
Kelana datang ke rumah Ayu hari itu. Mereka terlihat sudah pasrah dan siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Amanda bilang sudah tidak ada harapan. Ia meminta semua keluarga bersiap untuk melepas wanita tua itu.
Semua yang datang pasti akan pergi, hanya menunggu waktu.
Kata-kata Dinar membuat hati Kelana seperti diiris sembilu. Ia seketika merasa seperti cucu yang tidak berbakti, hingga meneteskan air mata melihat kondisi Ayu. Kelana berpelukan dengan Rafli. Meski sedih tapi pikiran tentang warisan dari Ayu sudah berkeliaran di kepala keduanya.
“Rafli!”
“Kelana!”
Dua papa muda itu saling panggil nama satu sama lain sebelum berpelukan kembali.
_
_
Benar saja, hanya selang tiga hari dari vonis Amanda, Ayu meninggal dunia. Semua orang berduka tak terkecuali ayahanda Hana. Pria itu kehilangan bestie untuk selama-lamanya.
Dinar dan Tata yang sudah baikan pun terlihat kompak menyiapkan acara pemakaman. Mereka bahkan berjanji untuk tidak saling bertengkar satu sama lain, demi ketenangan sang ibunda tercinta.
Namun, ada satu hal yang membuat hal itu tidak akan mungkin bisa dilakukan. Ayu ternyata diam-diam sudah menuliskan sebuah surat wasiat untuk keluarganya. Bahkan dia meminta pengacara membacakannya sebelum bunga di atas pusaranya layu.
Maka, kini semua anggota keluarga berkumpul. Mereka duduk mendengarkan pengacara Ayu dengan muka kuyu. Mata Hana bahkan sembab dan wajahnya pucat. Ia terus menggenggam erat tangan Kelana. Tatapannya menerawang jauh. Ia heran, Ayu meminta dibacakan surat wasiat bahkan saat suasana hati keluarga masih sangat berduka.
“Apa Anda semua sudah siap?” tanya sang pengacara. Wajahnya juga nampak sedih karena apa yang akan dia bacakan nanti pasti akan mengiris hati semua orang.
__ADS_1
Tata dan Dinar menoleh bersamaan, kakak beradik itu saling pandang lalu mengangguk menjawab pertanyaan pengacara.
“Siap,” lirih Rafli dan Kelana kompak.
Pengacara itu berdehem untuk mencairkan suasana, tapi sayang sepertinya dia terlalu mendalami peran sehingga dehemannya malah menjadi batuk betulan. Dinar sampai memanggil pembantu agar membawakan air minum untuk pengacara almarhumah ibunya itu.
“Tenang Pak, sabar. Jangan tergesa-gesa!" Dinar mencoba mengingatkan si pengacara.
Setelah merasa baikan. Pengacara itu pun kembali berdehem, tapi kali ini hanya pelan dan dia pun menunjukkan amplop yang sejak tadi dia letakkan di pangkuan.
“Tertutup ya! bisa dilihat. Ini masih tersegel.”
“Kenapa aku merasa de javu, seperti sedang ujian nasional saat SMA dulu,” gerutu Kelana. Ia diam saat sang istri menyenggol lengannya.
“Baiklah saya akan mulai membukanya.”
Amplop itu dibuka dan terlihat beberapa lembar kertas di dalamnya. Tata dan Dinar semakin tak sabar untuk mendengar wasiat ibunda mereka. Namun, mereka sepertinya harus lebih bersabar karena isi dari surat itu ternyata sangat panjang. Bahkan si pengacara sampai beberapa kali meminta air mineral lagi. Sedangkan Hana sudah ketiduran dengan kepala bersandar pada lengan suaminya.
“ …. dan sampai setelah aku tiada, maka kalian harus rukun-rukun semua.”
“Apa surat wasiat memang isinya seperti ini?” bisik Tata ke Dinar.
“Aku baru sekali ini mendengar surat wasiat, jadi mana aku tahu?”
“Aku pikir ada pembagian harta.”
__ADS_1
“Aku juga!”
Pengacara meletakkan lembaran kertas ke sembilan yang baru saja selesai dibaca. Hingga lembaran ke sepuluh diangkatnya. Pengacara itu membenarkan letak kacamata yang bertengger di hidung lalu bertanya ke semua orang.
“Apa Anda sekalian siap mendengarkan isi dari lembaran terakhir dari surat wasiat ibu Ayu?”
Semua orang kompak menganggukkan kepala.
“Baiklah, mohon disimak baik-baik.”
Hana pun bangun dan menggosok mata. Ia seperti mendengarkan dongeng sampai terlelap.
“Semua hartaku, tidak akan aku berikan ke anak ataupun cucuku, tapi akan aku berikan ke cicit-cicitku. Anak-anak dari Kelana dan Rafli. Namun, ada persyaratan yang harus cicitku penuhi dulu sebelum menerima warisanku.”
Pengacara itu menelan saliva, dia mengangkat kepala dari kertas untuk memindai satu persatu wajah anggota keluarga Ayu.
“Mereka harus menikah dengan janda, dan barang siapa …. ”
“Apa?”
Semua orang syok bukan kepalang. Bahkan Tata dan Dinar hampir terkena serangan jantung. Mereka memotong ucapan si pengacara yang belum selesai berbicara.
“Tunggu! nenek pasti bercanda,” ucap Kelana.
“Iya, dia pasti typo. Salah ketik.” Rafli pun turut menimpali.
__ADS_1
“Ini ditulis tangan jadi mana mungkin typo, Tuan,” kata sang pengacara.