
“Maaf, tapi aku punya alasan. Aku berencana ingin membuat kejutan, tapi ternyata malah ada kejadian yang tak terduga seperti ini.”
Hana menunduk, perasaannya campur aduk. Jelas dia tidak menginginkan hal ini terjadi. Dia ingin memberitahu kabar bahagia ini kepada Kelana dengan cara yang manis. Sudah terancang apik di pikiran Hana untuk memberikan kue dengan foto hasil USG di dalamnya, atau sebuah kotak berisi tespek yang menunjukkan garis dua. Namun, harapan itu pupus, sang suami malah nampak kesal dan terus menatap tajam padanya.
“Kamu boleh marah, tapi jangan lama-lama ya.” Hana mengangkat kepala, dia hampir menunduk lagi tapi Kelana menahan dagunya dengan jari telunjuk.
“Hunny, lihat aku!”
Meski ragu, Hana melakukan perintah Kelana. Ia pandangi wajah suaminya itu dengan rasa waswas. Hana takut Kelana mengeluarkan kata-kata kejam, atau kemungkinan terburuk menolak kehamilannya ini.
“Apa yang dikatakan mama benar?” tanya Kelana.
Hana mengangguk lantas menunduk lagi, lirih dia berkata, “iya, aku hamil.”
Kelana tersenyum lebar, dia benar-benar sangat bahagia dan terharu. Namun, menyadari bahwa Hana sangat merasa bersalah, ide jahil pun muncul di otak pria itu. Kelana hanya ber-hem lalu meninggalkan Hana yang terbeku. Patah hati Hana setelah pengakuan itu, suaminya seolah abai dan berjalan pergi meninggalkannya begitu saja.
Hingga malam menjelang pasangan suami istri itu masih tak banyak bicara malah cenderung seperti perang dingin. Hana naik ke atas ranjang dan langsung berbaring memunggungi Kelana setelah memakai skincare rutinnya. Tangan Hana gatal. Dia jelas tidak akan terlelap sebelum mengusap dada Kelana.
Sebisa mungkin Hana menepis perasaan itu. Ia mencoba mengingat saat Kelana pergi ke acara temannya dan dia bisa tidur tanpa menyentuh dada pria itu.
__ADS_1
“Aku bisa, aku bisa!” gumam Hana mensugesti diri. Matanya mulai memejam meski dia sadar Kelana masih duduk bersandar pada kepala ranjang sambil menonton televisi.
“Kenapa dia tega sekali? Apa dia benar-benar tidak peduli? Ayolah! Aku sedang mengandung anakmu. Tidakkah kamu bisa memberikan perhatian? Berucap romantis atau sekadar memelukku?”
Hana mengedikkan bahu dan menggeleng. Kelana yang menyadari tingkah konyol sang istri pun hanya bisa menahan tawa, dia sengaja mendiamkan Hana dan berharap sang belahan jiwa akan merengek kepadanya. Kelana geram, memikirkan jika tadi sore terjadi hal yang buruk ke Hana membuat Kelana takut.
Namun, melihat Hana yang gelisah karena tidak bisa tidur membuat Kelana tak tega. Pria itu akhirnya mematikan televisi dan lampu utama sebelum berbaring menghadap punggung Hana. Lamat Kelana memerhatikan sang istri yang terlihat masih bergerak-gerak seperti kurang nyaman.
Kelana menggeser badan. Ia merapat dan sengaja menggesekkan dadanya ke punggug sang istri. Hana yang menyadari hal itu seketika membelalakkan mata, apa lagi saat Kelana memeluknya dari belakang dan mencium belakang kepalanya dalam-dalam.
Hana menjawab dengan gelengan kepala. Ia balas mengusap tangan Kelana sebagai tanda ke suaminya bahwa dia tidak menolak pelukan, perhatian bahkan sentuhan pujaan hatinya itu.
“Sudah berapa bulan?” tanya Kelana kemudian, dia menggerakkan ibu jari untuk mengusap perut Hana yang masih datar.
“Masih hitungan minggu, dokter bilang dua minggu lagi aku bisa datang kembali untuk memeriksa kondisinya.”
“Ah … kamu sudah ke dokter, sepertinya aku bisa menebak kapan kamu menemui dokter? Pasti saat kamu datang terlambat ke restoran udon waktu itu.” Terkaan Kelana yang sangat tepat sukses membuat Hana tersenyum. Ia mengangguk dan tersenyum kecil.
__ADS_1
“Aku bahkan sudah memberimu kode beberapa kali, tapi kamu tidak paham.”
Kelana mencoba mengingat kode apa yang diberikan oleh sang istri, hingga mulutnya membentuk huruf O saat menyadari beberapa petunjuk yang sudah Hana berikan.
“Maaf ya aku sepertinya kurang peka.”
Hana menggeleng untuk yang kesekian kali. Ia memutar badan agar leluasa melihat wajah tampan ayah dari janin di dalam kandungannya. Mata mereka saling bertukar isyarat cinta, Kelana membelai pipi Hana dan mendaratkan sebuah kecupan di kening.
“Terima kasih, jaga baik-baik calon anakku, oke!” pinta Kelana. “Mulai sekarang jika kamu butuh dan menginginkan sesuatu sampaikan padaku, aku pasti akan mengabulkannya.”
“Semuanya?” tanya Hana. Ia tersenyum jahil saat Kelana mengamini pertanyaannya dengan anggukan.
“Sebenarnya aku menginginkan sesuatu … ah … bukan aku, tapi dia,” ujar Hana sambil menunjuk bagian perutnya.
_
_
_
__ADS_1
Scroll ke bawah 👇