
“Jika kamu sudah tahu kenapa masih terus berkeliaran di dekatku?”
Balasan dari Hana bagaikan tamparan tak kasat mata untuk Bagas. Ia akhirnya bisa membuat Hana menghentikan langkah kaki meski hatinya harus terasa sedikit sakit karena ucapan wanita itu yang dia rasa sangat kejam.
“Aku bertemu dengan Bunga tadi, apa kamu tahu apa yang dia ucapkan? Dia bilang ingin menjadi sekretaris Kelana, apa kamu mengirimnya untuk merebut Kelana dariku? Begitu?”
Bagas menoleh ke kanan dan kiri, dia merasa salah tingkah karena mereka berbicara masih di lobi. Pria itu takut jika ada orang yang mendengar dan bahkan merekam pembicaraan mereka.
“Han, kamu bercanda ‘kan mengatakan semua ini?” tanya Bagas.
Hana pun seperti tersadar bahwa dia tidak boleh membuat Bagas merasa diperdaya, akhirnya wanita itu memilih untuk tersenyum.
“Karena Kelana tidak masuk kita bisa makan siang bersama,” ucap Hana, setelahnya pergi meninggalkan Bagas dengan langkah kaki lebar.
_
_
__ADS_1
Sementara itu Kelana yang bangun mencari keberadaan sang istri, dia keluar dari kamar dan mendapati tudung saji di atas meja makan. Kelana mengusap keningnya untuk merasakan suhu tubuh. Entah kenapa pria itu merasa kecewa saat meraba dahi dan mendapati dirinya sudah tidak demam.
“Padahal aku ingin bermanja-manjaan dengannya, aku ingin menggunakan sakitku sebagai senjata, dia malah meninggalkanku pergi bekerja,” gerutu Kelana. Ia yang sudah membuka tudung saja mendapati kertas pesan yang ditinggalkan oleh sang istri tadi.
Kelana memilih duduk dan menyantap bubur yang disiapkan Hana, meski sudah dingin tapi rasanya masih enak. Ia tertawa, hatinya merasa bahagia karena memiliki pendamping yang begitu sangat perhatian. Meski baru beberapa jam tak bertemu, dia sudah merasa sangat rindu ke sang istri.
Kelana mempercepat makannya, dia berniat mengejutkan Hana dengan berangkat ke kantor. Lagi pula demamnya sudah reda. Kelana berharap semoga saja Hana sudah tidak marah karena dia pulang tak sesuai janji semalam.
_
_
“Bagaimana kalau dia berhenti bernapas? Bagaimana kalau dia pusing lalu jatuh di kamar mandi?”
Hana menggelengkan kepala, mencoba menepis pikiran buruk yang bersarang di dalam otaknya. Namun, meski dia terus mencoba tapi tetap saja tidak bisa untuk tidak mencemaskan sang suami. Hana akhirnya berdiri, dia sambar ponsel dan kunci mobil berniat untuk pulang, dia yang tak sabar bahkan menekan tombol lift berkali-kali, sampai pintu lift itu terbuka, Hana terbeku melihat sosok pria yang sedang dia khawatirkan berdiri sambil menunduk dan mengetuk-ngetukkan ujung sepatu ke lantai lift.
Kelana mendongak, dia pun kaget. Bibirnya reflek melengkung berharap kekesalan Hana kepadanya sudah hilang.
__ADS_1
“Hun … “
Tubuh Kelana mundur ke belakang karena Hana menubruk dan melingkarkan tangan ke pinggangnya. Pria itu sedikit heran, tapi ada rasa syukur di dalam hatinya karena tingkah Hana yang seperti ini rasa penasarannya pun terjawab. Sang istri berarti sudah tidak memendam amarah kepadanya.
“Kenapa kamu pergi ke kantor? Apa kamu sudah tidak demam?” tanya Hana. “Aku mencemaskanmu,” imbuhnya dan semakin memeluk erat tubuh Kelana.
“Aku sudah baik-baik saja, aku merindukanmu. Aku takut kamu masih marah, jadi setelah menyantap bubur buatanmu aku mandi dan berangkat ke sini,” jawab Kelana.
Hana pun mengurai pelukan, dia mendongak menatap wajah Kelana yang tersenyum lebar. Pria itu mengusap lembut pipi dan mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya.
Bukan, bukan sebuah. Karena ciuman itu semakin dalam dan semakin panas, Kelana bahkan membiarkan lift itu turun kembali dengan masih menyesap dan menguluum bagian atas dan bawah bibir Hana secara bergantian.
_
_
Scroll ke bawah 👇
__ADS_1