
Hana bingung, dia tak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan kelakuan suami dan mertuanya. Dua mahkluk itu benar-benar kompak, hingga Hana hanya bisa mengusap perut dan berdoa semoga bayinya kelak tidak menuruni sifat seperti nenek dan papanya. Hana takut dekat-dekat, becek. Dia hanya bisa berbicara ke dua petugas pemadam dan meminta agar menghentikan aliran air. Saat berbicara tanpa sengaja matanya bersirobok pandang dengan pembantu Dinar, wanita yang sepertinya lima tahun lebih tua darinya itu menunduk.
“Pak, matikan airnya!” Hana mengulangi permintaannya ke petugas.
Dinar yang sudah mengalihkan selang air ke putranya pun menoleh, dia berteriak ke petugas pemadam, dia seperti sudah bisa membaca kalau sang mantu pasti berusaha meminta petugas untuk mematikan aliran air.
“Jangan turuti dia! kalau sampai airnya dimatikan. Aku akan melapor ke komandan kalian,” ancam Dinar.
Ya , begitulah nasip bawahan, hanya bisa menuruti perintah yang berkuasa. Dua petugas itu takut, meski tahu ini tidak benar.
“Pak! lihat rumah itu, sudah seperti rumah yang baru saja terkena banjir bandang.” Hana menunjuk teras rumah Rafli, tembok dan lantai teras yang berwarna putih berubah cokelat susu. Wanita itu mengalihkan pandangan ke Dinar yang hanya melengos dan semakin mengompori Kelana.
“Lihat Ma! Lihat yang akan aku lakukan,” ujar Kelana. Ia semakin maju dan terus mengarahkan air ke pintu.
“Dinar! Woi … sudah, apa kamu mau merobohkan rumah putraku,” teriak Tata dari dalam.
Mendengar suara sang adik, Dinar pun mendekat. Ia balas ucapan sang adik tak kalah lantang. “Ya, akan aku robohkan, kalau bisa aku buat anakmu itu jadi gelandangan. Salah siapa kamu bersembunyi di rumah Raflisia arnoldi?”
__ADS_1
Rafli dan Tata yang berada di dalam saling pandang. Mereka tidak menyangka Rafli pun disamakan dengan bunga bangkai oleh Dinar.
“Ini semua salah Mama.” Rafli menyalahkan Tata, dia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia frustrasi melihat ruang tamu rumahnya sudah hampir mirip tambak buatan seperti pesta Hana kemarin, tinggal menambahkan ikan hidup di sana.
“Hei … Rafli, kamu ingin pabrik gula nenek ‘kan? ambil saja! apa lagi yang kamu inginkan, Ha? apa kamu pikir selama ini aku diam karena tak tahu apa-apa? mau aku bongkar kartu matimu? kamu sepertinya salah memilih musuh.”
Suara Kelana membuat Rafli dan Tata lagi-lagi bengong, sejak kapan Kelana berada di depan rumah mereka?
“Hei … Kelana, aku tidak pernah mencari musuh, tapi kamu itu yang selalu merasa kemusuhan,” jawab Rafli, sudah takut dia. Bahkan tangannya sedikit bergetar.
Hana yang melihat kesempatan pun meminta petugas menarik selang air itu, meski harus terjadi adegan tarik selang seperti lomba tujuh belasan antara petugas dan Dinar.
“Mama, sudahlah Ma,” bujuk Hana. Ia takut mertuanya demam karena baju Dinar terlihat basah.
Namun, Hana lagi-lagi dibuat terperanga karena Dinar ternyata sudah mempersiapkan semua. Wanita itu mencari sopirnya - yang berjongkok di dekat pagar sibuk berbincang dengan penjaga rumah Rafli. Dua pria paruh baya itu bingung harus berbuat apa.
“Pak buka! Aku mau mengambil handuk.”
__ADS_1
Hana mendekat ke Dinar yang sibuk memakai handuk berbentuk kimono. Ia bingung mencari kalimat yang tepat untuk menyapa atau menyayangkan perbuatan mertuanya. Di saat Hana masih fokus ke Dinar, pembantu wanita itu tiba-tiba saja berteriak.
“Bu Dinar, Mas Kelana!”
Hana menoleh. Matanya membola ketakutan, tapi bukan karena suaminya itu tertembak, tertusuk atau terkena pukulan Rafli. Namun, bak pegulat profesional Kelana sudah mengapit kepala Rafli diketiak dengan Tata yang berputar-putar bingung untuk menyelamatkan putranya.
“Dinar! Anakmu kesurupan.” Teriakan Tata bersahutan dengan suara Rafli yang meminta dilepaskan.
“Salah siapa membuka pintu. Sudah tahu Kelanaku garang,” cicit Dinar tanpa sedikitpun rasa takut atau bersalah.
_
_
_
next Bab besok ya geng 🤣
__ADS_1