Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 52 : Pilih


__ADS_3

“Kamu pulang sana!”


Hana mendorong Kelana menjauh dari depan pintu apartemennya. Setelah bermalam bersama lagi dan tidak melakukan apa-apa selain elus dada, kini tiba saatnya mereka harus kembali ke rutinitas hidup seperti biasa.


Namun, Hana bersikeras tidak ingin tinggal di rumah Dinar, atau bahkan di apartemen milik Kelana.


“Apa kata orang yang melihatnya nanti? Kita baru dua hari menikah dan sudah pisah tempat tinggal? Apa kamu ingin melihat adik tirimu bersorak gembira?”


Hana kicep, kemarin setelah resepsi pernikahannya dan Kelana selesai, Bunga memang tak segan menunjukkan rasa irinya, bahkan Bunga berkata kalau pelet Hana sungguh ampuh hingga Kelana mau menikahinya, kalimat itu dikatakan Bunga saat berpamitan pulang, beruntung yang mendengar hanya Hana, Kelana dan suaminya si Bagas.


“Si Bunga bangkai benar-benar,” gerutu Hana. Ia pun membiarkan saja Kelana masuk ke apartemennya. Pria itu bahkan langsung menuju kamar dan merebahkan tubuh.


“Aku mau tidur, jadi jangan ganggu aku, kecuali kamu menginginkan sesuatu,” goda Kelana.


“Menginginkan sesuatu jidatmu.”


Hana kesal, meski begitu dia membiarkan saja tingkah suami sekaligus atasannya itu, dia menyadari harus bertahan dengan situasi seperti ini minimal sampai sebelas bulan dua puluh delapan hari ke depan.


Kelana tersenyum, dia memiringkan badan dan menyembunyikan tawanya. Ia sudah jatuh cinta, tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk menyatakan perasaannya. Kelana tidak ingin memberitahu Hana sekarang, dia takut jika wanita itu malah menertawainya karena tidak percaya dengan perasaan yang dia miliki. Bahkan untuk berjaga-jaga, Kelana dengan sengaja tidak memberitahu Hana, bahwa nenek gayung sudah memberikan sertifikat pabrik gula kepadanya. Kelana takut Hana akan meminta berpisah karena apa yang menjadi tujuannya sudah berada di genggaman.


***


“Hei … apa kamu tidak mau makan?”

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan tengah hari, tapi Kelana masih juga berbaring di atas ranjang, dia tertidur lelap di ranjang kamar Hana.


“Ah … istriku memang pengertian,” puji Kelana. Ia berhasil membuat bulu kuduk Hana berdiri karena merinding mendengar pujiannya.


“Kenapa kamu tiba-tiba seperti itu? apa kamu salah makan?” Hana terus mencibir, dia heran dengan perubahan sikap Kelana. “Jangan mencoba menjebakku! aku tidak akan pernah gede rasa,” gumamnya dalam hati.


Kelana duduk manis di depan meja, beberapa makanan sudah Hana masak, diantaranya cap cay dan beef teriyaki. Namun, Hana tidak mengambil piring untuknya sendiri, dia memilih memakan sebuah apel yang sudah dia potong menjadi ukuran yang lebih kecil.


“Kenapa kamu malah hanya makan apel? Jangan bilang makanan ini ada racunnya,” ucap Kelana yang hampir mengeluarkan kembali potongan daging yang sudah masuk ke dalam mulut.


“Hish …. Makan saja!”


Hana secepat kilat menutup mulut Kelana dengan jari telunjuk. Wanita itu mencebik kesal, sedangkan Kelana tertawa bahagia di dalam hati mendapat perlakuan seperti itu dari sang istri.


“Wah … kamu benar-benar kesambet sepertinya.” Hana geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan sikap Kelana. “Awas jatuh cinta sama aku!” imbuhnya.


“Memang sudah!”


UHUK


Hana mendelik, dia melempar Kelana dengan serbet yang berada di dekatnya. “Tidak usah mencoba membuatku keGR-an,” amuknya.


Kelana tertawa, hingga dia mengatakan sesuatu yang membuat Hana menautkan alis mata.

__ADS_1


“Oh … ya Rafli mengadakan pesta untuk kita.”


“Pesta apa lagi? sudah lelah aku dengan pesta kemarin, apa perlu ada pesta lainnya?” gerutu Hana.


“Sudah menjadi kebiasaan di keluarga. Kami, sesama sepupu akan saling membuatkan pesta sebagai hadiah, di saat salah satu di antara kami memiliki pencapaian, baik dalam pekerjaan, menikah dan sebagainya,” jawab Kelana memberi penjelasan.


“Buang-buang uang,” cicit Hana.


Salah satu sudut bibir Kelana pun tertarik, pria itu menikmati masakan Hana dan bahkan meminta sang istri untuk tinggal bersamanya mulai besok.


“Tidak mau!”


“Jangan jadi istri durhaka,” ujar Kelana sok paling benar. “Silahkan pilih! Tinggal di apartemenku atau di rumah mama.”


_


_


_


_


Hari ini aku mudik, menempuh 17 jam perjalanan dan 4 jam terjebak kemacetan, jadi up dikit biar ga bolong

__ADS_1


Harap maklum geng 😆


__ADS_2