangan?”


“Kali ini aku setuju denganmu, bisa-bisa aku pingsan jika tidak mengisi perut lebih dulu.” Dinar mengiyakan usul sang adik. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam restoran udon di mana parkirannya menjadi TKP tindak kejahatan yang menimpa Kelana tadi.


Hana menggenggam erat tangan kiri Kelana, dia takut karena baru saja melihat dengan mata kepalanya sendiri nyawa Kelana terancam tadi. Jika tadi sampai terjadi sesuatu yang buruk ke sang pujaan hati, jelas Hana pasti akan hancur atau bahkan menyalahkan diri sendiri. Bagaimana tidak? preman itu mengaku bahwa dia dibayar oleh wanita bernama Tantri. Siapa lagi wanita bernama Tantri yang begitu sangat membencinya jika bukan sang ibu tiri.


Menunduk dengan pikiran yang masih berkecamuk, Hana memandangi tangan Kelana yang tanpa sadar masih terus dia genggam sehingga pria itu harus menyetir dengan satu tangan. Perbuatan Tantri kali ini benar-benar tidak bisa dimaafkan, mencoba mencelakai Kelana tentu saja tidak akan pernah Hana lupakan.


_


_


“Mana lihat HP kamu!”

__ADS_1


Polisi membentak si preman yang duduk ketakutan, mukanya sudah memar-memar terkena pukulan tas mahal juga bogeman mentah Kelana. Preman itu diam sebelum menjawab, “Sudah dibawa Pak polisi satunya tadi.”


Kelana dan Hana yang baru sampai pun memilih untuk tidak masuk ke ruangan yang sama dengan si preman, selain untuk mencegah kemurkaan Kelana lagi, mereka juga harus memberi keterangan dan memilih berada di ruangan terpisah.


“Tangkap wanita bernama Tantri itu, juga anak dan menantunya. Mereka juga kriminal, saya sudah melaporkan mereka, bukti-bukti juga sudah pengacara saya berikan, jadi menunggu apa lagi? kalau Tantri sampai tahu preman suruhannya tertangkap dia bisa saja melarikan diri,” ujar Kelana.


“Baik Pak, kami mohon Anda sabar,” jawab petugas menanggapi permintaan Kelana yang emosi.  


_


_


“Mama tadi ada urusan penting, kamu sudah masak belum? Mama lapar nih.” Tantri dengan santainya berjalan masuk ke dalam rumah, sedangkan Bunga yang melihat gelagat aneh sang mama merasa ada yang tidak beres.


Dan benar saja, tidak ada satu jam setelah Tantri pulang pintu rumahnya diketuk. Bagas yang kebetulan berada di ruang tamu terdiam merenungi nasipnya pun kaget, dia melihat sekelebat pria mengenakan pakain serba cokelat.

__ADS_1


“Polisi?” gumam Bagas dalam hati, dia pun menginitip dari jendela, tak dia sangka matanya bersirobok dengan salah satu petugas. Bukannya bergegas membuka pintu, Bagas malah masuk ke dalam dan memanggil Bunga, dia ketakutan.


“Ada apa sih Mas?” Bunga yang sedang mencuci piring bingung, suaminya itu seperti baru saja melihat setan. “Mas lihat demit? Ini ‘kan masih siang,” imbuhnya dengan raut muka kesal, sedangkan Tantri masih sibuk makan dan geleng-geleng mendapati tingkah aneh sang menantu.


“A-a-ada polisi di luar, dia pasti ingin menangkap kita.”


“Apa? polisi?” Bunga seketika melepaskan piring dan spon pencuci piring di tangan, bunyi piring yang membentur bak cucian pun membuat Tantri melotot, dia yang sudah melongo karena kata 'polisi' semakin dibuat kaget.


“Kalian memang berbuat apa sampai mau ditangkap polisi?” tanya Tantri tak sadar diri.


_


_


_

__ADS_1


cinta pertamaku berulah lagi, aku up santai geng, makasih udah baca terus 🙈


__ADS_2