
“Apa kamu sudah tidur? Apa tidak ingin membelai dadaku?”
Pertanyaan Kelana membuat Hana semakin malu, wanita itu membelakangi lawan bicaranya dengan masih menutup kepala dengan bantal.
“Hana, tidak usah malu-malu,” goda Kelana lagi.
Hana pun akhirnya tak peduli dengan gengsi yang masih menyelimuti hati, dia membalik badan dan memeluk Kelana, membuat suaminya itu kaget bercampur bahagia, meski Hana tidak mau mendongakkan kepala tapi dia tahu sang istri sedang tersipu malu.
“Tidur! Atau kita akan begadang,” cicit Hana.
“Begadang untu apa?” sahut Kelana yang lagi-lagi menggoda.
“Sudah lah aku tidak ingin membahasnya lagi,” tutup Hana.
Kamar itu seketika hening hingga hanya terdengar bunyi napas yang teratur dari kedua pasangan suami istri aneh itu.
***
Meski sudah saling membuka hati dan mendeklarasikan diri menjadi sepasang kekasih. Namun, Hana tetap menjalankan tugasnya sebagai sekretaris Kelana, setidaknya sebelum Dinar mengetahui hal ini.
__ADS_1
Pagi itu, Hana sedang berada di pantry untuk membuatkan Kelana minuman seperti biasa.
Bibir Hana tersenyum sambil mengaduk gula dan kopi yang baru diseduhnya dari dalam cangkir, dia tidak sadar seorang pria yang tengah cemburu buta berjalan mendekat dan tiba-tiba saja membalikkan badannya dengan paksa.
Bagas menyambar bibir Hana, sialnya karena terkejut Hana malah terdiam sampai tersadar dan mendorong dada mantan suaminya itu menjauh.
“Apa yang kamu lakukan?” bentak Hana. Ia usap bibirnya dengan alis mata yang berkerut karena keningnya terlipat halus. Hana terlalu terkejut dengan serangan Bagas yang menurutnya sangat berani dan gila.
“Apa kamu sudah melakukannya dengan Pak Kelana?”
“Dasar! Apa yang dia pikirkan hanya selangkangaan?” tanya Hana di dalam hati, dia benar-benar kesal ke Bagas, sehingga keinginannya untuk mendekati pria itu menguar, Hana malah merasa jijik. Apa lagi hubungannya dan Kelana mulai intim. Tiba-tiba saja terlintas di pikiran Hana untuk berhenti mendekati Bagas dan melupakan balas dendamnya.
Bagas terang saja syok, dia melotot lalu memegang ke dua sisi lengan Hana dan mengguncangnya. “Kenapa kamu melakukan itu?”
“Aku yakin kamu saja masih berhubungan dengan Bunga, lalu kenapa aku tidak boleh?” Hana menunjukkan rasa kesalnya. Ia menoleh kopi yang dia tinggalkan dan mendorong Bagas menjauh.
“Aku harus segera memberikan kopi itu ke Pak Kelana, dia tidak suka kopi dingin.”
Hana memilih pergi meninggalkan Bagas yang membeku dan hanya bisa mengepalkan tangan karena geram, Pria serakah itu merasa tidak rela dan berniat untuk menekan Hana.
__ADS_1
***
Hana berjalan menuju ruangan Kelana dengan dada yang berdebar. Jelas bukan debaran cinta, tapi masih kaget karena tingkah Bagas yang tadi menciumnya tiba-tiba, ada perasaan bersalah di hati Hana, bagaimana pun juga dia sudah menjadi milik Kelana.
“Pak, kopi Anda,” ucap Hana sopan selayaknya bawahan ke atasan. Ia heran karena Kelana tak menyahut, dia semakin membuka lebar pintu ruang kerja pria itu dan melihat Kelana sedang menatap layar laptop dengan serius.
Hana pun melangkahkan kaki mendekat, dia sengaja meletakkan kopi Kelana di atas meja pajangan dan berjalan mengendap bak maling.
Namun, aksinya ketahuan Hana. Pria itu mengangkat kepala – kaget, Kelana pun secara spontan menutup laptop yang sejak tadi menyala dan membuat istri sekaligus sekretarisnya heran.
“Kenapa tidak mengetuk pintu?”
“Aku sudah mengetuknya tapi kamu tidak dengar,” jawab Hana. “Kenapa mukamu ketakutan seperti itu, seperti baru saja kepergok ibumu nonton bokeep,” cicitnya.
Hana seketika merasa ucapannya benar, dia menatap Kelana dengan tatapan menyelidik.
“Jangan bilang kamu benar-benar menontonnya!” tuduh Hana.
"Hish.... "
__ADS_1