
Dinar mencoba mempengaruhi Ayu habis-habisan. Meski sudah sedikit tenang tapi wanita itu tetap saja mendatangi ruang kerja Kelana. Ia disambut oleh Bunga yang sedang ongkang-ongkang kaki membaca komenan orang-orang tentang postingan surat perjanjian itu. Dengan akun bodong, Bunga juga ikut berkomentar tak kalah pedas.
Mendengar pintu lift terbuka, Bunga bergegas duduk dan melempar ponsel ke sisi kiri laptopnya. Ia fokus melihat layar dan berdiri saat tiga wanita yang dia tahu memiliki hubungan keluarga dengan Kelana itu mendekat.
“Kelana di ruangannya ‘kan? aku mau bertemu,” ucap Ayu tanpa basa-basi.
Meski bagi Bunga, Ayu tak lebih seperti nenek tua diktator yang garangnya minta ampun, tapi tetap saja dia takut saat melirik benda yang dibawa wanita itu.
“Apa yang akan dia lakukan? kenapa membawa tongkat seperti itu? jika bukan untuk alat bantu jalan, lalu untuk apa?” Bunga malah sibuk dengan pikirannya sendiri sampai Ayu membentak.
“Hei … jangan diam saja, meski aku tahu kamu mantan anak Pak Arman tapi tetap saja kamu di sini bawahan,” sembur Ayu.
Bibir Bunga kelu, rasanya tak sanggup baginya membalas kata-kata Ayu. Ia pun berkata bahwa Kelana tidak berangkat kerja hari itu, atasannya hanya berkata ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan. Dan dasar Bunga, dia dengan sengaja mengadu bahwa belakangan Kelana sering absen, dan banyak rekan bisnisnya yang protes.
__ADS_1
Dinar sebagai ibunda Kelana tentu tidak terima begitu saja, apa lagi dia sedikit banyak tahu siapa Bunga. Wanita itu pun menghardik dengan berkata bahwa tugas Bunga sebagai sekretaris salah satunya adalah mengingatkan Kelana dengan hal-hal semacam itu, mengatur jadwal putranya agar urusan pribadi dan pekerjaan tidak saling berbenturan, jika seperti itu saja Bunga tidak becus lalu untuk apa Kelana susah-susah menggajinya sebagai sekretaris.
Bunga kicep, dia tidak tahu bahwa sang atasan memiliki ibunda yang sangat cerdas. Dinar membujuk Ayu kembali, dia berjanji akan membawa sendiri Kelana dan Hana ke depan Ayu untuk mengkonfirmasi gosip itu.
“Selama putraku belum berkata sendiri bahwa perjanjian itu memang miliknya, semua tuduhan terhadap Kelana akan aku anggap sebagai cara dan siasat untuk menjatuhkannya.” Dinar berkata sambil menatap tajam Tata. Adiknya itu sedikit ketar-ketir karena logika berpikirnya.
“Haduh … bagaimana kalau sampai Dinar tahu aku menaruh mata-mata di rumahnya?”
_
_
Kelana mengusap perut Hana yang masih datar, dia berkali-kali bertanya apakah tumbukannya tadi mengganggu bayinya? Dia takut calon buah hati mereka terkejut melihat rudal.
__ADS_1
Gelegar tawa Hana memecah kesunyian ruangan, dia geli dengan pertanyaan Kelana yang dia tahu hanya iseng, suaminya itu memang selalu punya cara untuk membuat hatinya senang. Hana menyisir lagi setiap sudut kamar itu dari tempatnya berbaring, dia masih bingung memikirkan kapan Kelana mulai membeli, merenovasi bahkan mengatur semua interior di dalamnya.
“Anggap saja aku Bandung Bondowosomu,” ucap Kelana jemawa. Sejak tadi matanya diam-diam tertuju pada ponselnya dan Hana yang ada di atas meja pajangan. Dua benda pipih itu sengaja mereka jauhkan dan dibuat mode diam. Kelana pun bangun hingga Hana menoleh bingung kenapa suaminya itu beranjak.
“Sejak tadi ponsel kita sibuk Hunny, aku yakin orang-orang yang ingin mengganggu kita pasti kecewa dan kesal saat ini.” Kelana tertawa, dia tidak tahu bahwa orang-orang itu menghubunginya bukan untuk mengganggu, tapi ingin bertanya kebenaran soal gosip surat perjanjian itu.
_
_
_
Scroll ke bawah 👇
__ADS_1