Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 99 : Tak Bisa Tidur


__ADS_3

“Hunny, aku keluar dulu! Aku janji tidak akan pulang lebih dari jam satu.”


Hana memilih tetap memejamkan mata, ingin merajuk menghalangi suaminya itu pergi pun dia ragu. Lebih tepatnya malu, dia tidak ingin Kelana berpikir dia terlalu bucin.


“Aku mencintaimu,” bisik Kelana. Ia mendaratkan sebuah kecupan di kening Hana, tapi istrinya itu hanya menggeliat saja.


Senyum Kelana pun terbit, dia benar-benar pergi meninggalkan Hana untuk menghadiri pesta bujang salah seorang temannya. Namun, lebih dari itu. Kelana ingin menanyakan sesuatu ke salah satu temannya yang seorang ahli IT. Penasaran juga dia dengan kamera yang ditemukannya tadi.


_


_


Sesampainya di tempat pesta temannya, Kelana tak menghiraukan sapaan teman lain yang berpapasan dengannya. Pria itu langsung menuju meja di mana temannya yang ahli IT berada. Ia mengeluarkan kamera kecil yang ditemukan di bawah meja kerja Hana untuk bisa memastikan apa kamera itu bisa menangkap gambar dan suara, atau salah satunya saja.

__ADS_1


“Cih … dari mana kamu mendapatkan kamera seperti ini? kamera jenis seperti ini bisa dihubungkan dengan sebuah aplikasi, kamu bisa melihat gambar bahkan suara.”


“Sial!” umpat Kelana, meski dia sudah mencari di internet tapi dengan penjelasan temannya ini dia semakin yakin tentang bagaimana cara kamera itu beroperasi. “Lalu, apa bisa kita tahu kamera ini terhubung dengan perangkat apa, di mana dan milik siapa?” tanyanya kemudian.


Teman Kelana malah mengernyit, dia meletakkan kamera itu ke atas meja dan memindai wajah Kelana dengan tatapan menyelidik. “Apa terjadi sesuatu? sebenarnya aku bisa membantumu. Sangat mudah mengecek dari mana aplikasi itu dioperasikan, tapi you know ‘kan?”


“Berapa yang kamu minta? Aku akan memberikannya,” jawab Kelana. “Yang penting aku mendapat bukti yang otentik mengenai siapa pemilik kamera ini.”


“Tapi aku tidak membawa laptop, aku akan membawa kamera ini dan mengabarimu nanti, Bagaimana?” tawar teman Kelana.


Kelana lebih memilih menenggak bir dengan kadar alkohol rendah dari pada minum wine atau cocktail. Ia ingin langsung pulang setelah menemui temannya yang ahli IT itu. Namun, beberapa temannya yang lain mendekat dan mengajaknya mengobrol, Kelana pada akhirnya mengurungkan niat. Ia pun sampai lupa waktu.


Berjanji untuk pulang sebelum jam satu, pada akhirnya Kelana pulang ke apartemen jam dua pagi. Hana yang tidak bisa terlelap dengan tenang semenjak sang suami keluar pun merengut. Hatinya dongkol, dia benar-benar sebal. Di dalam hati wanita itu sudah berjanji akan mendiamkan Kelana sampai pagi. Dan, saat pintu apartemen terdengar terbuka, Hana pun mulai melancarkan aksi. Ia membawa sebuah bantal dan keluar dari kamar.

__ADS_1


“Hunny,” sapa Kelana. Pria itu tersenyum, tapi senyumannya tak bertahan lama melihat wajah sang istri yang masam. Ditambah Hana memeluk sebuah bantal.


“Kenapa bangun?” tanya Kelana kemudian.


“Bangun?” Hana bertanya dengan nada sindirian. “Aku bahkan tidak bisa tidur karena ada yang berjanji pulang sebelum jam satu tapi ternyata baru kembali jam dua pagi,” ketusnya. Sejurus kemudian Hana lemparkan bantal yang berada di pelukannya ke arah Kelana. Suaminya itu dengan sigap menangkap.


“Hunny … kenapa?” Kelana kebingungan.


“Kenapa apanya, untuk suami yang omongannya tidak bisa dipercaya, kamu tidur di luar.”


_


_

__ADS_1


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2