Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 182 : Genmu


__ADS_3

“Sarapan dulu ya!”


Hana berdiri di depan Kelana, jemari tangannya lincah mengancingkan kemeja berwarna putih sang suami. Ia sadar Kelananya sedang marah, dan mungkin kemarahan pria itu berada ditingkatan tertinggi. Semalam dia menolak saat Kelana minta jatah, lalu tadi Dinar datang dengan tuduhan yang membuat suasana hati suaminya semakin berantakan.


“Aku langsung berangkat saja,” jawab Kelana, dia hanya memandangi tangan sang istri yang kini sudah berpindah ke lengan kemejanya.


“Sayang, jangan bersikap begini. Mama menyesal dan berniat meminta maaf padamu. Mama pasti sedang harap-harap cemas menunggumu turun untuk sarapan bersama,” bujuk Hana dengan nada suara yang sangat lemah lembut. Ia tahu terkadang pria perlu dibujuk dengan sesuatu yang manis seperti anak kecil.


“Tidak bolehkah aku kesal?”


Hana mendongak, tatapannya bersirobok dengan tatapan mata Kelana yang penuh amarah. Suasana hati pria itu memang kurang baik. Apa perlu dia memberitahu perihal alat uji kehamilan yang menunjukkan garis dua pagi tadi?


Tidak! Hana mengedip. Jika dia memberitahu Kelana sekarang, bisa saja pria itu hanya mengeluarkan suara deheman yang akhirnya akan membuatnya tak enak hati sendiri.


“Boleh! kamu boleh kesal, yang tidak boleh itu kesal yang berlarut-larut. Tidak apa-apa kamu marah, manusia terkadang perlu mengeluarkan energi negatifnya.” Hana mengusap pipi Kelana, dia memutar tumit untuk mengambil jas pria itu yang ada di atas ranjang.


“Atau mau aku bawakan makan siang saja nanti? Atau kita makan udon lagi?” Hana tak menunjukkan sikap menyayangkan sikap suaminya. Ia dengan telaten membantu Kelana memakai jasnya.


“Makan udon kedengarannya enak.”


“Itu karena kamu lapar, Ayolah sarapan!” Hana menggoda, tapi Kelana tetap menggelengkan kepala.

__ADS_1


“Aku tidak mau, aku ingin ke kantor Pak Rudi dan menghajar pria itu, sembarangan saja dia mengadu pada mama dan membuat mama berpikir aku penyuka sesama.”


Wajah Kelana yang emosi malah membuat Hana tersenyum manis, dia daratkan satu ciuman ke bibir sang suami dan kembali mengusap pipi.


“Hei, kamu benar-benar menjadi seperti anak kecil kalau marah, bagaimana jika anak kita nanti menuruni sifatmu yang satu ini.”


“Biar saja! dia malah harus lebih berani dariku, aku akan mengajarinya bagaimana menjadi seorang Pramudya sejati.”


“Dasar sombong!” cibir Hana, kali ini dia sukses mencairkan hati Kelana. Terbukti pria itu merapatkan tubuh dan memeluk kedua sisi pinggangnya.


“Kenapa? apa kamu menyesal terjerat dengan pria sombong sepertiku? Katakan saja kalau kamu memang terpaksa.” Kelana menggoda. Ia jelas ingin jawaban yang manis-manis untuk membuat suasana hatinya jauh lebih baik.


“Kamu tahu, aku tahu, kita tahu. Kalau awalnya kamu terpaksa menikahiku hanya untuk mendapatkan pabrik gula nenek Ayu.” Jawaban Hana membuat Kelana menghilangkan senyum.


“Kita sarapan ya!” bujuk Hana lagi setelah Kelana melepaskan pagutan bibir.


“Tidak!” Pria itu menggeleng dan menolak mentah-mentah, dia tetap pada pendiriannya untuk pergi ke kantor tanpa sarapan.


Hana pun hanya bisa pasrah, tinggal nanti menjelaskan saja ke Dinar bahwa putra tunggalnya yang sangat keras kepala itu enggan untuk sarapan karena masih kesal.


Ah … tidak ... tidak, mana mungkin Hana akan seterus terang itu, dia memutuskan memberi alasan ke sang mertua kalau suaminya ada rapat dadakan pagi ini.

__ADS_1


***


“Benarkan dia marah?”


Baru saja kaki Hana menapaki lantai ruang makan, Dinar sudah berujar. Gurat kekecewaan nampak jelas di wajah wanita itu. Ia bahkan tadi sudah menelepon Rudi dan memarahinya habis-habisan. Rudi pun takut, dia sudah mempersiapkan diri untuk dilabrak Kelana karena mulutnya yang berbisa.


“Biarkan saja lah Ma, nanti juga hilang sendiri,” kata Hana. Dia melihat sop bola-bola ayam di meja makan yang menggiurkan.


“Lalu benarkah kamu hamil?” tanya Dinar antusias. Ia bahkan dengan sigap menyendokkan sayur untuk Hana saat mendapati menantunya itu beberapa kali menelan ludah.


“Hem … tespeknya menunjukkan garis dua Ma, tapi aku akan memastikannya dulu ke dokter. Apa Mama senang?”


“Senang sekali lah.” Dinar sejenak melupakan rasa sedihnya karena tak dipedulikan oleh sang putra. “Aku akan menganggap dia anak bukan cucu. Karena punya anak satu saja seperti itu bentukannya.”


“Ya Mama, tapi anak ini kan benih kecebongnya Kelana, mau tidak mau sifat dan bentukannya nanti pasti mirip dengan papanya,” sergah Hana.


“Tapi Mama masih ada harapan karena dia sudah bercampur dengan genmu, tidak seratus persen gen anak si Ekuador itu,” ucap Dinar tak mau kalah.


_


_

__ADS_1


_


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2