
“Kelana memang sangat mencintaimu, dan Mama bahagia, dengan menikah denganmu dia sedikit berubah. Ia lebih sering menghubungi Mama.”
Dinar dan Hana duduk di halaman belakang sambil menikmati secangkir teh, sedangkan para pembantu sudah sibuk membereskan rumah sesuai dengan perintah menantu majikan mereka. Hana tesenyum, menunduk lalu mengusap perutnya. Ia bersyukur sejak bertemu dengan Kelana hidupnya juga berubah, meski ada jungkir balik dan rasa kesal juga saat pertama kali berhadapan dengan pria itu.
“Aku meyakini Ma, bahwa pernikahan bisa menjadikan seorang individu menjadi jauh lebih baik ….”
“Jika bertemu dengan yang baik juha,” potong Dinar cepat.
“Hem … aku juga mau berkata seperti itu tapi Mama lebih dulu memotong.” Hana mencebik lalu tersenyum. Dinar yang baru saja menggodanya pun memalingkan muka untuk menyesap teh.
“Aku juga baru tahu kalau ternyata mantan suami tante Tata menyukai Mama.” Hana berbicara dengan nada suara pelan, dia takut terkena sembur sang mertua karena merasa pembahasan ini sedikit sensitif.
“Begitulah, si Tono itu bahkan melamarku dan ingin menjadikan aku istri kedua, coba bayangkan! bagaimana anehnya? secara garis keturunan Tata adikku, tapi secara hubungan perkawinan aku jadi madunya, membagongkan.” Dinar menggelengkan kepala, bahunya mengedik beberapa kali karena dia geli sendiri membayangkan itu.
“Tapi lebih dari itu, Mama tidak bisa melupakan si ekuador papanya Kelana. Dia pria baik, penyayang. Pokoknya tidak akan ada yang bisa mengantikan posisi dia.” Merasa pembahasan itu membuat air matanya ingin tumpah, Dinar berdiri. Wanita itu membuang napas kasar dari mulut lalu berseloroh kembali, “Mama mau melihat kamarmu dan Kelana, penasaran.”
__ADS_1
“Brtttt …. “ Hana kaget dan bergegas menghabiskan tehnya dengan buru-buru, dia tidak ingin sampai Dinar melihat gambar awan di sprei ranjangnya dan Kelana. Meski begitu Hana tidak bisa berlari mengejar sang mertua yang masih lincah meski usianya sudah tak lagi muda. Hana hanya bisa berjalan cepat karena harus memikirkan kandungannya. Tak bisa dipungkiri dulu dia pernah keguguran dan trauma.
_
_
Di sisi lain semua orang di perusahaan Kelana tercengang, karyawan yang mencuri waktu ngopi di kantin pun sampai melongo. Satpam, resepsionis dan karyawan yang sedang melintas di lobi semuanya mengaga. Mereka melihat di layar TV terpampang video pria yang sedang sibuk membenarkan selangkangaan.
Bagas tak sadar bahwa kamera di bawah mejanya menyala, dia mendesis karena sibuk membetulkan letak teripangnya yang mengganjal. Bunga yang turun pun sempat menoleh melihat pada layar, tapi dia cuek dan berjalan cepat keluar menuju parkiran. Ia masih butuh bekerja di perusahaan Kelana, jadi jangan sampai dia harus menulis surat pengunduran diri karena tugasnya gagal.
Dewi bergegas meraih ponsel. Status yang ditulis Nida yang merupakan staff dari divisi lain membuatnya mengaga tak percaya. Mereka semua akhirnya ribut, sampai Bagas menghentikan aksi mengusap teripang secara live dan menjadi pembicaraan orang-orang.
“Kenapa kalian ribut? Apa pekerjaan kalian sudah selesai?” bentak Bagas dari depan pintu ruangannya.
“Pak Bagas, lihat ada sesuatu yang mengejutkan,” ucap Dewi heboh.
__ADS_1
Bagas memutar bola mata malas, tapi meski begitu dia tetap ingin tahu apa yang terjadi. Pria itu mendekat ke arah Dewi dan menyambar ponsel bawahannya itu. Bagas terkejut, dia melihat rekaman yang Nida buat. Nida merekam layar TV di lobi yang menampilkan bagian bawah tubuh seorang pria dengan tangan yang sibuk mengusap-usap pusaka, lalu mengunggah rekaman itu di status aplikasi berbalas pesan miliknya disertai kalimat-
“Apa ada orang yang dengan sengaja meletakkan kamera di bawah meja orang ini? atau pria ini memiliki kelainan?”
Bagas mengembalikan ponsel Dewi dengan tergesa. Ia membentak semua bawahannya dan meminta mereka kembali bekerja. Dengan santai Bagas masuk kembali ke ruangan. Ia seratus persen sadar bahwa rekaman itu adalah dirinya.
Mencoba terus bersikap tenang, Bagas menyentuhkan tangan ke bagian bawah meja kerjanya dan menggapai-gapai. Dia mendelik saat tangannya menyentuh sesuatu.
“Si-si-siapa yang melakukan ini padaku?” gumamnya.
_
_
_
__ADS_1
To be continued