Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 155 : Bandung Bondowoso


__ADS_3

Semua orang memilih bergembira hari itu. Setelah menikmati sarapan yang disediakan di hotel dan sesuai jadwal, mereka akan pergi ke sebuah bangunan peninggalan sejarah yang letaknya memakan waktu kurang lebih setengah jam dari hotel yang mereka tempati. Setelah dari sana mereka hanya butuh waktu kurang dari satu jam menuju obyek wisata yang digilai oleh para kaum pengabdi swafoto. Sebuah bukit di selatan candi itu yang amat terkenal karena pemandangan yang bisa dilihat dari sana.


Ya, Prambanan. Semua orang pasti sudah mendengar tentang kisah cinta epik dibalik terbangunnya candi yang berdiri di abad kesembilan masehi itu. Bahkan Hana juga pernah mendengar mitos dari temannya saat kuliah dulu, mitos itu menyebutkan bahwa pasangan yang belum resmi menjadi suami istri akan berpisah jika nekat datang berdua ke sana.


“Benarkah ada mitos seperti itu?” Dewi bertanya penuh antusias, dia melirik Alden yang sibuk dengan ponselnya. “Kalau jadian di sana, apa mungkin malah kebalikannya? Akan langgeng.” Gadis itu tertawa dan menyenggol lengan Afy yang duduk di sebelahnya.


“Entah aku juga tidak tahu, seperti yang aku dengar dan itu hanya mitos, sesuatu memang akan terjadi jika kita percayai,” jawab Hana.


“Jika ada pria seperti Bandung Bondowoso, apa kamu mau menikahinya Hunny?” tanya Kelana, dia duduk menyilangkan kaki dengan punggung bersandar pada kursi. Selain mendengarkan obrolan sang istri bersama anak buah Bagas, sejak tadi Kelana juga terus memperhatikan Hana dari balik kacamata hitam yang dia kenakan.


“Dalam konteks apa dulu? Aku tidak bisa menilai sifat pria itu hanya dari cerita, yang aku tahu dia mungkin bucin sampai menyetujui membuat seribu candi dalam waktu satu malam, kalau maksudmu menyamakan dia dengan pria kaya di zaman sekarang, bukankah saat ini aku sudah menikahi Bandung Bondowoso?”


Perkataan Hana membuat Kelana tergelak, pria itu membuang muka karena pipinya seketika memerah. Tatapan orang-orang yang ada di dalam bus itu juga berubah sedikit menggoda. Bahkan beberapa berani mengeluarkan kata ‘ciye’ untuk menggodanya dan Hana.

__ADS_1


Namun, tawa dan candaan semua orang sepertinya membuat Bunga tidak suka, dia memilih diam dan tidak ikut mengobrol, sedangkan Bagas, pria itu malah tertidur karena terlalu lelah menggempurnya lebih dari dua kali.


“Gila! apa yang dia makan sampai seperti ayam Thailand semalam,” gumam Bunga sambil melirik Bagas yang tidur pulas. “Dia memang tampan, tapi sayang sekarang pelit sekali padaku, awas kamu mas Bagas akan aku tukar tambah kamu dengan laki-laki yang lebih royal,” bisiknya.


“Aku bukan Bandung Bondowoso Hunny, jika kamu meminta seribu bangunan dalam satu malam, aku tidak mungkin bisa memenuhinya, mending kamu minta mentahan saja, itu lebih mudah karena aku hanya tinggal sekali …. “


Kelana menjeda kata, dia menatap Bunga dan membuat semua orang juga mengikuti arah tatapannya.


Sindiran dalam kalimat Kelana membuat sedikit gelak tawa dan menyebabkan muka masam Bunga terbit.


Kelana memang tak segan menunjukkan kebucinannya ke Hana di depan orang lain, sungguh dia membuat iri para gadis single yang sedang bersama mereka.


“Sesuai amal dan ibadah Pak, nyatanya aku tidak diganggu, kalau kalian bilang aku temannya setan, bukankah Hana juga tidak diganggu? Artinya hanya orang yang peka saja yang bisa merasakan adanya dunia lain di hotel itu,” cerocos Bunga membela diri.

__ADS_1


“Jadi maksudmu kita berdua tidak peka?” Hana sengaja bertanya lalu membubuhkan senyuman menghina di sudut bibir. “Kalau ada wanita yang mendekati pria lain padahal dia sudah memiliki istri, apa bisa dikatakan juga tidak peka?”


“Itu namanya tidak tahu malu.”


Semua orang kaget, bahkan Bunga sampai melebarkan manik mata, Bagas memiringkan kepala masih dengan memejamkan mata tapi bisa seolah merespon dengan tepat ucapan Hana.


“Astaga, dia ngelindur atau mendengar omongan kita?”


_


_


Scroll ke Bawah 👇

__ADS_1


__ADS_2