Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 97 : Cari Mati


__ADS_3

Tak ingin gegabah, Kelana memilih untuk menggunakan akal sehatnya. Ia menyimpan kamera itu sebagai barang bukti. Kelana ingin menangkap basah pelakunya sendiri. Pria itu meminta Hana untuk duduk di tempatnya sementara dirinya menemui petugas bagian CCTV. Kelana berniat meminta data rekaman CCTV di area ruang kerjanya mulai dari saat Hana bekerja menjadi sekretarisnya. Ia tak peduli meski petugas itu harus lembur dan menghabiskan waktu memindai satu per satu rekaman.


“Rahasiakan permintaanku ini dari semua orang, jika sampai bocor maka kalian akan menerima akibatnya,” ancam Kelana. Pria itu masih emosi, wajahnya bahkan nampak garang. Sedangkan Hana yang menunggu di meja kerjanya tidak bisa merasa tenang.


Hana membuka dokumen dan menutupnya kembali, dia benar-benar tidak bisa berkonsentrasi, Sejujurnya dia cemas dengan apa yang akan dilakukan oleh sang suami.


“Ah … siapa juga orang yang meletakkan kamera di situ, cari mati!” gumamnya dalam hati. Ia menoleh saat mendengar derap langkah mendekat. Hana seketika berdiri mendapati Kelana sudah kembali.


“Bagaimana? Kamu tidak memarahi petugas CCTV ‘kan?”


“Tidak, aku tidak memarahi mereka, hanya memberikan tugas ke mereka untuk menemukan siapa yang meletakkan kamera itu di bawah mejamu,” jawab Kelana. Ekspresi mukanya sedikit berubah, mungkin karena melihat wajah cemas Hana, dia menjadi tak tega jika memasang mimik marah.


Saat keduanya masih berdiri berhadapan, pintu lift terdengar terbuka. Kelana dan Hana pun sontak menoleh secara bersamaan ke arah sana. Ia melihat seorang gadis mendekat dengan membawa sebuah berkas.


“Permisi Bu Hana, Pak Kelana. Saya Melly dari bagian HRD. Saya ingin menyampaikan bahwa ada undangan rapat untuk membahas perihal pemilihan sekretaris pak Kelana lusa.”

__ADS_1


“Lusa?” tanya Hana. Ia heran, apa mungkin perekrutan itu akan ditutup dengan cepat. “Sudah berapa banyak yang melamar?” tanya Hana yang penasaran.


“Untuk hari ini saja sudah ada tiga puluhan lebih, Pak Bagas bilang harus cepat mendapatkan pengganti Anda, jadi memang lowongan ini hanya akan dibuka selama dua hari saja,” jawab Melly.


Kelana dan Hana pun saling pandang, mereka sepertinya memikirkan hal yang sama. Hingga Kelana mengucapkan terima kasih dan meminta Melly kembali ke tempatnya.


_


_


“Bagas?”


“Siapa lagi?” Kelana duduk di kursinya, menyandarkan punggung dengan kasar karena kesal. Ia paling tidak bisa tinggal diam jika ada yang mengusik miliknya. Apa lagi Hana, wanita yang sangat dia cintai.


“Jika benar Bagas dia pasti kelimpungan sekarang.” Hana menggigit bibir bawahnya dan menganggukkan kepala. Ia sedang membayangkan betapa pusingnya Bagas sekarang jika benar pria itu yang meletakkan kamera mata-mat itu di bawah mejanya.

__ADS_1


***


Sementara itu, tepat seperti apa yang Hana pikirkan. Bagas yang masih belum tahu jika kamera tersembunyinya sudah ketahuan - sedang duduk manis di kursi kerjanya. Pria itu terdiam beberapa detik kemudian tersenyum. Ia buka aplikasi di laptopnya yang terhubung dengan kamera itu.


Namun, yang nampak hanya layar hitam dan tidak ada suara. Bagas pun mencoba membetulkan earphone yang terpasang di telinga sampai menggosok telinganya. Ia pun menelan saliva, tangannya gemetaran takut jika perbuatannya ketahuan.


“Semoga saja kamera itu rusak,” gumam Bagas. Ia pun keluar dan mencari Melly. Bagas bertanya apa staffnya itu bertemu dengan Hana tadi.


“Saya bertemu, bahkan dengan pak Kelana juga,” jawab Melly. “Tapi Pak, sepertinya Pak Kelana sedang dalam suasana hati yang tidak baik. Wajahnya masam.


_


_


Scroll ke bawah 👇

__ADS_1


 


__ADS_2