
Makan siang Kelana dan Hana begitu sangat tenang, tiga orang yang ikut dengan mereka sejak tadi terus melirik keduanya. Meski berada di satu restoran tapi Nila dan kawan-kawan memilih untuk duduk di meja terpisah. Standar Operasional prosedur katanya, tidak boleh terlalu dekat dengan target, yaitu Hana.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama kala Kelana mulai melancarkan sandiwara, tanpa memberi kode ke Hana, Pria itu ingin membuat Nila memberikan penilaian baik ke calon istri abal-abalnya.
“Apa kamu akan balas memukul ibu tirimu tadi jika aku tidak muncul?” tanya Kelana, sengaja mengeraskan volume suara agar Nila mendengar.
“Jawab lah dengan baik, tunjukkan pada agen suruhan ibuku itu bahwa kamu wanita baik,” gumam Kelana di dalam hati.
“Tentu saja, aku akan membalas dengan menjambak rambutnya dan memukul kepalanya.”
“Brttt …. “
Kelana menunduk sambil meraih serbet, dia tak menyangka jawaban Hana malah seperti itu. Sepertinya bukan ide yang baik, terlebih Hana malah menjawab dengan suara lantang.
“Kamu tidak boleh melakukan itu, itu tidak baik Hana,” ucap Kelana lembut, dia bahkan memberikan kode dengan alis mata, tapi sayang hana tidak paham dan malah menggelengkan kepala menganggapnya tengah iseng.
“Aku tidak akan membiarkan seorang pun di dunia ini menindasku, kamu pikir aku upik abu? No! aku Hana.”
Hana menyuapkan makanan satu sendok penuh ke dalam mulut, dia jelas akan menyesal dan pasti akan diet mati-matian setelah ini.
Menyadari bahwa membahas orang yang Hana benci malah akan menimbulkan perdebatan, Kelana pun mencoba membicarakan hal lain.
“Setelah kita menikah nanti, apa kamu akan memasak untukku setiap hari? Kamu pandai memasak ‘kan?”
Kelana menyandarkan punggung, dia bersedekap dada dan dengan gerakan kepala mengkode Hana. Seolah ingin berkata, “Bersikap lah manis, ada agen mamaku yang menguping kita.”
Namun, lagi-lagi Kelana dibuat gemas, pria itu membuang muka dan mencebikkan bibir saat Hana menjawab,” Untuk apa aku memasak? Bukankah ada pembantu? Lagi pula kita akan membangun rumah tangga, bukan rumah makan.”
Nila dan dua pengawal yang mengikuti Hana sampai menahan tawa. Hana memang tidak pantas menjadi seorang tuan putri yang lemah lembut seperti harapan Dinar. Menurut Nila, Hana apa adanya dan lucu, sehingga dia memutuskan untuk menyampaikan pandangannya nanti ke Tria.
__ADS_1
***
Setelah makan siang selesai, ke lima orang itu berjalan menuju parkiran, tapi tak disangka sebuah kejadian mencengangkan terjadi di depan muka mereka. Seorang wanita menarik tangan pria yang sedang menggandeng mesra wanita yang usianya jauh lebih muda. Pria itu bahkan menampik tangan si wanita dan membuatnya jatuh tersungkur.
“Mas kenapa mas tega berselingkuh seperti ini?”
Ucapan wanita itu membuat Hana yang awalnya tak peduli- menoleh. Ia hendak berjalan mendekat tapi dicekal oleh Kelana.
“Sudah, tidak perlu ikut campur urusan rumah tangga orang lain!” Kelana menggeleng, tapi Hana malah melotot.
“Orang yang tidak pernah merasakan sakitnya diselingkuhi tidak akan pernah bisa merasakan bagaimana sakitnya,” ucap Hana sambil melepas telapak tangan Kelana. Ia setengah berlari dan membantu wanita itu bangun.
“Pak! apa Anda harus berbuat kasar ke wanita?” Hardik Hana, sorot matanya penuh kebencian ke pria itu dan jelas membuat si pria merasa tidak nyaman.
“Siapa kamu? tidak usah ikut campur masalah orang lain!”
“Aku sebenarnya tidak ingin ikut campur, karena Anda bertindak kasar, mau tidak mau aku harus membantu, apa Anda laki-laki? Kenapa mendorong wanita?” Hana mencemooh sambil membantu wanita itu bangun. Hana melirik kesal wanita muda yang bergelayut manja di lengan pria itu, sungguh tak tahu malu.
Bagi Hana wanita yang tertindas dan diselingkuhi sang suami adalah temannya, ibarat kata rasa setia kawan sesama perempuan yang dizalimi sudah mengakar sampai ke pembuluh darahnya.
“Mas apa kurangnya aku? sampai kamu setega ini.” Sang wanita yang merupakan istri sah berbicara dengan nada lemah, seperti sudah kehilangan harapan.
“Kamu itu jelek, lihat kamu gendut!”
“Woi!!!” Bentak Hana hingga pria itu dan selingkuhannya berjengket karena kaget. Hana sudah menggulung lengan kemeja sampai ke siku, seolah ingin menantang pria itu berkelahi, Hana pun menaikkan dagu.
“Apa kamu bilang? Kenapa kamu mengatai istrimu sendiri jelek dan gendut,” amuk Hana, dia menoleh ke arah wanita itu dan bertanya,” sudah berapa lama Anda menikah dengan arang sate ini?”
Wanita itu melotot bahkan megap-megap tak bisa menjawab pertanyaan Hana, dia malah memindai penampilan sang suami, benar sih kalau kulit suaminya sedikit gelap, tapi perumpamaan arang sate dari Hana sedikit berlebihan. Namun, entah kenapa rasanya lucu dan wanita itu pun tertawa.
__ADS_1
“Kami sudah menikah lima tahun,” jawabnya.
“Ah … dasar, kenapa wanita itu senang sekali membuat masalah,” gerutu Kelana, dia menggaruk bagian belakang kepala sedikit kasar.
“A-a-apa kamu bilang tadi? arang? Hei … kamu melecehkan aku,” ucap si pria tukang selingkuh itu.
“Lalu menyebut istrimu jelek dan gendut apa tidak pelecehan? Ha?” Hana tak mau kalah, dia semakin maju dan membuat pria itu mundur beberapa langkah.
Merasa terintimidasi dengan kelakuan Hana, pria itu pun mendorong tubuh Hana dengan kasar. Hana yang tidak siap dan memakai sepatu hak tinggi pun limbung dan jatuh terduduk ke belakang.
“Ah … sialan, dia sudah keren kenapa malah terjengkang,” gerutu Kelana.
Mukanya berubah kaget saat pria itu menunduk dan mengayunkan tangan hendak memukul Hana.
“Woi!! Apa kamu sudah tidak waras?” bentak Kelana, pria itu berjalan cepat dan dengan satu gerakan kaki, Kelana menendang pria itu tepat di bagian perut sampai tersungkur.
“Pak Kelana!”
_
_
_
_
Met Buka
Maaf up telat, kerjaan RL numpuk
__ADS_1
kalau masih Ada ticket Vote di Vote ya 🥰