Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 94 : Anak


__ADS_3

“Tentu saja Mama iri, kamu pikir bagaimana rasanya dikalahkan oleh adik yang sangat menyebalkan seperti Tata,” ketus Dinar seolah dirinya paling benar.


Kelana pun geleng-geleng kepala, dia toleh Hana yang masih berdiri dan mereka pun bertatapan. Bahu Hana mengedik seolah berkata ‘itu ibumu, coba kau selesaikan sendiri dan nasehati’


Namun, Kelana dengan kode mata memintanya mendekat, Hana pada akhirnya duduk. Meskipun dia masih sedikit takut melihat tatapan Dinar. Mertuanya itu jelas tidak akan tinggal diam saat keinginannya tak bisa terpenuhi.


“Mama pikir kita punya kuasa dan bisa dengan seenak hati jika ingin anak jadilah anak?” tanya Kelana, pria itu mencoba membuat Dinar berpikir tentang keinginannya yang sedikit aneh. Anak adalah berkah dari yang maha kuasa, jika belum diberi kepercayaan mau jungkir balik salto kayang pun manusia hanya bisa bersabar dan melakukan ikhtiar.


“Ya usaha lah, bagaimana caranya biar kalian cepat punya anak.” Dinar benar-benar keras kepala, jika Kelana tidak mendengar nasihat Hana tentang menghormati orang tua, tentu saja dia sudah tidak bisa berbicara sopan saat ini pada mamanya.


“Kita sudah usaha kok Ma, bahkan buku dari Mama sudah kita pelajari. Iya ‘kan sayang?” Hana menoleh Kelana, pria itu malah melotot dengan kening terlipat halus. Kelana baru paham saat Hana mengedip beberapa kali sebagai tanda kode untuk mengamini ucapannya.


“Ah … iya, benar-benar, kita sudah usaha Ma, bahkan kita berusaha dengan keras,” jawab Kelana asal.


Dinar yang masih dalam mode iri hati tak serta merta menerima alasan sang putra. Ia meminta bukti konkrit, nyata. Bahkan dia meminta jika harus melakukan bayi tabung, lakukan sekarang juga.

__ADS_1


“Kenapa bibitku harus dikembangbiakan di luar? Mama tidak yakin dengan kemampuanku membuahi sel telur Hana?” Kelana mulai naik darah, Hana yang sadar nada suara suaminya meninggi pun memilih untuk menarik sisi jas pria itu.


“Ah … susah ngomong sama kalian, bahkan permintaan Mama yang mudah saja tidak bisa kalian penuhi.” Dinar menyerongkan badan dan merajuk.


“Ma,” panggil Hana dengan nada lembut. “Kami juga menginginkan anak, kami menginginkan buah hati juga sebagai pelengkap pernikahan. Jika Mama saja menggebu-gebu, seharusnya Mama tahu bagaimana perasaan kami.”


Kelana menoleh, dia tatap Hana heran. Istrinya itu memandang Dinar dengan mata teduh.


“Kami juga sangat menginginkan anak,” imbuh Hana. “Mama juga harus tahu aku dan Kelana berusaha sekuat tenaga, kita perang setiap malam, iya ‘kan sayang?”


“Kalian tahu? Nenek kalian berkata akan memberikan saham pabrik tekstilnya sebagai hadiah jika cicit pertamanya lahir. Jika sampai itu terjadi, Saham Rafli akan tinggi, dia bisa menjadi direktur di sana.”


“Lalu?”


Dinar terkekeh ironi, dia tak menyangka putranya akan menjawab seenteng itu. “Lalu? apa kamu tidak berpikir setelahnya dia akan mulai menguasai aset lainnya, Kelana kamu bisa ditendang, kamu bisa diinjak-injak oleh anak si Tatang,” tegas Dinar, urat di lehernya bahkan sampai terlihat.

__ADS_1


“Ma, aku tidak akan jatuh miskin hanya karena Rafli mendapat saham pabrik tekstil itu,” ucap Kelana dengan nada lembut.


“Ma, apa Mama sebenarnya cemas jika aku memiliki masalah kesuburan?”


Pertanyaan Hana membuat Dinar dan Kelana kaget, mereka pun menoleh dan menatap Hana secara bersamaan.


Hana hanya bisa menarik napas panjang lalu mengeluarkannya kasar, dia mengangguk-angguk bak burung kutilang. “Apa Mama ingin pergi ke rumah sakit? kita temui dokter kandungan agar aku bisa diperiksa dan membuat Mama tenang.”


“Bisakah sekarang?” tanya Dinar antusias.


_


_


Scroll ke bawah 👇

__ADS_1


__ADS_2