
“Apa yang akan kamu lakukan sekarang Mas?” tanya Bunga. Ia pandangi Bagas yang hanya duduk diam bersandar pada kepala ranjang. “Jangan bilang Mas mau pasrah saja!”
“Apa kita harus meminta maaf pada Hana?”
Bunga seketika merasa malas saat Bagas menanyakan hal itu, karena baginya meminta maaf ke Hana adalah satu-satunya hal yang tidak mungkin dia lakukan, Bunga jelas tidak mau memelas ke wanita yang sangat dia benci itu.
Di sisi lain, tanpa sepengetahuan Bunga dan Bagas, Tantri mengoreti uang yang dia simpan. Wanita itu duduk di ranjang kamar memandangi uang yang seharusnya dia buat untuk hal yang lebih bermanfaat, tapi karena sifat buruk sudah mengalir di dalam darahnya, Tantri malah mengirim pesan ke seseorang yang dia kenal sangat dekat dengan para penjahat jalanan. Wanita itu menawarkan uang untuk satu pekerjaan- mencelakai orang.
***
Dinar akhirnya mau pergi ke salon yang disebutkan Hana, meski sekuat tenaga harus menyembunyikan perasaan senangnya, Ia juga heran melihat Tata yang sok kenal dan sok dekat ke Hana. Mereka berbincang banyak hal bahkan membicarakan soal Rita. Menantu Tata itu sangat suka makan mangga muda setelah hamil, bahkan terkadang meminta pizza di jam satu pagi.
__ADS_1
“Untung ya kamu tidak seperti itu, merepotkan saja!” sindir Dinar, dia sepertinya gatal jika tidak mencibir sang adik.
"Mungkin belum sih Ma, tidak tahu nanti.” Hana tertawa, dia tak enak hati juga ke Tata. Ingin rasanya dia membuat rukun dua wanita itu, tapi dia juga tidak tahu bagaimana caranya. Jika Ayu, Kelana dan Rafli saja tidak bisa melakukan itu, apa lagi dia yang tergolong masih anggota keluarga baru.
Mobil yang mereka gunakan melesat menembus jalanan. Hana sesekali melihat ke kiri dan kanan. Ia tak menyangka bahwa sekarang hidupnya bisa semewah ini, meski tak pernah mencolok menggunakan perhiasan dan aksesoris mewah, tapi kenyamanan duduk di mobil seharga hampir tiga miliar tidak pernah ada di dalam bayangannya. Meski, mobil itu adalah mobil Dinar.
Sesampainya di salon, Hana langsung menuju resepsionis untuk mendaftar, untung mereka ke sana saat hari kerja dan masih terhitung siang, tak perlu menunggu lama dia, Tata dan Dinar pun mendapatkan perawatan yang dikehendaki. Dinar masih saja tak mau berbicara pada sang adik, hingga Tata memilih mengobrol dengan Hana. Menurut Tata menantu kakaknya ini lebih friendly.
“Wah … idemu bagus juga, setelah udon malamnya ngadon, cucok sekali.” Niat hati Tata ingin bercanda dengan mengucapkan kalimat itu, tapi siapa sangka Dinar lagi-lagi membalasnya dengan ketus.
“Udon ngadon, mau ngadon sama siapa kamu? laki aja nggak punya, sama mister dildoo?”
__ADS_1
“Brtt … “ terapis kecantikan yang sedang membasuh kaki mereka bertiga pun tak bisa menahan keterkejutan dan tawa, mereka tidak menyangka ada orang sevulgar Dinar ini.
“Menurutmu? Kalau aku sedang gatal main sama siapa? sewa mister gigiloe?” Tata akhirnya sewot, dia malah semakin membuat para terapis tertawa dengan sengaja memplesetkan julukan untuk pria bayaran. “Enakan juga sama mister dildoo, nggak usah repot takut identitas kita dibongkar-bongkar.”
_
_
_
_
__ADS_1
Bersambung dulu 🤗