Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 62 : Ramuan


__ADS_3

Mengenakan baju sederhana tapi branded, Hana mengekor langkah sang mertua masuk ke sebuah hotel bintang lima, mereka menuju ke sebuah ruangan, di sana ternyata sudah berkumpul banyak wanita yang merupakan teman sosialita Dinar. Hana melongo melihat betapa glamor-nya orang-orang itu. Matanya memindai beberapa dari mereka mulai dari ujung kaki sampai rambut, semua wanita itu menggenakan barang mahal dan membuat Hana berdecak kagum.


“Ish … jangan seperti itu, ingat kamu menantu dan istri dari seorang Kelana Pramudya, tidak sepantasnya kamu mengagumi penampilan wanita lain,” ucap Dinar dengan suara lirih, dia bahkan bisa berbicara sambil tersenyum ke arah wanita-wanita yang berpapasan dengannya – sesama sosialita tapi bukan bestie-nya.


Hana pun hanya diam, dia memilih mengatupkan bibir mengurungkan niat mengeluarkan bantahan dari pada terkena omelan dari sang mertua.


Saat Dinar memperlambat langkah, Hana pun sadar ibunda suaminya itu sudah bertemu dengan sahabat sosialitanya. Namun, aneh. Hana mendapati Tata juga berada di sana tapi tidak di kelompok sang mertua.


“Cih … mereka kakak-adik tapi sepertinya bermusuhan, apakah benar kata orang harta membuat lupa saudara?” Gumam Hana dalam hati, dia tanpa sadar tertawa sendiri dan dibuat kaget saat Dinar menyenggol tangannya.


“Ah … senang bertemu Anda semua,” ucap Hana sopan ke teman-teman Dinar. Ia pun tersenyum manis bak permen kapas.


Dinar pun mengangkat dagu, menunjukkan kesombongan. Wanita itu sebenarnya punya maksud mengajak Hana ke sana, dia ingin pamer ke teman-temannya. Dinar ingin temannya tahu, meski sang menantu janda tapi memiliki spesifikasi yang melebihi perawan.


Tak bisa dipungkiri bahwa Hana sangat anggun juga cantik. Dan setelah bercerai dari Bagas Hana selalu menjaga penampilan. Tubuhnya yang singset dan aduhai pasti membuat orang tak akan percaya bahwa dia seorang janda.


Namun, ternyata acara kumpul sosialita tak hanya sekadar pertemuan belaka, Hana dibuat kagum sekaligus melongo. Ia kagum karena wanita-wanita itu ternyata sedang melakukan penggalangan dana, dan melongo karena ternyata mereka juga menjadikan pertemuan itu ajang pamer harta.


Bagaimana tidak pamer? tmacara itu juga diisi dengan kegiatan lelang. Dari mulai lukisan, tas branded limited edition hingga berlian, parahnya sebuah villa pun ikut dilelang di sana.


Lima miliar


Enam miliar

__ADS_1


Tujuh miliar


Hana gemetaran hingga tubuhnya limbung mencari pegangan. Ia heran karena wanita-wanita itu dengan mudahnya mengucapkan angka diikuti kata miliar di belakang.


“Kenapa? apa kamu sawan?” cibir Dinar yang melihat sang menantu tremor – tangan Hana gemetaran.


“Kurang asupan manis Ma, aku izin mengambil minum dulu,” ucap Hana. Ia berjalan menjauh dari kerumunan para sosialita itu untuk menuju stand hidangan yang sudah disediakan.


Hana membelakangi wanita-wanita itu yang masih sibuk dan fokus mengikuti lelang. Ia bahkan tidak peduli dengan kerusuhan mereka saat berebut barang yang ditawarkan. Hana memilih menenggak minuman dan mengambil beberapa camilan.


“Seharusnya aku sarapan dulu tadi, kepalaku pusing. Apa lagi aku sedang kedatangan tamu,” gerutu Hana. Ia memulas senyum dengan sedikit terpaksa saat pelayan menatapnya.


***


“Kamu kenapa?” tanya Dinar saat dia dan Hana sudah berada di dalam mobil untuk pulang ke rumah.


“Tidak apa-apa Ma, hanya sedikit syok saja melihat orang kaya yang sepertinya sangat mudah mengeluarkan uang.”


Ucapan Hana membuat Dinar tertawa, dia merasa menantunya sangat lucu. Wanita itu menoleh ke arah jendela, hingga Hana mengajaknya bicara lagi.


“Mama menang lelang apa saja?”


“Tidak ada, aku tidak tertarik sama sekali. Tata sedang bokek, dia tidak berani menawar apa-apa tadi, tidak seru membuka tawaran tapi si Tatang tidak ikut, hiburanku adalah membuatnya kesal,” kata Dinar.

__ADS_1


“Aku senang saat dia punya uang tapi tidak bisa membeli apa yang dia inginkan karena aku jegal,” imbuhnya.


Hana pun tertawa, dia menyadari bahwa terkadang orangtua juga bisa berubah menjadi kekanak-kanakan seperti mertuanya ini, tapi belum juga Hana mengatupkan bibir. Dinar mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah wadah kecil berwarna bening dengan krim kecokelatan di dalamnya.


“Apa itu Ma?” tanya Hana penasaran.


“Barang ini aku menangkan dilelang tadi.”


“Apa? berapa miliar Mama membeli obat panu ini?” Hana melongo, tak heran jika dia berkata begitu, karena bentuk wadah yang diulurkan Dinar kepadanya itu berbentuk dan seukuran salep obat kulit terkenal bermerek ‘Salep 86’.


“Tidak sampai miliar, tapi cukup mahal. Itu aku berikan ke kamu agar kamu bisa membuat anakku senang,” ucap Dinar yang semakin membuat Hana tak paham.


“Apa ini salep pijat?”


“Em … bagaimana aku menjelaskan padamu?” Kening Dinar mengernyit, dia bahkan menggaruk pelipis sebelum berucap lagi-


“Ini namanya ramuan Mak War, Mak dalam bahasa Jawa artinya ‘ibu’ dan war dalam bahasa Inggris artinya ‘perang’, ini ramuan ibu perang ‘Mak War’.”


Hana mengerjab, kepalanya bertambah pening karena penjelasan Dinar. “Lalu ini untuk apa?”


“Hish … ramuan ini tidak sembarangan orang bisa dapatkan, isinya ekstrak-ekstrak dedaunan yang diambil dari pedalaman Amazon, ramuan ini dijamin membuat kamu akan kembali perawan, maka dari itu jadi rebutan dan dilelang.” Dinar mengambil kembali wadah itu dari tangan Hana lalu membukanya.


“Colek dikit dan masukkan ke mbak V mu sebelum kamu oh no oh yes dengan Kelana, aku ingin anakku mendapat sensasi seperti bermain dengan perawan, itu lah efek dari ramuan mak war ini.”

__ADS_1


“A-a-apa?” Hana melongo, dia sampai merinding disko mendengar penjelasan sang mertua.


“Hem … iyes,” jawab Dinar mantap bahkan sampai menunjukkan ibu jarinya.


__ADS_2