
Keringat Bunga bercucuran, ternyata toko Croissant yang Kelana minta merupakan toko yang sedang viral, akibatnya dia harus antri berjam-jam di luar. Bunga juga merasa bahwa kopi yang dia buatkan untuk sang atasan pasti sudah dingin sekarang, belum lagi ringkasan yang Kelana minta.
“Dia sepertinya memang sengaja ingin membuatku kerepotan,” gumam Bunga.
Namun, susah payah dan sampai berlari ketakutan. Bunga mendapati Kelana belum ada di ruangannya. “Sialan, dia benar-benar sengaja membuatku dalam kesulitan.”
_
_
Kelana memang tidak akan datang ke kantor hari itu, dia kini sibuk bersama Dinar meninjau lokasi tambak buatan yang ingin dia persembahkan untuk Hana.
“Sudah tidak perlu dipikirkan, Mama akan membuat pesta malam ini. Kamu tinggal ajak Hana ke sini dan memberi kejutan,” ujar Dinar. “Mama akan undang keluarga dekat dan si Tatang juga, biar dia tahu kalau anakku juga bisa menghamili istrinya, memang Cuma Rafli?” sinisnya.
__ADS_1
“Sebenarnya lusa ulangtahun Hana, jadi anggap saja ini pesta untuknya,” ujar Kelana. Ia memandang petak-petak kolam yang ada di sana dari balik kacamata hitam yang dikenakan. “Kita bisa membuat pesta di sebelah sana, jauh lebih lebar sepertinya,” tunjuk Kelana.
Dinar pun menoleh, tanpa perlu berdebat dia mengiyakan ucapan sang putra. “Mama akan kirim orang untuk menyulapnya menjadi tempat yang estetik, Mama juga akan meminta teman Mama menugaskan chef hotelnya untuk mengolah ikan untuk mantu mama tercinta.”
Ya, menantu tercinta. Gelar yang disematkan Dinar untuk Hana yang kini sedang mengandung cucu pertamanya, tapi akankah dia masih berpikir sama jika nanti Tata membeberkan sebuah rahasia yang membuat mata siapa saja membelalak tak percaya?
“Aku mungkin akan bekerja dari rumah Mama saja, kalau aku pulang Hana pasti akan curiga tapi untuk ke kantor aku malas, ada orang yang pasti sedang kesal sekarang karena aku kerjai.” Kelana memulas smirk sampai Dinar harus berpikir keras menebak maksud dari ucapan sang putra.
“Adik tiri Hana, kenapa kamu menerimanya jadi sekretaris? Mama masih tak habis pikir.”
“Hana masih belum bisa melupakan sakit hatinya, itu tidak baik. Seharusnya kamu menasehati, pecat Bunga, pecat Bagas. Jauhkan Hana dari dua manusia toxic itu, sampai kapan dia akan terus bergelut dengan perasaannya?” Dinar menasehati, dia merasa Hana memang sangat bebal sehingga terus saja memikirkan tentang balas dendam yang tak berkesudahan.
“Lebih dari itu Ma, ada yang paling aku khawatirkan. Selama ini Hana masih mengkonsumi obat yang entah aku tidak bertanya itu apa.” Kelana menoleh ke Dinar. “Melupakan rasa sakit, kehancuran, kehilangan itu tidak mudah, kita tidak yang merasakan dan menjalani sendiri, hanya melihat maka dari itu terkadang menganggap sepele.
__ADS_1
Sementara itu, Hana membuka laci mejanya. Ia memang rutin mengkonsumsi obat anti depresi, tapi semenjak menikah dia sudah tidak mengkonsumsinya lagi, hanya saja dia masih menyimpannya tanpa tahu bahwa Kelana menyadari keberadaan obat itu. Hana membuka tutup botol lantas berjalan ke kamar mandi, dia buang semua obat itu ke dalam closet dan menyiramnya.
“Kelana! Ibu hamil tidak boleh sembarangan meminum obat,” pekik Dinar.
_
_
_
Bersambung dulu 🥰
__ADS_1
MOHON BACA PENGUMUMAN SETELAH BAB INI