Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 167 : Alasan Perceraian


__ADS_3

Kabar rencana perceraian Arman dan Tantri akhirnya terdengar ke seluruh telinga orang. Marketing MLM alias mulut lewat mulut memang sungguh marketing yang sangat ampuh di negara +62 ini, sayangnya terkadang bukan produk yang dipromosikan tapi kehidupan orang.


Hana mulai kerepotan menjawab pertanyaan dari paman dan bibinya. Mulai dari yang memang benar-benar peduli pada keutuhan rumah tangga papanya, sampai yang hanya ingin mendapatkan bahan obrolan saat bertemu dengan sesama saudara.


Baru saja kembali dengan badan sedikit lelah, Hana ditelepon oleh Arman. Suara papanya itu terdengar begitu emosi, Arman menceritakan kejadian yang dia alami. Di saat dia selesai operasi dan Tantri pamit pulang ke rumah untuk istirahat dan mandi, ternyata wanita itu juga membongkar isi lemari. Tantri menemukan buku tabungannya yang berisi cukup uang untuk biaya operasi dan pertengkaran pun terjadi.


Tantri memang tidak langsung menanyakan soal buku tabungan itu ke Arman, dia menunggu sampai kondisi suaminya stabil dan sengaja baru berbicara saat Arman kebingungan mencari buku tabungannya itu di lemari.


“Mama tirimu itu sungguh luar biasa,” ucap Kelana setelah mendengar cerita dari Hana. “Bagaimana aku mengucapkannya dengan benar? Ah … dia luaaaaaarrr biasaaahhh.”


Hana yang tahu kalau suaminya hanya menyindir memilih untuk tidak merespon, dia masih sibuk membalas pesan dari orang-orang yang ingin tahu kabar itu, Hana bahkan membuat satu kalimat yang sedikit panjang untuk dikirimkan ke semua orang yang bertanya.


“Aku baru tahu kabar itu, dan bukan kapasitasku untuk menjawab pertanyaan seperti ini, lebih baik jika benar-benar peduli datang saja ke rumah papa dan tanyakan langsung, membujuknya sendiri untuk mempertimbangkan perceraian di usia yang sudah tak lagi muda jauh lebih baik dari pada hanya ingin tahu, dan tidak memberikan solusi.”

__ADS_1


Hana mematikan ponselnya. Ia menyugar rambut frustrasi. Kelana merasa kasihan melihat istrinya pusing dengan masalah yang terjadi. Pria itu berpikir Hana sepertinya tidak pernah merasakan kedamain dalam hidup meski hanya sejenak.


“Sudah! jangan terlalu dipikirkan!.” Kelana memeluk Hana. Wanita itu membenamkan kepala ke dadanya dan mengangguk. “Papa sudah cukup makan asam garam, jadi aku yakin masalah ini pasti bisa dia selesaikan dengan baik.”


“Aku benar-benar bingung, terkadang menyesali masa lalu, tapi terkadang tidak ingin menyesalinya. Karena jika menyesal aku jelas tidak akan sampai berada di pelukanmu,” lirih Hana.


Kelana mengecup lembut kening Hana, dia kembali mengusap lembut punggung sang istri untuk menunjukkan bahwa dia akan selalu ada, tidak perlu resah dan merasa sendiri di sistuasi apa pun di dalam hidupnya.


“Terima kasih!”


***


Lebih parah dari Hana yang hanya diberondong pesan oleh paman dan bibinya, Bunga dan Bagas dibuat menganga mulutnya saat sampai di kediaman mereka. Keduanya mendapati pintu rumah terbuka, mereka sempat berpikir baru saja kerampokan, bahkan Bunga mendorong Bagas agar lebih dulu masuk ke dalam rumah untuk memeriksa.

__ADS_1


Ruang tamu bersih seperti saat mereka tinggalkan, tapi mereka syok saat kaki menginjak ruang keluarga. Ada bantal dan selimut di sofa, meja nampak berantakan dengan bungkus makanan dan bahkan bekas tisu berserakan. Mereka pun mencium aroma kopi yang menguar. Bagas pun seketika murka mendapati Tantri keluar dari arah dapur dengan daster dan rambut sedikit berantakan.


“Apa yang Mama lakukan di sini? siapa yang mengizinkan Mama masuk dan memberi kunci?”


Bunga menelan saliva, dia lupa sudah memberikan kunci rumahnya ke sang mama. Awalnya Bunga hanya berniat meminta tolong Tantri memanggilkan jasa kebersihan untuk membersihkan rumah selama dia di Jogja, tapi tak dia sangka wanita yang melahirkannya itu bertengkar dan malah terancam diceraikan oleh papa tirinya.


“Bunga yang memberikannya, dengan sukarela.”


_


_


_

__ADS_1


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2