
“Kalau sampai bercerai, mama pasti tinggal dengan kita Mas Bagas.” Bunga kembali menegaskan ucapannya.
“Hah … apa, bukankah dia bisa kembali ke kampung?” Bagas menjadi amnesia, padahal dia tahu bahwa Tantri sudah menjual tanah dan rumah setelah menikah dengan Arman. “Bukankah dia bisa ikut anaknya yang lain?”
“Mas Bagas, aku itu anak tunggal.” Bunga semakin kesal, ingin dia getok kepala suaminya itu. “Mas nggak gegar otak gara-gara mabuk terus kepentok meja ‘kan?”
Bagas menggeleng, dia mengerjab lantas memberikan ide yang sangat luar biasa jahatnya ke Bunga. “Kita taruh saja dia di panti jompo.”
_
_
Sementara itu di kamar lain, Hana mencabut aliran listrik recorder yang dia isi daya sebelum sarapan tadi. Dengan semangat, Hana menunggu benda itu menyala. Meski takut, perlahan dia menggeser mencari folder di mana rekaman suara Bagas berada, ada dua dokumen di sana, pertama adalah rekaman yang diambil Kelana, dan yang kedua adalah rekaman yang tak sengaja merekam dia dan Kelana yang sedang hohohehe.
Hana tak bertanya ke sang suami, dia menganggap karena durasinya terlalu panjang maka dokumen rekaman suara itu terbagi dua secara otomatis. Ia pun memilih rekaman paling bawah dengan nama dokumen berisi tanggal, bulan dan tahun diikuti angka satu.
Kelana yang sedang berada di kamar mandi pun tidak tahu apa yang dilakukan istrinya, hingga saat keluar pria itu merasa sedikit sedih melihat Hana yang sedang menggenggam recorder itu.
__ADS_1
Hati siapa yang tidak hancur mendengar pengakuan keji macam itu. Hana selalu diambang dilema jika mengingat masa lalu. Di satu sisi dia berpikir ‘kenapa Bagas harus membunuh janin yang tak berdosa? Bukankah itu darah dagingnya?’
Namun, di sisi lain Hana juga kadang berpikir ‘Ini cara takdir menyelamatkanmu, anak itu akan sangat menderita jika terlahir ke dunia karena memiliki papa tukang selingkuh'.
Hana mematikan recorder dan semakin menggenggamnya erat, dia menunduk sedangkan Kelana yang berdiri tepat di depannya mencoba menenangkan dengan cara mendekap kepalanya.
“Aku akan memberikan rekaman itu ke pengacaraku, aku juga akan meminta saran darinya apa bisa bukti rekaman ini digunakan untuk menjerat Bagas.” Kelana mengungkapkan rencananya ke Hana.
“Kenapa ada orang yang sejahat itu? apa salahku?” Hana mencengkeram erat kemejanya yang berada di depan dada dengan sebelah tangan, rasanya sangat ngilu di sana. Bagas memang tidak bisa dimaafkan, tapi sejujurnya Hana hanya ingin pria itu bersujud di kakinya dan meminta maaf.
***
Liburan usai, mereka kembali pulang karena esok harus bekerja seperti biasa. Namun, aneh. Wajah semua orang nampak tidak bahagia. Bagas dan Bunga sedang pusing dengan kabar Tantri yang akan diceraikan Arman.
Dewi yang cerewet menjadi pendiam. Ia ternyata telibat cinta segitiga, Dewi baru saja menyatakan cinta pada Alden tapi ditolak karena pemuda itu ternyata menyukai Afy.
Sementara itu, Kelana dan Hana juga sama, mereka memikirkan bagaimana membuat Bagas membayar perbuatannya. Kelana tidak sabar untuk menemui pengacara dan mendiskusikan masalah ini.
__ADS_1
“Apa Hana tidak tahu kalau papanya mau bercerai?” Bagas bermonolog, dia terus menatap Hana yang duduk bersebelahan dengan Kelana, tapi tak lama dua orang itu berpindah ke kamar yang ada di dalam bus.
“Hana, apa papanya tidak memberitahu kabar rencana perceraian itu?” tanya Bagas ke Bunga karena terlalu penasaran.
Namun, belum juga Bunga menjawab Bagas sudah berucap lagi, “Entah apa pun itu, pokoknya kita harus membuat mereka rujuk, karena aku tidak mau menampung nenek sihir.”
_
_
_
Bersambung dulu geng 🥰
__ADS_1