Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 135 : Acara Diadakan di


__ADS_3

"Apa dia meminta maaf?”


“Tidak, tapi dia masih sibuk bekerja saat aku pulang.”


Kelana berdiri di depan Hana yang telaten melepaskan simpul dasi dan membantu membuka kancing kemejanya. Tadi tak lama setelah kembali ke kantor, Hana memilih untuk langsung pulang. Ia membersihkan apartemen dan bahkan membuat sup ayam sebagai makan malam.


“Kamu mandi dulu setelah itu kita makan,” ucap Hana. Senyumnya mengembang dengan indah dan semakin semringah karena Kelana mengecup keningnya.


“Kita makan? Saling memakan atau apa maksudmu?” goda Kelana yang selalu bisa membuat Hana tersipu malu. Wanita itu mencubit pipinya gemas sebelum menjawab jika yang dia maksud adalah makan malam betulan untuk mengisi perut.


“Baru juga setengah hari tidak bekerja, tapi kamu sudah mulai menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga,” ujar Kelana.


“Hem … aku anggap itu sebagai pujian Pak, dan aku harap kamu bisa menerima diriku yang saat kamu pulang berpenampilan seperti ini.” Hana sengaja menjauhkan badan, dia berputar sambil tertawa-tawa.


Bukannya daster atau piyama, Hana mengenakan baju kekurangan bahan berwarna hitam, bagian atas badannya terekspos dengan semburna, bahkan jelas sekali dadanya yang padat berisi seperti bola voli. Ya, Hana sudah pernah merasakan diselingkuhi karena kurang merawat diri, dia pun kini berkomitmen tetap menjaga penampilan. Setiap Kelana pulang dia ingin terlihat segar, wangi dan rapi seperti sekarang.

__ADS_1


“Coba dokter tahu kalau setiap hari aku disuguhi pemandangan seperti ini, jelas dia akan maklum kenapa aku tidak bisa menahan meski hanya satu hari,” ucap Kelana dengan nada sedikit mengomel. Ia yang sudah bertelanjang dada hampir saja meraih pinggang Hana, tapi wanita itu lebih dulu mundur ke belakang.


“Mandi sana mandi, jangan buat rudalmu beraksi!”


Hana secepat kilat berlari, dan semakin membuat Kelana gemas. Pria itu merasa bersykur sekaligus bahagia. Kelana berharap rumah yang sudah dia siapkan untuk sang istri tercinta segera selesai. Kelana ingin menjadikan rumah dan seisinya sebagai hadiah ulang tahun untuk Hana yang ke tiga puluh.


**


Lain Hana lain Bunga, wanita itu lelah hingga sesampainya di rumah langsung merebah di ranjang. Ia bahkan belum mengganti baju kerjanya dan memilih untuk memejamkan mata. Dia dan Bagas memilih pulang sendiri-sendiri. Suaminya itu sudah pulang lebih dulu tadi. Pria itu kini tengah menatap heran padanya yang menguasai ranjang. Tangannya terlentang seperti sedang melakukan peregangan.


“Apa sebegitu capeknya?” tanya Bagas yang terdengar tak punya empati. Bunga pun memilih mengabaikan pertanyaan suaminya itu dan memilih untuk tidak membuka mata.


“Ya ampun kamu itu lho nggak bisa apa dikit aja ngerti, aku itu capek” amuk Bunga. Tak hanya menggeser badan, dia bangun dan duduk dengan ekspresi marah. Sorot matanya benar-benar seperti harimau yang ingin mencakar mangsa.


“Namanya kerja ya capek, rasain sendiri. Selama ini kamu hanya diam di rumah, tidur-tiduran, dan menghamburkan uang untuk belanja,” sindir Bagas.

__ADS_1


“Hah … awas saja kamu! meski aku bekerja tapi kamu juga harus tetap memberikan nafkah untukku” ucap Bunga. “Kalau kamu tidak memberiku nafkah seperti biasa, lihat saja aku akan berkoar-koar di kantor agar kamu malu.”


“A-a-apa? berani ya kamu mengancam aku?” Bagas tak habis pikir, Bunga sudah berani melawannya seperti itu.


“Sudahlah aku capek, malas berdebat soal itu. Aku diminta Hana bertanya bagaimana progres acara gathering yang diinginkan Pak Kelana bersama bagian HRD. Kapan acaranya?” Bunga berdiri, dia tatap suaminya yang kini sudah berada di atas ranjang sambil meluruskan kaki.


“Seminggu lagi, acara itu akan diadakan di Jogja,” jawab Bagas singkat.


_


_


_


Jogja mulu Na?

__ADS_1


Lha piye aku wong Jogja je, ben feel like home gitu


note : Aku UP satu-satu geng takutnya nyantol kek Marsha, maaf ya atas ketidaknyamanannya. Berikan bintang lima 🥰


__ADS_2