
Kelana menyusuri koridor ruangan staff dengan penuh percaya diri, dia membalas setiap sapaan bawahannya dengan anggukan kepala. Jika dulu dia hanya diam saja seperti kulkas dua pintu saat bertemu orang lain, sekarang Kelana lebih ramah dan mau membalas sapaan setiap orang. Salah satu perubahan baik yang Hana bawa ke dalam hidupnya.
Kelana tersenyum sendiri saat memikirkan istrinya itu, sampai dia kembali duduk di kursi empuknya. dan memilih melakukan panggilan video dengan sang belahan jiwa.
“Hunny!” sapanya. Sedangkan Hana seperti menyembunyikan sesuatu saat panggilan itu tersambung.
“Hei sayang, ada apa?”
Hana seolah tidak senang Kelana meneleponnya sekarang, tapi bukan tanpa alasan, ini karena Dinar berada tak jauh darinya, mertuanya itu sudah meledeknya habis-habisan perihal sofa berwarna marun di sudut kamar yang sangat anuable.
“Kenapa? kamu sepertinya tidak senang aku menghubungi,” kata Kelana heran.
“Bu … “
“Hei … anak Ekuador.” Dinar menyambar ponsel di tangan Hana tanpa permisi, dan inilah yang Hana takutkan.
Sementara itu di seberang sana , Kelana terkejut melihat penampakan wanita yang melahirkannya secara tiba-tiba. Keningnya terlipat halus bersamaan dengan pertanyaan apa yang membuat Dinar segirang itu.
“Di mana kamu membeli sofa mesum seperti itu, Ha? apa di tokopakedi?” Dinar sangat penasaran, padahal jika Kelana memberitahu pun belum tentu dia akan membeli. Ya, untuk apa? memiliki suami dan berniat menikah lagi saja tidak.
__ADS_1
“Kenapa? Mama mau? memang Mama punya kekasih?” tanya Kelana menggoda. Namun, tak disangka Dinar menjawab pertanyaan putranya tanpa berpikir dulu. Hana yang mendengar sampai dibuat syok. Wanita itu berkata-
“Untuk dihadiahkan ke Pak Arman dan Nenekmu.”
“Apa?” Kelana melotot, dia lantas tertawa terbahak-bahak. Membayangkan dua sejoli yang sudah tua bangka itu membuat perutnya terasa seperti digelitiki. “Astaga Mama, jangan sembarangan kalau ngomong!”
“Iya, Mama ih.” Hana terdengar ikut menggerutu, tapi Dinar tak tinggal diam dan menyampaikan pembelaannya.
“Mereka dekat tahu, bahkan sering berbalas pesan dan berkomunikasi lewat telepon.”
“Mungkin hanya berteman Mama, lagi pula kursi itu tidak cocok digunakan untuk para jompo dan jomlo.” Kelana masih tertawa, dia melihat dari layar Hana sudah bersungut-sungut dan akhirnya tertawa saat Dinar mengembalikan ponsel Kelana kembali.
Hana pun menjauh dari Dinar, dia berjalan menuju balkon dan bertanya ke Kelana bagaimana soal Bagas. Ia terlalu penasaran sampai tak sabar menunggu suaminya pulang.
“Ke-ke-kejutan? Kejutan apa yang kamu buat?” Hana sampai terbata-bata, dia tak bisa menerka apa yang akan dilakukan Kelana.
“Ah … untuk itu aku harus menutup panggilan video call kita dulu, aku harus menghubungi Bunga.”
Hana mengangguk, dia melambaikan tangan ke layar dan membiarkan Kelana mengakhiri panggilan mereka. Wanita itu menggenggam erat ponsel dan menatap jauh ke sembarang arah, tak Hana sadari seorang wanita yang usianya sedikit jauh lebih tua dari Dinar sedang mengintainya di balik tirai jendela.
__ADS_1
_
_
“Apa Pak?” Bunga kaget mendapat telepon dari Kelana, dia yang sudah berkendara lebih dari setengah jam dibuat geram oleh sikap atasannya itu.
“Orang yang harus kamu temui ternyata tidak ada ke tempat, dia ada rapat di Sky Hotel. jadi pergi ke sana dan temui dia,” jawab Kelana dengan entengnya. “Apa kamu mau membantah?”
“Ti-ti-tidak Pak.” Bunga menggeleng tak percaya, meski begitu dia tetap memutar mobilnya untuk melakukan apa yang Kelana minta, sampai saat berhenti di lampu merah, benda pipih di dashboard mobilnya berbunyi nyaring. Bunga heran karena kali ini Bagas yang menelepon.
“Ada apa?”
“Siapapun yang pak Kelana minta untuk kamu temui, jangan temui! Percaya padaku! Aku sedang menyelamatkanmu.”
_
_
_
__ADS_1
Bab lain malam ya
Ciyeee Bagas nyelametin istrinya 🤭 yakin?