Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 232 : Tidak Sebodoh Itu


__ADS_3

“Aku tidak pernah main-main karena aku bukan anak kecil.”


Kelana membiarkan saja Bunga melakukan apa yang sedang dilakukan. Wanita itu pasti ingin menunjukkan ke semua orang bahwa Kelana ingin melakukan hal buruk kepadanya. Namun, tanggapan Kelana yang santai membuat Bunga akhirnya menghentikan aksi dan malah menatap kebingungan. Wanita itu memutar kepala untuk mencari sesuatu di ruangan sang atasan. Tak menemukan apa yang dia cari, Bunga menatap Kelana heran.


“Kamu!” Bunga mengeram.


“Aku tidak sebodoh itu Bunga, kamu pikir aku tidak mengantisipasi hal seperti ini? ruanganku memang sudah terpasang CCTV, tapi jelas tidak akan aku letakkan sembarangan yang bisa dengan mudah kamu lihat dengan mata telanjang.” Kelana tersenyum jemawa, dia geleng-geleng kepala karena Bunga benar-benar syok sampai tidak bisa berkata apa-apa.


“Sepertinya Bagas dan dirimu memang sama-sama cerdas. Ah … bukan, licik lebih tepatnya.” Kelana berbicara dengan nada menghina dan penekanan di akhir kalimat. Dari intonasinya Bunga pun tahu kalau suami dari wanita yang sangat dia benci itu sedang meremehkan dan menghina. “Tapi aku jelas lebih cerdas dari kalian.” Kelana memulas smirk tapi sepersekian detik ekspresinya berubah marah.


“Kamu jelas tahu apa yang harus kamu lakukan setelah ini, tidak perlu aku beritahu. Lakukan seperti apa yang suamimu lakukan! enyahlah dari perusahaanku dan jangan pernah menampakkan diri kalian lagi di depanku dan Hana.”


Bunga malah tertawa, dia membuang muka sebelum kembali menoleh ke pria yang baru saja memecatnya itu. “Cih … kamu hanya menjadi alas kaki Hana, wanita itu pasti sudah melakukan cara licik untuk bisa mendapatkan kepercayaan dan juga kesetiaanmu. Apa yang dia berikan oleh wanita yang sudah tidak perawan lagi saat menikah denganmu itu?”


“Jangan berbicara yang buruk tentang Hana di depanku! aku tidak akan segan merobek mulutmu meski kamu perempuan,” ancam Kelana.


Bunga pun mati kata dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia keluar dari ruangan Kelana setelah membanting pintu dengan sangat keras. Wanita itu bersungut-sungut kesal, di dalam lift dia sibuk mengancingkan kembali kemeja dan merapikan rambut, niatnya membuat seolah-olah Kelana ingin memperkosaanya pun gagal.


“Dasar wanita itu memang sudah gila, bagaimana bisa dia melepas kancing baju di depan pria yang sudah beristri?” gerutu Kelana. Ia pun melirik ke empat lemari yang ada di dalam ruangan di mana dia sudah memasang CCTV di sana.

__ADS_1


“Meski jadinya aku tidak bisa lagi hohohehe di kantor tapi setidaknya aku selamat dari perbuatan Bunga tadi.”


_


_


Hana terbahak-bahak, dia yang beberapa menit yang lalu baru saja berkenalan dengan tetangga-tetangga barunya seperti sudah bisa menyatu. Di antara ibu-ibu itu dirinya lah yang paling muda. Dinar pun ikut berbincang, bahkan dia sudah mendapat nomor ponsel ibu-ibu itu.


“Waktu itu aku melihat jeng-jeng ini sedang mau senam, eh … malah tawuran, astaga aku sampai takut dan heboh seluruh jagad pergibahan sosialita,” ucap Dinar saat mengingat kenangan lama.


“Ya, itu karena ada yang rese. Kami pokoknya anti muka dua,” jawab Bu Dewan. Ia memukul-mukul paha Dinar yang duduk tepat di sebelahnya.


“Anak saya yang mana? Sagara? Biru? Atau Senja?”


“Em … anak SMA perempuan,” jawab Hana ragu. “Dia sangat lucu, dia menyapa kami saat pertama kali sampai.”


“Apa yang dia katakan?” tanya Bu Dewan penasaran.


“Dia bilang katanya penghuni komplek ini bekerja sebagai mata-mata.” Hana sedikit sungkan mengatakan hal ini, tapi mau bagaimana lagi? dia juga sangat penasaran.

__ADS_1


“Ah … Marsha.” Ibu-ibu itu menjawab serempak bak paduan suara. Hana yang bertanya pun sampai dibuat kaget. Istri Kelana itu kikuk dan hanya bisa berkata O.


“Dia keponakan Mina, anak itu memang menganggap kami semua adalah musuh, dan sebentar lagi dia akan dinikahkan oleh ibunya.”


“Apa? anak SMA dinikahkan? Kenapa bisa?”


“Bisa, semua itu gara-gara kutang,” jawab Mina sambil menyesap premium boba rasa cokelat yang mereka beli via aplikasi go back. “Tapi nanti masih beberapa bulan lagi menunggu sampai umurnya sembilan belas tahun.”


Hana bingung merespon, karena ternyata selain ibu-ibu kompleknya yang agak unik, anak yang menyapanya dan Kelana kemarin juga tak kalah unik.


_


_


_


_


Scroll ke bawah 👇

__ADS_1


__ADS_2