Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 102 : Berbohong


__ADS_3

“Memangnya kenapa? apa ada yang ingin kamu sampaikan?” ketus Hana, dia pun memberi kode dengan matanya jika memang Bunga ingin berbicara dengannya.


Kedua wanita itu pun berjalan beriringan keluar. Meninggalkan Tantri dan Arman yang hanya bisa saling pandang.


“Mau apa mereka?” tanya Tantri keheranan, dia ingin mengikuti tapi tangannya dicekal oleh sang suami.


“Biarkan saja! tidak mungkin juga mereka akan cakar-cakaran,” ujar Arman.


_


_


“Katakan!” Perintah Hana saat dia dan Bunga sampai di teras rumah. Adik tirinya itu terlihat memasang muka malas, sebelas dua belas dengan ekspresi mukanya.


“Aku melamar bekerja sebagai sekretaris suamimu, aku dengar dari Mas Bagas kamu akan melakukan pemilihan sendiri, jadi sebaiknya kamu memilih aku,” ucap Bunga dengan penuh rasa percaya diri.


Hana pun tertawa. Ada dua makna di tawanya itu, pertama dia memang merasa geli dengan ucapan Bunga. Kedua, dugaannya sama sekali tak meleset bahwa Bagas pasti meminta istrinya untuk mencoba melamar posisi itu. Ia yakin sejak Bagas mencoret syarat yang diajukannya sendiri bahwa si pelamar tidak boleh memiliki hubungan kekeluargaan dengan Kelana.

__ADS_1


“Memilihmu dengan sukarela? Apa kamu mau aku menjalankan praktik nepotisme? Bunga, kalau kamu memang layak, kamu pasti akan dengan sendirinya mendapat posisi itu.”


Hana melipat tangan ke depan dada, dia maju beberapa langkah untuk menatap tajam mata adik tiri yang dulu pernah menghancurkan hidupnya. Adik tiri yang dia yakini dalang dibalik hilangnya nyawa calon anak yang bahkan belum bisa dia dengar detak jantungnya.


“Kenapa kamu sombong sekali? Apa karena kamu menikah dengan pria kaya? Percaya diri sekali kamu kalau Kelana tidak akan berpaling darimu,” oceh Bunga.


Ucapan wanita itu terdengar seperti ancaman di telinga Hana, seperti Bunga ingin melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya – merebut suaminya.


“Dia tidak akan berpaling dariku karena dia bukan Bagas, suamimu yang bahkan masih mengatakan bahwa dia mencintaiku.” Hana menyeringai jahat, dia berhasil membuat Bunga menelan saliva bahkan terhuyung sedikit ke belakang.


“Jika pun kamu bisa menjadi sekretaris suamiku, aku ingin melihat berapa lama kamu bertahan, Karena sebelum aku semua sekretrarisnya hanya bisa bertahan tak lebih dari tiga bulan."


“Kamu ingin menjadi palakor lagi? tidak aku biarkan kali ini, bukankah kamu sudah memiliki Bagas? Mantan yang memang pantas dibuang ke tempat sampah,” gumam Hana.


_


_

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Hana sampai di perusahaan, Satpam yang berada di depan pun kaget saat dia datang ke sana seorang diri tanpa Kelana.


“Pak Kelana sedikit tak enak badan, jadi aku memintanya tidak usah berangkat bekerja hari ini,” jawab Hana. Ia mau tak mau menghentikan langkah kaki dan mengobrol dengan satpam itu.


“Anda benar-benar penuh perhatian,” puji sang satpam. “Oh … ya Anda memang istrinya.”


Mereka tertawa bersama, tapi senyuman Hana seketika sirna saat suara yang sangat dia kenal menyapa. Ia menoleh dan benar saja Bagas sudah berada di dekatnya. Hana pun berpamitan ke satpam dan berjalan menjauh. Terang saja Bagas bingung dan memutar badan untuk mengejar wanita itu.


“Kenapa sendirian? Apa Pak Kelana tidak masuk?”


Bagas mencari tahu, dia berpikir bisa mengecek kamera yang dia pasang di bawah meja kerja Hana jika memang pemilik perusahaannya itu tidak masuk.


“Dia sedang sakit,” jawab Hana tanpa berniat menghentikan langkah kaki untuk berbincang dengan Bagas.


“Hana jika kamu seperti ini aku merasa kalau kamu sebenarnya hanya memanfaatkanku, kamu berbohong soal masih menyukaiku.”


_

__ADS_1


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2